https://nuansaislam.com/Teks dan Klaim Kebenaran

Sekarang ini, masyarakat sedang dihadapkan dengan pertarungan-pertarungan makna atas teks-teks keagamaan yang disajikan oleh masing-masing kelompok yang selalu berhadapan. Habernas menganggap masyarakat sebagai ranah publik yang terbuka. Teks keagamaan sebagai sumber utama ajaran memberi ruang interpretasi yang terbuka yang memungkinkan lahirnya beragam pandangan. Kandungan al-Qur’an dan hadis yang begitu luas ditambah dengan metode pembacaan atas teks yang juga beragam ibarat permata berkilauan yang memancarkan sinar berbeda dari setiap sudut yang berbeda. Dalam masyarakat yang terbuka, pertarungan makna atas teks menjadi sesuatu yang menarik dan tak berkesudahan.

Al-Qur’an secara teks memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks selalu berubah sesuai konteks dan ruang waktu manusia. Karenanya, al-Qur’an selalu membuka ruang untuk dianalisis, ditafsirkan dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isinya. Al-Qur’an seolah menantang dirinya untuk selalu dibedah, tetapi semakin dibedah semakin banyak yang belum terungkap dari setiap kandungan makna teks tersebut. Wajar jika kemudian ada yang berpendapat bahwa siapa yang mengaku tahu banyak tentang al-Qur’an, sebenarnya ia hanya tahu sedikit (Umar Shihab, Kontekstualitas al-Qur'an, 2005: 3).

Al-Qur’an adalah kitab yang hadir dan berbicara pada setiap zaman. Otentisitas al-Qur’an sebagai sumber hukum dan landasan moral tidak pernah diragukan. Namun, ketika teks al-Qur’an memasuki wilayah penafsiran, maka faktor subyektifitas penafsir akan memengaruhi pemahaman yang dihasilkan dari teks tersebut. Jarak antara lahirnya teks dan konteks yang melingkupi penafsirnya menjadi dilema bagi penafsir untuk menarik kesesuaian antara teks dan konteks. Dilema ini logis sebab substansi kitab suci ini memang mengharuskan adanya kesesuaian antara otoritas normatif teks pada satu sisi dengan realitas objektif masyarakat yang ditemuinya di sisi yang lain. Mencari titik temu dan relevansi antara teks dan konteks menjadi tugas berat yang diemban oleh penafsir agar dapat menyajikan kandungan al-Qur’an yang lebih dinamis tanpa meninggalkan akar teologisnya (maqasyid asy-syari'ah).

Pengungkapan gagasan yang tercakup dalam sebuah teks haruslah berlandaskan pada pemeriksaan yang cermat atas makna kata yang berlaku pada masa teks itu dilahirkan dan membandingkannya dengan makna baru yang melingkupi ketika teks ditafsirkan atau diterapkan. Jangan sampai karena teledor dan kurang persepsi historis, akhirnya tidak memerhatikan perubahan penggunaan kata yang mungkin saja sangat bermakna, sehingga membaca masa lalu teks hanyalah angan-angan dan rekaan penafsir. Perubahan gagasan yang terkandung pada teks yang beriringan dengan perubahan waktu jangan sampai juga dipengaruhi secara total oleh gagasan pemikirnya sehingga gagasan otoritas teks menjadi hilang. Perlu diwaspadai agar jangan sampai konsep-konsep yang ada dalam pikiran penafsir diterima sebagai sesuatu yang secara aksioma sahih sehingga yang terbaca adalah gagasan penafsir dan bukan gagasan teks (Smith, Memburu Makna Agama, 2004: 28). 

Salah satu metode penafsiran atas teks adalah metode hermeneutika. Schleiermacher (1843), seorang pemikir Jerman yang telah mentransformasikan istilah hermenutika dari wilayah teologis menjadi sebuah disiplin ilmu, menyebutkan bahwa teks merupakan ekspresi perangkat linguistik yang mentransformasikan ide pengarang kepada pembacanya. Dalam hal ini ada dua aspek yang berlaku yaitu bahasa dengan kelengkapannya dan ide subyektif pengarang, yang keduanya terbangun dalam hubungan dialektis. Karena itu, seorang penafsir membutuhkan dua kompetensi, yaitu kompetensi linguistik dan kompetensi mengakses alam kemanusiaan  atau aspek sosio historis teks (Nashr, 2004: 15).

Fazlur Rahman, intelektual neo-modernis asal Pakistan, menawarkan prosedur dalam upaya memahami al-Qur’an. Pertama, seseorang harus mengkaji al-Qur’an dalam ordo-historis untuk mengapresiasi tema-tema dan gagasannya. Jika tidak, penafsir kemungkinan besar tersesat dalam memahami beberapa butir penting dari ajarannya. Kedua, seseorang harus mengkajinya dalam latar belakang sosio-historisnya. Tanpa melihat latar belakang mikro dan makronya dengan memadai, seseorang bisa jadi akan salah menangkap maksud al-Qur’an (Nasaruddin Umar, Deradikalisasi Pemahaman al-Qur'an dan Hadis, 2009: 10). 

Klaim Kebenaran

Pertarungan makna atas teks pada akhirnya melahirkan pertarungan kebenaran dalam wacana agama. Masing-masing kelompok menganggap hasil pembacaannya atas teks sebagai kebenaran. Klaim kebenaran itu lahir dari interpretasi atas teks ototritatif yang diperkuat oleh pemegang otoritas dalam agama. Klaim kebenaran sejatinya adalah hal pokok yang mendasari dan diperlukan dalam setiap keyakinan. Seseorang akan merasa nyaman dengan keyakinannya ketika ia, secara sadar, meyakini kebenaran nilai-nilai yang tertuang dari  keyakinannya tersebut. Namun, ketika interpretasi tertentu atas kebenaran tersebut menjadi proposisi yang menuntut pembenaran tunggal dan diperlakukan sebagai doktrin kaku, maka kecenderungan terhadap penyelewengan dalam agama muncul dengan mudah. Kecenderungan itu merupakan tanda-tanda awal kejahatan atas nama agama (Kimball, Kala Agama Jadi Bencana, 2003: 84).

Klaim kebenaran yang autentik tidak pernah begitu kaku dan eksklusif. Kebenarannya hadir dalam ruang dialog antara satu dengan lainnya, dengan kemungkinan saling mengisi dan melengkapi. Seorang penafsir atau pembaca teks berusaha menarik pemahaman yang benar atas teks, tetapi selalu memungkinkan untuk salah. Subyektivitas adalah salah satu penyebab kesalahan interpretasi, sehingga kecurigaan positif atau kehati-hatian terhadap penafsir dan penafsirannya perlu dilakukan. Ini berarti penafsiran siapa pun, selain yang diberi wewenang oleh Tuhan, harus tetap dikritisi (Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, 2013: 436). Bahkan, Nabi Muhammad saw yang memperoleh otoritas untuk menafsirkan ayat al-Qur’an dari Tuhan, mengakui bahwa dirinya bisa salah, sehingga dalam al-Qur’an ditemukan “teguran-teguran” Tuhan atas “kesalahan” yang dilakukan beliau.

Jika Nabi Muhammad saja bisa “salah”, maka tentu penafsiran-penafsiran dari generasi sesudahnya lebih memungkinkan untuk salah. Bukan saja karena faktor subyektifitas penafsirnya, tetapi kenyataan bahwa teks keagamaan merupakan “divine text/words” yang hakikatnya tak terjangkau dan keberjarakan ruang dan waktu antara teks dan penafsir semakin membuka peluang terjadinya kesalahan atau kekurangtepatan penafsiran. Dalam posisi seperti itu, mengklaim satu penafsiran sebagai kebenaran mutlak dan tunggal menjadi tidak relevan dan melampaui kapasitas penafsir sebagai pembaca teks. Seakan-akan, penafsir memosisikan dirinya sebagai pembuat teks yang memiliki otoritas kebenaran, dan itu berarti mengambil alih posisi Tuhan.

Klaim kebenaran yang didasarkan atas penafsiran teks yang sepotong-sepotong berpotensi menimbulkan penyelewengan dalam agama, meskipun tidak serta merta menimbulkan kekerasan. Namun, klaim kebenaran mutlak yang sempit dapat dan seringkali mengandung konsekuensi destruktif. Ketika para pengikut yang taat dan bersemangat mengangkat ajaran dan kepercayaan agamanya hingga ke tingkat klaim kebenaran mutlak, maka di situlah kemungkinan agama akan berubah menjadi jahat (Kimball, Kala Agama Jadi bencana, 2003: 88). Karena, hanya dirinya dan ajarannya yang benar, dan yang lain dipersepsikan salah. Pada posisi ini, seseorang dengan klaim kebenarannya sering menggambarkan dirinya telah mencapai puncak pemahaman atas teks yang “obyektif” yang mendorong mereka harus bersikap defensif atau ofensif demi mempertahankan kebenarannya. Wallahu a’lam.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut