https://nuansaislam.com/Mushibah

Mushibah dalam bahasa arab berasal dari kata shaba-yashubu-shauban, yang mengandung arti sebagai berikut: turun, mengalirkan, membidikkan, merendahkan dan menimpa.[1] sedangkan kata mushibah secara bahasa mengandung arti perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia,[2] secara istilah mushibah mengandung makna diantaranya apa-apa yang tidak sesuai tabiat seperti kematian,[3] Al-Munawi berkata: mushibah adalah nama untuk segala sesuatu yang buruk untuk manusia.[4] dan Al-Kalbi berkata: mushibah adalah apa-apa yang menimpa manusia berupa keburukan.[5]

Kata mushibah dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 75 kali, ini menunjukkan pentingnya memahami makna dari mushibah dalam kehidupan. Barang siapa memahaminya dengan benar maka akan benar pula cara mensikapinya dan akan mendapatkan solusi dari setiap mushibah yang menimpanya.

Macam-macam mushibah

Pertama, Mushibah secara umum yang menimpa manusia dan bumi, seperti bencana yang datang dan menimbulkan kehancuran pada bumi seperti rusaknya pertanian, perkebunan juga rusaknya keturunan manusia dengan kematian dari akibat musibah tersebut. Contoh mushibah ini adalah seperti banjir yang menimpa kaum nabi Nuh as, sebagaimana firman Allah swt,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ» (العنكبوت، 29 / 14).

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ankabut[29]: 14)

Kedua, mushibah secara umum yang menimpa manusia saja, contohnya apa yang menimpa kaum nabi Syu’aib as, yang tidak mau mengikuti ajakan dakwah nabi Syu’aib as, sebagaimana firman Allah swt,

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ. كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ» (هود، 11 / 94-95)

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.(QS. Hud[11]: 94-95)

Ketiga, mushibah khusus yang menimpa setiap manusia, mushibah ini menimpa dengan sebab yang berbeda-beda, barang siapa yang ditimpa mushibahnya karena kekufurannya maka mushibah tersebut adalah azab dari Allah swt, sebagaimana mushibah yang menimpa Qarun,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ» (القصص، 28 / 81)

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).(QS. Al-Qoshosh[28]: 81)

Mushibah juga terjadi bukan sebagai azab, akan tetapi sebagai ujian kesabaran, pembuka tabir sebab dari terjadinya, mushibah juga bisa sebagai pencegah hal kejadian lainnya, mushibah semacam ini khususnya yang menimpa perorangan, dan itu telah menjadi ketetapan dari Allah swt, sebagaimana firman Allah swt,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ» (الحديد، 57 / 22)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. Al-Hadid[57]: 22)

Sikap seorang muslim terhadap mushibah

Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah swt, ketika ditimpa mushibah, maka hendaknya menerima dengan ridho, bersabar, dan berihtiar mencari solusi untuk kembali bangkit dari keterpurukan, jangan pula terlalu bersedih tetapi harus yakin karena Allah swt akan mengangkat derajatnya, sebagaimana firman Allah swt,

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ» (آل عمران، 3 / 139)

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.(QS. Ali-Imran[3]: 139)

Kesabaran seorang mukmin ketika ditimpa mushibah, akan mendapatkan berita gembira dari Allah swt, sebagaimana firman Allah swt,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ» (البقرة، 2 / 155)

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS. Al-Baqarah[2]: 155)

Diantara berita gembira dari Allah swt bagi orang yang bersabar terhadap mushibah yang menimpanya adalah Allah swt akan memberikan pahala yang melimpah kepadanya, sebagaimana firman Allah swt,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS. Az-Zumar[39]: 10)

Demikian tulisan singkat seputar makna mushibah dan bagaimana mensikapinya, semoga kita senantiasa diberikan kesabaran terhadap mushibah yang menimpa kita, dan mendapat pahala yang melimpah dan tak terbatas dari Allah swt. Aamiin

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir
  2. Al-Mubarok bin Muhammad Al-Jazari Ibnul Atsir, An-Nihayah Fi Gharibil hadis wal Atsar
  3. Aj-Jurjani, At-Ta’rifat, 1/278
  4. Al-Munawi, At-Ta’arif, 1/660
  5. Ismail Basya Al-Baghdadi, Idhohul maknun fi Dzil ala kasyfi Adhunun,3/288

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut