https://nuansaislam.com/Had Riddah dan HAM (2)

Kebebasan adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua manusia, meskipun seringkali sulit mendefinisikan secara tepat kebebasan seperti apa yang dimaksud. Kebebasan lebih sering diartikan sebagai pengalaman batin. Henri Bergson menyebut kebebasan sebagai hubungan antara “aku konkrit” dengan perbuatan yang dilakukannya. (Bertens, Etika, 2004). Maka kebebasan hanya bisa dirasakan oleh individu atas dirinya sendiri dengan mengukur “aku konkrit”-nya dengan perbuatan yang dilakukannya. Semakin “aku konkrit” mengafirmasi perbuatan yang dilakukan maka ia semakin bebas, sebab penolakan (negasi) atas perbuatan mengandaikan ketidakbebasan untuk melakukan oposisi dari perbuatan tersebut.

Isaiah Berlin mengontraskan dua pandangan tentang kebebasan, yaitu kebebasan positif  (bebas untuk) dan kebebasan negatif (bebas dari). Kebebasan positif adalah kebebasan sebagai realisasi diri, sebagai kontrol dan peguasaan diri oleh rasionalitas; sedangkan kebebasan negatif adalah situasi tidak adanya tekanan, hambatan, atau paksaan dari luar diri. (Sahal, Empat Esai Kebebasan, 2004)

Kebebasan Positif dan Kebebasan Negatif merupakan prinsip yang diusung oleh Deklarasi Universal HAM yang menjamin kebebasan manusia untuk menentukan pilihannya dalam hal memilih agama. Agama dan beragama adalah pilihan merdeka yang dimiliki oleh setiap individu, dan karena itu tidak bisa dipaksakan oleh otoritas apapun, meskipun  atas nama agama dan Negara. Abdullah an-Na’im secara tegas mengatakan bahwa ketetapan hukum bunuh bagi orang murtad adalah salah satu bentuk pelanggaran terhadap norma-norma HAM, sebagaimana dalam pasal 18 dan 19 DUHAM yang menganut prinsip kebebasan dalam hal memilih agama tanpa ada paksaan.An-Na’im mengutip QS.al-Baqarah/2: 256 yang memberikan kebabasan kepada setiap orang untuk memilih agamanya tanpa ada paksaan dari siapa pun.

Komponen terpenting dari hak azasi manusia adalah konsep tentang “hak” yang hadir bersama dengan kesadaran moral. Dalam buku “Hak Azasi Manusia: Teori, Hukum, dan Kasus”  menuturkan bahwa “hak” bukanlah apa yang pemiliknya mampu lakukan, melainkan apa yang orang lain wajib lakukan atau tidak lakukan terhadap “subjek hak” (pemilik hak). Kewajiban itu tidak bergantung pada kekuatan yang dimilki oleh subjek hak. Respek terhadap hak seseorang tidak berhenti ketika subjek hak tersebut dalam keadaan tidak mampu atau kehilangan daya individunya. Kesadaran untuk memenuhi hak seseorang dalam keadaan apapun itulah yang disebut sebagai kesadaran moral.

Satu hal yang ingin ditegaskan dalam DUHAM bahwa kebebasan beragama bukanlah hasil konstruksi budaya, melainkan bersifat kodrati. Sartre bahkan menyebut kebebasan sebagai sebuah “kutukan” (we are condemned to be free).Kebebasan beragama adalah hak seseorang untuk memilih suatu agama tertentu yang lahir dari suatu perenungan mendalam akan diri dan nilai yang ada di sekitarnya; dan kebebasan itu mendapatkan “legitimasi” dari Tuhan. Karena itu, menjatuhkan hukuman mati bagi seseorang yang memilih untuk tidak beragama Islam (setelah sebelumnya ia memilih Islam) adalah suatu bentuk pemaksaan yang melanggar hak individu. Padahal Tuhan saja tidak memaksa.

Pengakuan terhadap kebebasan yang diusung oleh DUHAM hanya akan berarti dan dapat diterapkan bila juga memperhatikan kebebasan pihak lain. ketika kebebasan itu berhadapan dengan kebebasan pihak lain, maka masalah keadilan tidak lagi bisa dikesampingkan. Di sinilah, had riddah dipahami sebagi upaya menjaga keseimbangan antara hak individu dan hak komunal atau hak bangsa. Seseorang boleh saja memilih keluar dari Islam, tetapi tindakannya itu tidak boleh melanggar hak komunal umat Islam. Ketika dia melanggar hak komunal, seperti upaya untuk memerangi umat Islam setelah itu atau melakukan tindakan yang menciderai kehormatan Islam, maka had riddah bisa saja dilakukan.

Whitehead mencoba memberikan penyelesaian melalui teologi prosesnya (process theology/process theism) dengan menjelaskan hubungan Tuhan dengan manusia sebagai hubungan nonkompetitif, dan terbangun atas dasar kausal ilahiah. Tuhan memberikan manusia kemungkinan-kemungkinan (dalam bahasa yang lain “potensi”) yang sangat luas yang memberikan kebebasan pada manusia untuk menentukan dirinya, baik dalam kebebasan kosmologis maupun kebebasan aksiologis. Tuhan, dalam pandangan Withehead, berkarya di dunia dengan membujuk, bukan memaksa. (Griffin, Tuhan & Agama, 2004).

Tawaran An-Na’im untuk tidak memasukkan riddah dalam jarimah hudud juga merupakan alternative penyelesaian dilema hukum dan HAM. Dengan tidak memasukkan dalam jarimah hudud maka penyelesaian hukum atas tindakan riddah sangat bergantung pada pemahaman pemilik otoritas atas aspek-aspek lain yang terlibat dalam tindakan riddah tersebut, bukan semata-mata melihatnya dari sudut teologi dan syari’at. Wallahu a’lam. 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut