https://nuansaislam.com/Agama dan Posmodernisme

Pada era modern, agama dipandang sebagai kerangkeng yang membelenggu kebebasan manusia, ditambah lagi dengan anggapan bahwa agama didominasi oleh argumentasi yang tidak bersandar pada reason. Kebangkitan rasio yang mewarnai zaman modern merupakan bentuk perlawanan atas otoritas gereja (agama) yang begitu kuat pada zaman pertengahan.

Kebangkitan rasio dalam zaman modern – bisa dikatakan – berawal dari Descartes (1596-1650) dengan diktumnya "cogito ergo sum" (aku berpikir maka aku ada). Gagasan Descartes adalah membangkitkan kesadaran manusia dari belenggu di luar dirinya. Manusia adalah dirinya sendiri, yang dengan kesadarannya mampu menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak lagi bersifat intuitif, ilusif, dan imajinatif.

Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengarahkan pada kemajuan (progress) yang ditandai dengan perkembangan sains dan teknologi sebagai suatu hasil dari eksplorasi total manusia akan kemampuan akal budinya, dan ini juga menjadi simbol keterbebasan manusia dari ikatan-ikatan tradisional. Modernitas kemudian bisa dipandang sebagai bentuk pemberontakan intelektualitas secara terus-menerus atas segala bentuk tradisionalitas abad pertengahan. Agama, metafisika dan ontologi yang sebelumnya menjadi sumber pengetahuan dan sekaligus sebagai sandaran kebenaran digantikan dengan "kesadaran akan diri", rasionalitas, dan sains. Agama semakin terpinggirkan, bahkan pada akhirnya dianggap layaknya setumpuk ajaran yang membius kesadaran dan melahirkan penyakit bagi rasionalitas dan manusia modern. Agama hanya racun dan menawarkan kesadaran palsu.

Semenjak itu, agama divonis tidak lagi relevan dalam memahami realitas dunia saat ini (modern = newness = kekinian). Kemajuan sains dan teknologi yang telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia modern ikut andil membangun semangat otonomi dan independensi manusia. Kebebasan manusia dari Tuhan diterjemahkan dalam berbagai bentuk, mulai dari yang paling sederhana dengan meninggalkan ajaran agama sampai yang paling ekstrem membunuh Tuhan.

Kebangkitan Kembali Agama

Tidak dapat disangkal bahwa modernitas telah memberikan sekian banyak kemudahan bagi hidup manusia. Sayangnya, secara bersamaan, manusia juga secara pelan-pelan merasakan alienasi dari dirinya sendiri lebih-lebih dari orang lain. Manusia memang menemukan independensinya tetapi kehilangan interdependensinya. Modernitas hanya memberikan kemajuan dari sisi material sementara dari sisi spiritual, manusia semakin mengalami kekeringan. Proyek kesadaran diri yang melahirkan otonomi kebebasan manusia menjadikan manusia sebagai individu-individu, yang berpikir tentang dan akan dirinya sendiri. Modernisasi telah menghadirkan wajah kemanusiaan yang buram. Setelah terpola dalam kehidupan yang mekanistik, muncul kegelisahan dan kegersangan psikologis yang disebabkan oleh tercerabutnya kehidupan spiritual. Akibat yang paling parah adalah terjadinya krisis tentang makna dan tujuan hidup.

Kondisi ini menghadirkan sebuah kesadaran baru, bahwa pandangan dunia yang materialistik dan kapitalistik ternyata tidak cukup untuk membebaskan manusia dari teror dan ketakutannya. Secara positif muncul pandangan dunia posmodern yang secara bersamaan juga melahirkan kesadaran spiritual posmodern. Tentu saja, spiritualitas posmodernisme tidak mengulangi pandangan zaman pertengahan dan modern yang menarik garis demarkasi tegas antara iman dan ilmu, antara agama dan negara, atau antara akhirat dan dunia. Teologi posmodern mengungkapkan visi religius terhadap dunia, tanpa mengambil sikap anti ilmu dan anti rasional seperti dalam teologi konservatif, atau sebaliknya.

Lahir perhatian kembali terhadap metafisika, terhadap religiusitas dan agama. Derrida, misalnya, menolak istilah logosentrisme yang mengasumsikan bahwa terdapat esensi atau kebenaran transenden yang berperan sebagai dasar semua keyakinan. Bagi Derrida, tidak ada lagi makna yang transenden. Tidak ada makna yang mutlak. Ia menolak metafisika yang mengasumsikan adanya makna yang sudah hadir sebelum teks itu menjelma sebagai makna. Mencari makna transenden bagi bahasa adalah sesuatu yang sia-sia. Baginya, tidak ada tulisan yang dibatasi oleh dasar transenden (Mudji Sutrisno, Teori-teori Kebudayaan, 2005, h. 171). Oleh karena itu,, metafisika didefinisikan berdasarkan oposisi biner, dan menurutnya, selalu dapat didekonstruksi. Derrida bukan saja telah membebaskan makna dari kerangkeng transendensi, tetapi ia telah menohok kebuntuan interpretasi yang selalu terperangkap pada hasrat mendominasi, hingga terbuka keran dialog biner di mana satu dengan yang lain bebas mengekspresikan diri dalam realitas dan makna yang tidak tunggal (plural). Dengan pandangan tersebut, Derrida tidak lagi menganggap metafisika sebagai suatu kemestian atau kemutlakan yang tak tersentuh, tetapi metafisika sebagai sesuatu yang bersifat nature. Metafisika adalah konsep yang merujuk pada kehadiran masa kini dan karena itu oposisi biner menunjukkan bahwa satu pengertian tergantung pada dan ada dalam pengertian yang lain. Bergulir dalam mata rantai penanda yang tak berkesudahan.

Posmodernisme secara sadar mendukung pandangan bahwa kebenaran itu relatif dan beragam. Meminjam istilah Wittgenstein, setiap kelompok (habitus: dalam istilah Bordieu) memiliki Language games-nya masing-masing; tidak terkecuali agama dan faham tentang Tuhan. Maka, teologi posmodernisme meniscayakan penerimaan dan pengakuan atas keragaman dan pluralitas beragama. Dalam perkembangan yang paling dahsyat, mengarah pada inklusivisme agama; dimana setiap agama tidak lagi bisa menganggap klaim kebenarannya sebagai satu-satunya jalan kebenaran, sebab di luar dirinya ada kebenaran yang lain (the others) yang juga harus dihormatinya.

Dan teologi, selain merupakan wilayah diskursus, yang tak kalah penting adalah wilayah praksis. Teologi menjadi kehilangan maknanya manakala ia melulu berada dalam diskursus intelektual-spiritual dan kehilangan jejaknya dalam realitas. Dan ketika teologi berbicara tentang hal yang praksis, maka ia lebih tepat disebut sebagai spiritualitas, yang mengandung arti pemaknaan atas nilai-nilai teologis yang diakui dan diyakini.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut