https://nuansaislam.com/Istintsar

Istintsar dalam bahasa arab berasal dari kata natsara-yantsuru, yang mengandung makna menyebarkan, menaburkan, mengeluarkan.[1] sedangkan secara istilah istintsar adalah mengeluarkan air atau sesuatu dari hidung, baik ketika berwudhu ataupun diluar wudhu.

Macam-macam istintsar dan hukumnya

Pertama, istintsar dalam berwudhu, merupakan salah satu sunnah wudhu, yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana hadis,

عن أبي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda: barangsiapa berwudhu, maka beristintsar(HR. Bukhari)[2]

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istintsar dalam wudhu, imam Ahmad mewajibkan istintsar sebagaimana beliau mewajibkan istinsyaq, sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa istintsar hukumnya adalah sunnah sebagaimana juga istintsar sunnah dalam berwudhu. Jumhur ulama berdalil dengan hadis,

قوله صلى الله عليه وسلم للأعرابي ‏"‏ تَوَضَأْ كَمَا أَمَرَكَ الله ‏"‏( حسنه الترمذي وصححه الحاكم)

Rasulullah saw bersabda kepada orang arab perkampungan: berwudhulah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt(hadis dihasankan oleh Tirmidzi dan dishahihkan oleh Hakim)

Perintah Allah swt berwudhu ada dalam surat Al-Maidah ayat 6, dimana dalam ayat tersebut tidak disebutkan istintsar, maka hukumnya sunnah.

Kedua, istintsar selain wudhu, diantara yang disebutkan keterangannya adalah istintsar ketika bangun tidur, Rasulullah saw bersabda,

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه: عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَسْتَنْثِر ثَلَاثا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَـبِـيْـتُ عَـلَى خَيْـشُـوْمِهِ.(رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Nabi aw bersabda: apabila diantara kalian bangun tidur, maka istintsarlah tiga kali, karena Syaithan bermalam di lubang hidungnya(HR. Bukhari Muslim)

Hadis diatas menunjukkan bahwa adanya perintah Rasulullah saw berupa istintsar setelah bangun tidur, yang apabila dipahami secara tektual hadis, maka istintsar dilakukan setelah bangun tidur secara langsung, namun ada hadis lain yang senada namun ada tambahan kata yaitu wudhu, hadis itu adalah,

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ ، فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ). روى البخاري (3295)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi saw bersabda: apabila diantara kalian bangun tidur, maka berwudhulah lalu beristintsar tiga kali, karena Syaithan bermalam dilubang hidungnya(HR. Bukhari, no 3295)

Hadis kedua ini memberikan penjelasan terhadap hadis pertama, bahwa perintah istintsar setelah bangun tidur dilaksanakannya ketika berwudhu. Shan’ani berkata: perintah istintsar setelah bangun tidur adalah perintah secara muthlaq, namun dengan adanya hadis Bukhari yang dikaitkan istintsaq dengan wudhu, maka istintsaq setelah bangun tidur dilakukan ketika berwudhu setelah bangun tidur.[3]

Istintsar sangat erat kaitannya dengan istinsyaq, maka bagaima tatacara melakukan keduanya, imam Nawawi berkata: disunnahkan istintsar dalam berwudhu yaitu mengeluarkan air dan kotoran lainya dari hidung, para sahabat imam Nawawi berkata: melakukan istintsar dengan tangan kiri,[4] Ibnu Qudamah menambahkan bahwa disunnahkan berkumur-kumur dan beristintsaq dengan tangan kanan, kemudian istintsar dengan tangan kiri.[5]

Manfaat istintsaq dan istintsar

Istinsyaq dan istintsar dalam berwudhu dan juga diluar wudhu, akan memberikan manfaat yang baik untuk kesehatan, karena dengan istinsyaq yaitu memasukkan air ke dalam hidung, kemudian dilanjutkan dengan istintsar yaitu mengeluarkannya dari hidung, maka air yang masuk ke hidung ketika dikeluarkan lagi akan membersihkan kotoran yang ada di hidung, termasuk berbagai virus seperti virus corona yang pada saat ini sedang mewabah di Negara kita Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, maka dengan mengamalkan sunnah-sunah wudhu seperti istinsyaq dan istintsar, semoga kita dijauhkan dari virus corona dan kita senantiasa sehat wal’afiyat. Aamiin

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari
  3. Shan’ani, Subulussalam, 1/64
  4. Imam Nawawi, Syarh Muhadzab, 1/397
  5. Ibnu Qudamah, Al-Mughni,1/157

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut