https://nuansaislam.com/Wudhu

Wudhu dalam bahasa arab berasal dari kata wadhua-yadhu’u, wudhu’an yang mengandung makna bersih, membersihkan, berwudhu.[1] Sedangkan kata yang senada dengan wudhu yaitu kata wadhu dengan harokat fathah pada huruf wawu mengandung arti air yang digunakan untuk berwudhu. Untuk tempat berwudhu disebut dengan al-Maidhoatu.[2]  

Sedangkan wudhu secara istilah, para ulama yang mendefinisikannya diantaranya Imam Abu Hanifah, beliau berkata bahwa wudhu adalah membasuh tiga anggota tubuh dan membasuh seperempat kepala, sesuai yang disebutkan dalam ayat tentang wudhu dalam surat Al-Maidah ayat 6.[3] Al-Kasani berkata: wudhu adalah sebuah nama untuk membasuh dan mengusap anggota badan,[4] Imam Malik berkata: wudhu adalah membasuh dan mengusap pada anggota tubuh tertentu untuk mengangkat hadas,[5] Imam Syafii berkata: wudhu adalah penggunaan air pada anggota tubuh tertentu dengan diawali niat,[6] dan Imam Al-Buhuti dari kalangan Imam Ahmad beliau berkata: wudhu adalah penggunaan air suci pada anggota tubuh yang empat(wajah, tangan, kepala dan kaki) sesuai sifat tertentu.[7]

Kapan disyariatkan wudhu?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ibnu Abidin dari mazhab Hanafi berpendapat bahwa kewajiban wudhu ketika di Makkah, dan firman Allah swt surat Al-Maidah ayat 6 yang diturunkan di Madinah sebagai penegas hukum wudhu,[8] ada yang mengatakan diwajibkan wudhu itu di Madinah, adapun wudhu di Makkah adalah sunnah,[9] diantara dalil yang menunjukkan bahwa telah ada syariat wudhu di Makkah adalah hadis dari hakim dalam mustadraknya dari sahabat ibnu Abbas bahwa Fathimah masuk ke rumah Rasulullah saw, berkata kepada Rasulullah saw sambil menangis: para pembesar Quraisy bersepakat untuk membunuhmu, maka Rasulullah saw berkata: ambilkan air kemudian beliau berwudhu.

Apakah wudhu disyariatkan pada ummat sebelum Nabi saw?

Jumhur ulama berpendapat bahwa wudhu disyariatkan juga pada Ummat sebelum Nabi saw, namun ada kekhususan untuk ummat Rasulullah saw yaitu Ghurrah dan Tahjil,[10] adapun dalil disyariatkan wudhu untuk ummat terdahulu adalah sebagaimana hadis,

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((هاجر إبراهيمُ بسارة، دخل بها قرية فيها ملك من الملوك أو جبار من الجبابرة، فأرسلَ إليه أن أرسلْ إلي بها، فأرسل بها، فقام إليها فقامت توضأ وتصلي، فقالت: اللهم إن كنت آمنت بك وبرسولك فلا تسلط علي الكافر، فغط حتى ركض برجله(رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: ketika nabi Ibrahim hijrah bersama Sarah, ketika memasuki suatu desa yang dipimpin oleh raja yang bengis, Kemudian Sarah dibawa menghadap raja untuk hidup bersamanya. Maka Sarah berwudhu lalu shalat seraya berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu dan aku memelihara kemaluanku, kecuali untuk suamiku maka janganlah Engkau satukan aku dengan orang kafir ini … ” (HR. Bukhari no. 2217)
Hukum wudhu

Hukum berwudhu ketika akan melaksanakan suatu ibadah berbeda hukumnya diantara satu ibadah dengan ibadah lainnya, ada yang bersifat wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. Berikut penjelasannya:

Pertama, wudhu yang bersifat wajib, yaitu wudhu bagi yang berhadas ketika akan melaksanakan ibadah shalat baik shalat wajib ataupun shalat sunnah, dalil yang menunjukkannnya adalah firman Allah swt,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ (المائدة : 6)

Wahai orang-orang yang beriman, apabila hendak mendirikan shalat maka basuhlah wajah kalian…(QS. Al-Maidah[5]:6)

Juga sabda Rasulullah saw,

عن أبي هريرة، عن النبي - صلى الله عليه وسلمقال: ((لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ0(رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: tidak diterima shalat diantara kalian apabila dalam keadaan berhadas sampai kalian berwudhu(HR. Bukhari)

Kedua, wudhu yang bersifat sunnah, ibadah atau perbuatan lainnya yang disunnahkan berwudhu sangat banyak, diantaranya adalah: ketika hendak berdzikir, ketika hendak tidur, suam istri yang hendak mengulangi jima’, ketika hendak mandi sunnah atau wajib, setelah makan makanan yang tersentuh api, setiap kali berhadas, setelah menggotong mayit, adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

Disunnahkan berwudhu ketika akan berdzikir, berdasarkan hadits al-Muhajir bin Qanfad. Dia mengucapkan salam kepada Nabi saw hingga menuntaskan wudhu’nya. Beliau lalu menjawabnya dan berkata,

إِنَهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدُّ عَلَىكَ إِلاَّ أَنِّيْ كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللهَ إِلاَّ عَلَى طَهَارَةٍ.( وروى أبو داود)

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawabmu. Hanya saja, aku tidak suka menyebut Nama Allah kecuali dalam keadaan suci”.(HR. Abu Dawud)

Disunnahkan berwudhu ketika hendak tidur, berdasarkan hadis Nabi saw,

عن البراء بن عازب قال: قال النبي - صلى الله عليه وسلم -: ((إذا أتيت مضجعك، فتوضأ وضوءك للصلاة، ثم اضطجع على شقك الأيمن،(رواه البخاري)

Dari Barra bin Ajib, berkata Nabi saw: apabila anda akan mendatangi tempat tidur untuk tidur, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah diatas sisi kananmu(HR. Bukhari)

Disunnahkan wudhu untuk suami yang mau mendatangi istrinya yang kedua kalinya, dalilnya adalah sabda Nabi saw,

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فليتوضأْ.(رواه مسلم)

Jika salah seorang di antara kalian telah mendatangi istrinya dan ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah berwudhu’”.(HR. Muslim)
Adapun dalil disunnahkan  wudhu ketika hendak mandi adalah hadis dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Jika Rasulullah saw mandi junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian beliau kucurkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya. Beliau lantas membasuh kemaluannya lalu berwudhu’ sebagaimana berwudhu’ untuk shalat.”(HR. Bukhari Muslim)
Adapun dalil disunnahkan wudhu setelah makan makanan yang tersentuh api adalah hadis Abu Hurairah ra yang berbunyi, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Berwudhu’lah karena memakan makanan yang tersentuh api’”.(HR. Muslim, no. 814)

Perintah ini mengandung makna Sunnah. Dasarnya adalah hadis ‘Amr bin Umayyah adh-Dhamri, dia berkata, “Aku melihat Nabi saw mengiris paha kambing. Beliau kemudian makan sebagian darinya lalu mengajak shalat. Beliau bangkit dan meletakkan pisau lantas shalat dan tidak berwudhu’”.(HR. Bukhari Muslim)

Dan dalil disunnahkan wudhu untuk setelah memandikan dan menggotong jenazah adalah sabda Nabi saw

مَنْ غَسَّلَ مَيتًا فَلْيَغْسِلْ, وَمَنْ حَمَلَهُ فليتوضأْ.

Barangsiapa memandikan mayit, maka hendaklah ia mandi. Dan barangsiapa membawanya, maka hendaklah berwudhu’”.

Ketiga, wudhu yang dimakruhkan, para ulama memberikan contoh seperti apabila seseorang memperbaharui wudhunya untuk wudhu sebelumnya dan tidak digunakan wudhu tersebut untuk suatu ibadah, maka hal tersebut makruh karena adanya pemborosan dalam penggunaan air.

Keempat, wudhu yang bersifat haram, para ulama memberikan contoh seperti orang yang berwudhu dengan air yang didapatkan dengan cara mengambil air milik orang lain tanpa sepengetahuannya, dan pemilik air tersebut membutuhkannya. Maka ia berdosa, adapun wudhunya dengan air yang diambil dengan cara tersebut apakah menghilangkan hadasnya? Maka para ulama berbeda pendapat, Imam Abu Hanifah,[11] Imam Malik[12] dan Imam Syafi’i[13] berpendapat bahwa dia berdosa sedangkan wudhunya tetap menghilangkan hadas,  sebagian mazhab Imam Ahmad berpendapat bahwa tidak sah thaharohnya tetapi membersihkan hadasnya,[14] adapun pendapat mazhab Imam Ahmad yang terkenal[15] adalah tidak membersihkan hadas dan kotoran lainnya, ini pendapat yang diambil oleh Ibnu Hazm[16]

Kelima, wudhu bersifat mubah, mazhab Maliki memberikan contoh seperti berwudhu untuk tujuan mendinginkan badan karena cuaca panas dan wudhu apabila mau ketemu dengan penguasa.[17]

Demikian tulisan singkat tentang wudhu ini, semoga bisa menambah ilmu bagi kita semua.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,1564
  2. Ibnu Manzhur, Lisanul Arab
  3. Ahmad Farid, Al-Bahrur Roiq, 1/11
  4. Abu Bakar bin Masud Al-Kassani, Badai’ Shanai’,1/2
  5. Muhammad Al-Anshari, Hudud ibnu Arafah, 32
  6. Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, 1/28
  7. Manshur bin Yunus bin Idris Al-Buhuti, Kassyaaful Qina’, 1/82
  8. Muhammad Amin bin Umar Abidin, Hasyiah Ibnu Abidin, 1/91
  9. Az-Zarqani, Syarhul Zarqani, 1/64, Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Maliki, Mawahibul Jalil, 1/180/380, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, 1/233
  10. Al-Khthib Asy-Syirbini, Mughnil Muhtaj, 1/47/61, Manshur bin Yunus bin Idris Al-Buhuti, kassyaaful Qina’, 1/109
  11. Usman bin Ali Az-Zil’I Fahruddin, Tabyinul Haqoiq, 1/48, Ahmad bin Ali Abu bakar Ar-razi, Al-Fushul fil Ushul, 2/179, Muhammad Amin bin Umar Abidin, Hasyiah Ibnu Abidin, 1/341
  12. Muhammad Arofah Ad-dasuki, Hasyiah Dasuki, 1/144
  13. Usman bin Syatha Al-Bakri, I’anatu Thalibin, 1/55, Imam An-Nawawi, Al-majmu’, 2/295
  14. Ibnu Dhuwayan, Manarussabil, 1/15
  15. Ali bin Sulaiman Al-Mardawi Alauddin Abul hasan, Al-Inshaf, 1/28
  16. Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm Al-Andalusi, Al-Muhalla, 1/208
  17. Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Maliki, Mawahibul Jalil, 1/181

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut