https://nuansaislam.com/Habit Forming: Pembiasaan Anak  yang Penting pada Usia Dini

Hadirnya seorang ‘anak ideal’ yang menjadi dambaan orang tua tidaklah muncul begitu saja. Kesuksesan tidak turun seketika dari langit. Kesholehan tidak serta merta diwariskan dari orang tua sejak sang anak lahir. Tentu ada usaha untuk menghadirkan dua hal itu. Karena, setiap orang tua tentu mendambakan  seorang anak dengan kepribadian yang sholeh sekaligus sukses dalam kehidupannya. Anak merupakan buah hati  yang pada dirinya tertumpu harapan dan impian dari orang tua. Paling tidak, orang tua seharusnya sudah mempersiapkan ilmu dalam mendidik anak sejak merencanakan kehadirannya.

Metode pembiasaan atau habit forming menjadi salah satu usaha yang bisa dilakukan orang tua dalam rangka membentuk karakter dan perilaku anak yang baik. Pembiasaaan  penting dilakukan sedini mungkin pada tahap perkembangannya. Tentu ini sangatlah tidak mudah. Terlebih lagi di era gadget (gawai) dan media lainnya yang menjadi tantangan terberat saat ini dalam pola pengasuhan anak.

Dengan mencoba menerapkan pola pembiasaan yang baik kepada anak sejak dini, diharapkan mengurangi pemakluman orang tua yang membiarkan perilaku anak yang tidak baik sambil bergumam “namanya juga anak-anak…”.  Hal ini karena anak akan tumbuh berkembang dengan kebiasaan yang menyertainya sejak kecil jika tidak disertai dengan upaya mengubah perilaku buruk menjadi lebih baik.

Pembiasaan yang Harus Ditanam Sejak Dini

Ibnu Mas’ud , salah seorang sahabat terbaik nabi yang bergelar Faqihu Hadzihil Ummah, pernah memberikan nasihat “Biasakanlah mereka (anak-anak) melakukan kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu adalah kebiasaan.”

  • Penanaman Akidah

Akidah merupakan hal yang tidak mudah dijelaskan kepada anak karena sifatnya yang gaib. Akidah Islam yang meliputi iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir, adalah sesuatu yang sulit dijelaskan agar anak bisa memahaminya karena merupakan hal gaib yang tidak bisa di-indrakan dengan sederhana.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, menawarkan metode penanaman  akidah kepada anak sejak dini, yaitu “diawali dengan menghafal, kemudian memahami, lalu diikuti dengan meyakini dan membenarkannya..”

“Ajarkanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian ‘Laa Ilaaha Illallahh,’ dan talqinkanlah ketika akan meninggal dengan kalimat ‘laa ilaaha Illallah,” demikian Nabi bersabda lewat riwayat Ibnu Abbas (HR.Hakim)

Penanaman akidah, terutama keimanan kepada Allah SWT sebagai tuhannya, merupakan pondasi awal yang harus ditanam dan yang kemudian akan menjadi ruh dari kebiasaan perilaku sang anak. Pada akhirnya anak diharapkan terbiasa melandasi tingkah lakunya dengan keikhlasan karena keimanan kepada Allah SWT.

 

  • Pembiasaan Aktivitas Ibadah

“Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun. Apabila sudah mencapai sepuluh tahun (tidak mau menegakkan shalat), maka pukullah agar menegakkan shalat.” (HR. Abu Daud)

Selanjutnya, setelah menanamkan akidah, untuk menguatkan pemahamannya  anak bisa dibiasakan dengan aktivitas ibadah. Karena ibadah merupakan cerminan kuat lemahnya akidah seorang muslim. Di antara jenis ibadah yang paling penting adalah ibadah shalat, mengingat sholat merupakan ibadah utama dalam agama.

Pembiasaan shalat dilakukan tanpa adanya paksaan atau ancaman hukuman fisik jika anak di usianya yang masih dini sulit melaksanakannya. Karena, pembiasaan tidak selalu dengan  menggunakan perintah yang disertai hukuman dan ganjaran. Pembiasaan juga bisa dilakukan dengan suri teladan, dan pengalaman khusus bagi sang anak.

Bisa saja pembiasaan dilaksanakan oleh orang tua dengan mencontohkan sholat berjamaah di rumah yang bisa disaksikan oleh anak. Seiring waktu anak pun berkeinginan untuk bergabung bersama. Mengajak anak sholat di masjid juga bisa dilakukan untuk membuat anak tertarik mengerjakan sholat karena adanya pengalaman khusus yang dialaminya di masjid.

Intinya orang tua harus sabar dalam menanamkan kebiasaan beribadah pada anak yang sebenarnya merupakan kewajibannya sebagai  muslim jika ia sudah memasuki masa balig nanti.

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡ‍َٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS. Thaha:132)

 

  • Berinteraksi dengan Al-Qur’an

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, niscaya Allah akan memakaikan kepada kedua orang tuanya mahkota di hari kiamat. Cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari.” (HR. Ahmad)

Tidak ada nilai dan anjuran yang ada dalam Al-Quran yang tidak baik bagi kehidupan manusia. Al-Qur’an Allah ciptakan sebagai way of life manusia di dunia ini, akan menciptakan karakter manusia dengan kepribadian yang mulia. Jika seorang anak sudah dibiasakan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik itu membacanya, menghafalnya, memahaminya, sampai mengamalkannya dalam kehidupannya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pribadi yang sholeh di masa yang akan datang.

Permasalahan yang ada saat ini adalah ketika orang tua sudah puas dengan hanya memasuki anaknya ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Ini pun biasanya hanya sebatas mengisi waktu sang anak di sela waktu bermainnya.  Anak menjadi tidak terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an ketika di rumahnya, karena tidak adanya teladan dari orang tua yang mencontohkan walau sekadar rutin membaca Al-Qur’an di rumah.

Jika demikian, maka pengajian yang diikutinya hanya sebatas rutinitas saja di TPA-nya. Namun, ini masih lebih baik dibanding tidak sama sekali memperhatikan pengetahuan tentang membaca Al-Qur’an sang anak.

  • Pembiasaan Akhlak yang Baik

“Akhlak merupakan ungkapan tentang kondisi yang menetap di jiwa, dimana semua perilaku bersumber darinya dengan cara yang mudah tanpa memerlukan proses berpikir dan merenung.” (Imam Al-Ghazali). Dalam metode pendidikan Islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan akhlak adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap, serta bertindak sesuai  dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Proses pembiasaan berperilaku yang baik bagi anak sedini mungkin, membiasakan anak untuk melakukannya  sehingga menjadi kebiasaannya kelak yang untuk melakukannya tidak perlu pengarahan lagi. Hal ini karena anak tumbuh sesuai dengan kebiasaan yang ditanamkan oleh pembimbingnya pada masa kecilnya.

Rasulullah SAW Sangat memperhatikan pembiasaan akhlak yang baik untuk anak , salah satu contohnya adalah seperti yang diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah. Ia mengatakan, “Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah SAW. Tanganku bergerak kesana kemari di tempat makanan. Rasulullah berkata kepadaku, “Nak, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang ada di hadapanmu.” Sejak itu, begitulah caraku makan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Jika akhlak sudah terlanjur buruk, akan sangat sulit mengubahnya. Namun bukan berarti tidak mungkin berubah. Bersiaplah dengan tantangan yang akan ditemui ketika menghendaki perubahan. Salah satunya adalah bersabar dan disiplin dalam meninggalkan pola lama yang membentuk akhlak buruk tersebut ke pola baru yang lebih positif, secara terus menerus. Tentu saja ini dilakukan tanpa mencela sang anak, apalagi memarahinya dengan kata-kata kasar. Ini justru hanya akan menjatuhkan mental anak. Oleh karena itu, berikan pengertian dengan cara yang baik. Karena, bisa jadi anak memang belum memahaminya.

Sumber Pustaka:

Agar Anak Kita Menjadi Saleh/ Hery Huzaery, Solo: Aqwam, 2014

 

 

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut