https://nuansaislam.com/Tarian Sufistik Mengalun di Antara Agama

Sesungguhnya problem relasi antar-agama sering tenggelam di balik kisruh relasi intra-agama di Indonesia. Khusus dalam tubuh umat Islam, wacana tentang Khilafah Islamiyah, Ahmadiyah, Syiah, komunisme, aliran sempalan, politik identitas, hingga ucapan Selamat Natal dan sebagainya lebih menguras energi sesama umat Islam sendiri daripada relasi antar-agama.

“Sisi positif” dari kenyataan di atas adalah umat Islam sudah kehabisan sebagian besar energi untuk “mencari lawan” di luar agama Islam. Memang dalam beberapa kasus masih muncul letupan-letupan kecil namun panas relasi antar-agama yang dipicu oleh beberapa mualaf atau dai-dai yang mencoba mengutak-atik sistem teologi agama lain atau agama masa lalunya. Biasanya yang menjadi sasaran adalah agama Kristen. Hal itu wajar karena Kristen adalah agama yang jumlahnya cukup menandingi Islam di Indonesia. Tidak terbayangkan jika jumlah umat Islam dan umat Kristen agak berimbang, maka barangkali yang terjadi bukan hanya letupan tetapi ledakan.

Nada dua paragraf di atas mengesankan keyakinan sebagai sumber letupan dan ledakan yang mengganggu harmoni di dalam masyarakat. Kesan itu tentu ada benarnya. Kini, tidak cukup lagi dikatakan bahwa penganut keyakinan itulah yang berselisih, bukan sistem keyakinannya karena keyakinan itu sendiri baik-baik saja. Pasti ada peran sistem keyakinan yang membuat setiap keyakinan selalu menyimpan potensi untuk mengganggu keyakinan yang berbeda, baik keyakinan berbeda di dalam agama yang sama maupun keyakinan berbeda di dalam agama yang berbeda.

Hampir pasti tidak ada penganut agama yang rela keyakinannya disebut sebagai sumber letupan pengganggu harmoni masyarakat. Namun moralitas agama yang selalu mengedepankan dosa-suci, neraka-surga, sesat-terpetunjuk, hukuman-imbalan, dan sebagainya yang mana setiap agama memiliki ukuran berbeda (bahkan kontradiktif) untuk semua itu jelas akan selalu menempatkan para penganut agama sendiri sebagai suci, surga, terpetunjuk, berpahala, dan para penganut agama lain sebagai dosa, neraka, sesat, dan layak mendapatkan hukuman.

Islam mempunyai tiga aspek, yaitu Îmân, Islâm, Ihsân. Îmân adalah wilayah sesat-terpetunjuk, sedangkan Islâm adalah wilayah dosa-suci. Tersisalah Ihsân yang tidak seperti Îmân dan Islâm karena tidak terlalu dalam memandang segala secara hitam-putih. Pada Ihsân, relasi Tuhan-hamba bukan relasi struktural majikan-sahaya, tetapi lebih kepada pengasih-terkasih. Ihsân seperti berontak terhadap relasi transaksional majikan-sahaya yang ada pada Îmân dan Islâm yang melahirkan rasa takut dan Ihsân lebih menekankan pada relasi pengasih-terkasih yang melahirkan rasa rindu.

Yang membedakan antara Ihsân di satu sisi dengan Îmân dan Islâm di sisi yang lain adalah Îmân dan Islâm lebih bersifat doktriner hingga bisa membentuk identitas keanggotaan komunitas yang eksklusif. Sedangkan Ihsân kurang bersifat doktriner sehingga meninggalkan ego personal atau kelompok dan lebih mengarah kepada perkawanan universal. Îmân dan Islâm memungkinkan penganut agama untuk bersikap sebagai pusat semesta, sedangkan Ihsân menjadikan pusat semesta hanyalah Tuhan dan seluruh makhluk hanyalah para perindu dengan segala kekurangannya. Dan Tuhan sebagai pusat semesta adalah Tuhan yang memahami segala, memaklumi segala, dan merangkul segala, bukan mengekslusinya.

Upaya merangkul segala yang terasa cukup kuat di dalam Ihsân barangkali bisa menjadi solusi bagi keberagamaan yang menghakimi lalu mendiskriminasi lalu menindas. Ihsân memiliki kekuatan untuk memahami lalu memaklumi lalu merangkul segala perbedaan karena perbedaan sesungguhyna hanyalah penampakan buram dari yang sesungguhnya Satu.

Barangkali Ihsân bisa membangunkan kembali elan vital primordial agama-agama yang pada dasarnya adalah upaya pembebasan manusia dari perbudakan oleh manusia lain, termasuk perbudakan atas nama kebenaran dan kesucian sektoral. Perbudakan atas nama kebenaran dan kesucian sama dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusat semesta dan yang lain sebagai pinggiran. Itu berarti menantang Tuhan sebagai pusat semesta yang sesungguhnya.

Juga pada dasarnya agama adalah upaya pembelaan terhadap siapapun yang lemah, termasuk di dalamnya lemah karena jumlah yang sedikit dan lemah karena berbeda dalam keyakinan. Kombinasi antara perbedaan dengan jumlah yang sedikit selalu menjadi problem di mana-mana. Kadang jumlah sedikit yang merasa berbeda melakukan pemberontakan untuk mendobrak dominasi mayoritas atas nama keyakinan dan kadang pula yang jumlah banyak dan merasa berbeda menghegemoni mereka yang berbeda dan berjumlah sedikit juga atas nama keyakinan.

Ihsân bisa melakukan pembelaan dan pembebasan karena Ihsân sesungguhnya lebih merupakan spiritualitas daripada agama. Agama dianggap sebagai sesuatu yang telah selesai dan final karena agama adalah semacam penemuan yang terbakukan dan terekam di dalam kitab-kitab suci dan ujaran-ujaran para pembawa agama, sedangkan spiritualitas lebih merupakan proses terus-menerus dan lebih merupakan pencarian daripada penemuan.

Jika beragama berarti melakukan kontak dengan kitab suci, maka berspiritualitas berarti melakukan kontak dengan Tuhan. Kitab suci adalah hal yang sudah selesai dan membeku di dalam sejarah, sedangkan Tuhan adalah zat yang hidup selamanya serta melampaui sejarah, hidup lebih lama dari manusia sehingga senantiasa menebarkan inspirasi bagi siapapun yang hendak mencari-Nya.

Tidak ada maksud tulisan ini untuk mengajak meninggalkan agama dan lebih memilih spiritualitas karena agama sendirilah yang mengantarkan tulisan ini sampai kepada pemahaman di atas. Tulisan ini hanya hendak menekankan bahwa Ihsân tidak berhenti pada Îmân dan Islâm karena apa yang disebut Îmân dan Islâm itu sesungguhnya juga adalah hasil perjalanan spiritual pembawanya.[]

(Artikel ini pernah dimuat di Akurat.co)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut