https://nuansaislam.com/Riddah dan Kebebasan Beragama (1)

Perdebatan seputar hukaman mati bagi pelaku Riddah telah menjadi perbincangan menarik di kalangan ulama. Satu hal yang perlu didudukkan terlebih dahulu dalam pemahaman tentang riddah bahwa persoalan ini sesungguhnya masih diperdebatkan oleh ulama apakah masuk dalam kategori jarimah hudud atau tidak. Menurut Abdullah Ahmed an-Na’im dalam Toward an Islamic Reformation, jenis hudud yang ditegaskan dalam al-Qur’an secara rinci hanya empat, yaitu pencurian (sariqah), zina, perampokan (hirabah), dan tuduhan zina. Sedangkan minum khamar dan riddah adalah kesepakatan ulama berdasarkan Hadis.

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang riddah  sebagai jarimah hudud atau bukan, persoalan menarik ketika membicarakan masalah ini setidaknya bisa dikaji dari dua sisi. Pertama, bahwa terdapat kesan Hadis yang mengungkapkan hukuman mati bagi pelaku riddah bertentangan dengan kandungan al-Qur’an yang membicarakan tentang kebebasan manusia. Satu sisi, ditemukan dalam berbagai riwayat yang sahih dengan jalur yang beragam bahwa seorang yang keluar dari Islam – baik qauly, fi’ly, maupun i’tiqady – maka dia diberi sanksi hukuman mati. Di sisi lain, semangat ajaran al-Qur’an adalah memberi kebabasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya, termasuk dalam hal beragama. Al-Qur’an bahkan menegaskan “la ikraha fid din” (tidak ada paksaan dalam beragama. QS. Al-Baqarah/2: 256). Kebebasan memilih itu semakin tegas ketika al-Qur’an memberikan perincian siapa pun yang mau beriman atau mau kufur dipersilahkan oleh Tuhan (QS.al-Kahfi/18: 29).

Kedua, ketika menyandingkan had riddah dengan Hak Azasi Manusia, maka hukuman mati  bagi pelaku riddah dianggap melanggar kebebasan beragama yang diatur dalam Deklarasi Universal Hak-hak Azasi Manusia (DUHAM). Pasal 18 DUHAM menyebutkan “ Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani, dan agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaan dengan cara mengajarkannya, melakukannya, beribadat dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun sendiri”. Jelas bahwa Deklarasi HAM ini tidak membenarkan hukuman mati bagi orang yang memilih untuk berpindah agama, apapun alasannya.

Dekonstruksi Pemahaman Teks

Kontradiksi antara teks Hadis dan al-Qur’an dalam masalah ini menjadi menarik untuk didiskusikan. Sebab, sudah menjadi pandangan umum para ulama bahwa tidak mungkin hadis bertentangan dengan teks al-Qur’an. Hadis, dengan kata lain, dilarang mengambil peran yang melampaui, apalagi bertentangan dengan al-Qur’an. Namun demikian, terlalu tergesa-gesa kalau hadis yang tampaknya bertentangan dengan teks al-Qur’an ditolak tanpa didasarkan analisa yang mendalam.

Menurut Muhammad Ansor, (Jurnal “Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir dan Hadis”, vol. 5 no. 2 Desember 2017) mengutip Arif Wahyudi, bahwa terdapat sembilan versi hadis yang berbicara tentang riddah dan masing-masing versi diriwayatkan dengan jalur yang beragam. Enam dari sembilan versi itu berbicara tentang hukuman mati bagi pelaku riddah dan tiga lainnya tidak berbicara sanksi hukuman mati. Misalnya, dalam hadis yang diriwayatkan melalui jalur an-Nasa’i justru memberikan pengampunan bagi pelaku riddah. Dalam hadis tersebut Nabi tidak membunuh orang murtad yang menyesali tindakannya dan berniat kembali memeluk Islam.

Hadis tentang hukuman mati bagi pelaku riddah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas sebagai tanggapan atas apa yang dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib yang menjatuhkan hukuman mati dengan cara membakar seseorang yang secara diam-diam menyembah berhala atau murtad. Dari sinilah Ibn Abbas, yang ketika itu menjadi Gubernur di Bashrah, mengatakan bahwa ”kalau aku, tidak akan membakar mereka sebab Rasulullah saw melarang menghukum dengan api, tetapi aku akan membunuh mereka sebab Rasul pernah bersabda: man baddal dinahu faqtuluhu (siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah).

Nabi saw dalam beberapa riwayat memberikan perlakuan berbeda terhadap orang orang yang berpindah agama. Ubaidillah bin Jash yang ikut Nabi hijrah ke Ethiopia lalu memeluk Kristen tetap dibiarkan oleh Nabi. Demikian juga ketika seorang Arab Badui yang datang menemui Nabi untuk membatalkan keislamannya (keluar dari Islam) juga tidak dijatuhkan hukuman mati oleh Rasulullah saw., tetapi dibiarkan pulang ke kampung halamannya (Hadis ini dapat ditemukan dalam Shahih Bukhary melalui jalur riwayat Jabir).

Kalau membandingkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dengan hadis-hadis yang menceritakan bagaimana perlakuan Nabi di atas, tampaknya bahwa hukuman mati bukanlah suatu hukuman mutlak yang dijatuhkan kepada seorang yang keluar dari Islam. Mahmud Syalthut dalam bukunya “Al Islam: Aqidatun wa Syari’atun” menulis bahwa:

Tindakan murtad semata tidak dengan sendirinya membawa konsekuensi hukuman mati. Faktor utama yang menjadi penentu hukuman ini adalah adanya agresi dan permusuhan si murtad terhadap kaum beriman, dan kebutuhan untuk menjaga kemungkinan munculnya penghasutan melawan agama dan negara. Kesimpulan ini didasarkan pada banyaknya ayat-ayat al-Qur’an yang melarang paksaan dalam beragama.” 

Pandangan Syalthut ini semakin menegaskan bahwa semangat al-Qur’an adalah memberikan kebabasan kepada manusia untuk memilih beriman atau tidak beriman. Kalaupun ada sikap dan tindakan tegas kepada mereka yang murtad, bukan karena kemurtadannya, tetapi karena sikap permusuhan yang ditunjukkan terhadap Islam. Pandangan Syalthut ini sejalan dengan Hadis Nabi dalam Shahih Bukhari yang mengatakan bahwa Nabi saw tidak pernah membunuh seseorang kecuali karena tiga alasan: 1. Seseorang yang membunuh orang yang merdeka; 2. Seseorang yang berbuat zina setelah dia menikah (muhshan); dan 3. Seseorang yang murtad kemudian memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Semangat Rahman-Rahim Tuhan meniscayakan untuk memberikan kesempatan bagi siapa pun hamba-Nya untuk “kembali” (taubat) setelah menyimpang dari ajaran Islam. Orang yang murtad memang diancam dengan siksa tetapi itu pun jika mereka mati dalam keadaan murtad sebelum bertaubat. Bahkan, QS. An-Nisa/4: 137 memberikan gambaran bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali kepada Islam setelah ia murtad meskipun itu terjadi secara berulang-ulang.

Semangat al-Qur’an ini tentu saja berbeda dengan semangat Hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, jika hadis ini diartikan memerintahkan membunuh kepada orang yang mengganti agamanya. Jika menggunakan semangat al-Qur’an, kata “faqtuluhu” yang terdapat dalam Hadis tersebut bisa dipahami bukan dalam arti “membunuh”, tetapi “memerangi”. Dalam al-Qur’an ditemukan sejumlah ayat yang menggunakan term “faqtuluhu” yang ditujukan terhadap orang-orang yang memerangi Islam. Seperti dalam QS. Al-Baqarah/2: 191, kata “waqtuluhum” dalam ayat tersebut bermakna “perangilah orang-orang yang memerangi kamu”. Sehingga kata “qatala” tidak serta-merta bermakna “membunuh” tetapi juga mengandung makna “perangi”.

Quraish Shihab dalam “Wawasan al-Qur’an” ketika mengomentari masalah riddah mengatakan bahwa hukum bunuh bagi orang yang murtad sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial setiap masyarakat. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan ayat-ayat yang memerintahkan hukum mati bagi orang yang murtad, kalaupun ada Hadis yang membicarakan hukuman mati itu semata-mata terkait dengan kebijaksanaan dalam menata suatu masyarakat.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut