https://nuansaislam.com/Fenomena Mimpi Seorang Nabi

Ibadah Qurban merupakan ibadah yang syariatnya berawal dari hadirnya mimpi dalam tidurnya seorang nabi, yaitu Nabi Ibrahim a.s. Mimpi tersebut menjadi landasan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah yang diyakininya sebagai "wahyu" dari Allah untuk mengorbankan putera kesayangannya. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana Nabi Ibrahim pada saat terbangun dari tidurnya dapat meyakini sepenuhnya bahwa mimpi tersebut merupakan perintah Allah Swt. yang harus dilaksanakan? Bagaimana pula ia yakin bahwa mimpi tersebut bukanlah sensasi belaka yang hadir saat ia tak sadarkan diri dalam tidurnya?

Sepanjang sejarah hidup manusia, telah banyak upaya, pemikiran, dan teori untuk menganalisis atau menafsirkan mimpi. Mimpi pada kenyataannya masih merupakan misteri bagi para ahli psikologi maupun para dokter. Ia tak mampu terkuak bahkan lewat laboratorium canggih sekalipun.  Oleh karena ia merupakan fenomena tidak biasa, ia tidak dapat dipikirkan dengan pemikiran yang biasa pula. Tak sembarang orang mampu menafsirkan ataupun menakwilkan mimpi. Bahkan, sang pemimpinya pun kadang tak mampu mengingat apa yang telah dimimpikannya dengan jelas.

Berbicara mengenai mimpi, Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah mengatakan: “ Jika zaman semakin dekat (kiamat), nyaris tidak ada mimpi seorang muslim yang mengandung dusta. Mimpi yang paling benar di antara kalian adalah yang paling benar (jujur) ucapannya. Mimpi seorang muslim merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian. Ada tiga macam mimpi: mimpi yang benar (al-ru’ya al-shaalihah) yang berasal dari Allah; mimpi buruk yang berasal dari setan, dan mimpi yang menggambarkan diri sendiri. Jika kalian bermimpi buruk, bangunlah, lalu dirikanlah shalat-dalam sebuah Riwayat,”meludahlah”-dan jangan membicarakannya kepada orang lain.” (H.R. Muslim)

Mengenai mimpi yang benar (al-ru’ya al-shaalihah) yang disebutkan Rasulullah saw., Dr. Abdul Basith Muhammad al-Sayyid mengatakan bahwa mimpi seperti itu berasal dari Allah swt. Pada saat seseorang tidur, sistem resepsi (penerimaan) setiap orang berbeda-beda satu sama lain. Masing-masing mendapatkan pengalaman atau sensasi tertentu baik berupa perintah, wahyu, ataupun perkara lainnya selama ia tidur. Kendati panca indra dan perangkat indriawi lainnya tidak bekerja seperti halnya pada saat terjaga, namun ada perangkat tertentu yang bekerja aktif ketika seseorang tertidur. Ia menerima segala sesuatu yang tidak dirasakan oleh perangkat indriawi untuk kemudian direkam dalam ingatannya. Sehingga, apa yang dirasakannya itu tetap diingat saat ia bangun tidur.

Dari sini dapat kita pahami bagaimana Nabi Ibrahim a.s.  mengalami dan menyikapi mimpinya. Mimpi Nabi Ibrahim merupakan perintah dari Allah yang diterima oleh sistem resepsinya ketika ia tidur sehingga ia mengingat perintah itu sampai ia terbangun dari tidurnya. Meski sempat ragu, apakah mimpi tersebut benar datang dari Allah atau bukan, hingga berulang memimpikan hal yang sama kembali,  ia pun berkata kepada Ismail a.s., anaknya, “ Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, bagaimanakah pendapatmu?” (Q.S. Al-Shaffaat:102)

Sikap kehati-hatian yang diambil oleh Nabi Ibrahim tersebut dilakukan sambil memantapkan hatinya, mengingat ini merupakan perintah yang sangat berat dirasakan baginya. Meskipun kita tahu bahwa mimpi seorang nabi adalah benar.

Dalam sebuah hadits , dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa :  رؤيا الأنبياء وحي

Mimpi seorang Nabi merupakan salah satu bentuk wahyu dari Allah SWT.

Selain Nabi Ibrahim yang mengalami mimpi al-ru’ya al-shaalihah berstatus wahyu, Nabi Muhammad saw. pun pernah beberapa kali mendapatkan wahyu lewat mimpinya. Bahkan, Nabi Yusuf di usia belianya sudah mendapatkan mimpi yang merupakan anugerah dari Allah sebagai tanda kelak akan menjadikan dirinya sebagai pembesar, bahkan sebagai nabi di kemudian hari.

Sebagai seorang manusia biasa, seorang mukmin dengan predikat sholeh bisa saja dianugerahi mimpi benar (al-ru’ya al-shaalihah) dari Allah. Namun mimpinya tersebut tentu saja tingkatannya tidak sampai disebut wahyu, yang bisa membuatnya memperoleh tanda kenabian dan menjadi nabi.

Rasulullah saw. Pernah bersabda dalam Riwayat dari Abi Hurairah:

“Tidak ada lagi kenabian setelahku. (Setelahku) yang ada hanyalah orang yang mendapat kabar baik (al-mubasysyiraat).“ Para sahabat bertanya, “Apakah al-mubasysyiraat itu?” Rasulullah saw. Menjawab, “Mimpi yang benar (al-ru’ya al-shaalihah). (H.R. Bukhari)

Oleh karena itu, jika ditemukan pada zaman sekarang ini seorang yang mengaku nabi karena mendapat tanda kenabian dengan sebab mimpi yang ia alami, maka bisa dipastikan bahwa ia sedang berperan palsu dengan khayalannya.

 

Sumber Pustaka:

Mukhtashar al Bidayah wa an Nihayah/ Ibnu Katsir; penerjemah, Asmuni-- Jakarta: Pustaka Azzam, 2008

Fushul fi Thibb al-Rasul/ Jamal Muhammad Elzaky; penerjemah, Dedi Slamet Riyadi—Jakarta: Penerbit Zaman, 2011

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut