https://nuansaislam.com/Menimbang Qiraa’ah Mubadalah untuk Kesetaraan Gender

Isu kesetaraan (dan juga ketidaksetaraan) antara perempuan dan laki-laki adalah barang yang sudah ada sejak manusia pertama kali ada. Karena itu, para pejuang kesetaraan dan yang membiarkan ketidaksetaraan apa adanya sudah berebut makna sejak kisah manusia pertama, Adam dan Hawa. Apakah Hawa adalah pelayan dan pelengkap bagi Adam? Apakah Hawa terlahir dari tulang rusuk Adam yang hilang satu? Pertanyaan itu bisa diperpanjang deratannya dan jawabannya akan berbeda jika dikaitkan dengan isu kesetaraan gender.

Para pejuang kesetaraan gender disebut “pejuang” karena ketidaksetaraan gender adalah kenyataan yang dianut hingga di bawah sadar sebagian besar masyarakat di segala belahan dunia sejak dahulu hingg sekarang. Tidak dibutuhkan pejuang ketidaksetaraan gender karena dominasinya yang sudah hegemonik. Ketidaksetaraan sudah dianggap kewajaran dan para pejuang kesetaraan gender memperjuangkan paling tidak agar disadari bahwa itu tidak wajar.

Para pejuang kesetaraan gender pun tidak satu suara meski sama-sama memahami bahwa ada yang tidak wajar dalam relasi gender. Bagi yang memahami bahwa secara ensensial perempuan tidak berbeda dengan laki-laki dan perbedaan adalah konstruksi sosial-budaya, maka rekonstruksi budaya berbeda dianggap membuka kemungkinan kesetaraan. Target perjuangan kesetaraan model ini adalah mengembalikan ketidakberbedaan antara perempuan dan laki-laki pada tingkat yang benar-benar sama, tanpa kelas sosial dan tanpa strata.

Ada pula pejuang kesetaraan gender yang memahami adanya perbedaan esensial dan kodrati yang membedakan perempuan dengan laki-laki yang berimplikasi pada peran dan tugas keduanya. Tentu saja tidak semua peran dan tugas berbeda, tetapi ada yang tidak mungkin sama hingga harus berbeda meski tetap dalam bingkai perjuangan kesetaraan.

Tembok-tembok tebal yang selalu menjadi batu sandungan bagi perjuangan kesetaraan gender berasal dari budaya dan agama. Bisa saja sebuah masyarakat sudah menerima secara kognitif bahwa bukan masalah dalam sebuah keluarga jika yang menjadi pencari nafkah adalah istri dan suami yang mengurus rumah tangga, tetapi budaya belum tentu mampu menerimanya hingga tetap saja keluarga tersebut menjadi pergunjingan di lingkungannya. Itu bentuk sandungan budaya.

Tembok yang jauh lebih kuat dari budaya adalah agama. Disebut lebih kuat dari agama karena: 1) mayoritas agama terlahir kala ketidaksetaraan gender masih dianggap kewajaran. Kita tahu bahwa gerakan perempuan adalah produk sekitar abad ke-18, kala agama-agama sudah mapan dalam pemahaman; dan 2) agama melahirkan budaya sedangkan budaya saja begitu sulit untuk berubah apalagi budaya yang berlandaskan agama karena adanya nilai sakral dalam budaya yang disebut terakhir itu.

Sepertinya ide Qiraa’ah Mubaadalah menyadari dengan baik tembok-tembok itu dan memilih untuk mencoba meruntuhkan tembok pemahaman agama dengan harapan agar budaya yang terlahir dari pemahaman agama itu pun sudah terfilter dengan paham kesetaraan gender. Dengan demikian, Qiraa’ah Mubaadalah paling tidak berlandaskan kepada beberapa asumsi dasar: 1) pemahaman keagamaan membentuk budaya; 2) agama berdasar pada teks suci yang tidak mungkin berubah dan yang mungkin berubah adalah pemahaman terhadap teks suci; 3) pemahaman keagamaan bisa berubah jika ada cara baca (qiraa’ah) berbeda terhadap teks suci; dan 4) pesan-pesan teks suci sesungguhnya adalah pesan-pesan kesetaraan yang menjadi teks ketidaksetaraan akibat cara baca dan konstruk kitab suci yang memang lahir di sebuah sejarah ketidaksetaraan.

Penyebutan kata qiraa’ah pada ide Qiraa’ah Mubaadalah menunjukkan ide ini tidak hendak merekonstruksi teks suci, tetapi hanya merekonstruksi cara baca terhadap teks suci. Pada titik ini, tidak ada yang kontroversial pada ide Qiraa’ah Mubaadalah kecuali karena dia berhadapan dengan cara baca-cara baca sebelumnya yang sudah dianggap mapan dan membudaya bahkan hingga dianggap sakral. Karena itu, Qiraa’ah Mubaadalah tidak hanya berhadapan dengan budaya ketidaksetaraan tetapi juga berhadapan dengan cara baca-cara baca (qiraa’ah) yang memproduksi dan mereproduksi pemahaman dan budaya ketidaksetaraan tersebut.

Dalam ide Qiraa’ah Mubaadalah ini, ada kelompok kata yang sering muncul, khususnya dalam buku Qiraa’ah Mubaadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam, karya Faqihuddin Abdul Kodir (2019). Kelompok kata itu adalah: resiprokal, kemitraan, kerja sama, kesalingan, kemaslahatan, tolong-menolong, dan seterusnya. Lalu ada kelompok kata yang lain seperti keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, pemihakan perempuan, subjek setara, dan seterusnya.

Kedua kelompok kata di atas menggambarkan posisi ide Qiraa’ah Mubaadalah dalam perjuangan kesetaraan gender yang, ternyata, mengakui adanya perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan yang berimplikasi pada perbedaan tugas dan peran, meski tidak dalam semua hal. Semua itu tergambar pada kelompok kata pertama di atas. Implikasinya bisa saja adalah, demi kemaslahatan, demi kemitraan, dan demi tolong-menolong, ketidaksetaraan “bukan barang haram”. Terasa ada ruang-ruang kompromi di sana.

Kelompok kata yang kedua lebih menampakkan “keseriusan” upaya kesetaraan gender daripada yang kelompok kata yang pertama. Tidak ada ruang kompromi di sana karena prinsipnya adalah keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, dan lain-lain. Barangkali itu adalah semacam jalan tengah dan itu penting.

Kekuatan ide Qiraa’ah Mubaadalah adalah eksploitasinya langsung kepada teks-teks suci sehingga benar-benar bisa menjadi alternatif cara baca yang selama ini ada. Ini berbeda dari upaya kesetaraan gender yang hanya fokus pada isu kesetaraan dan prinsip-prinsipnya tetapi miskin argumen ketika diperhadapkan dengan teks-teks suci itu sendiri.[]

(Artikel ini telah terbit di Akurat.co)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut