https://nuansaislam.com/Kebebasan dan Determinisme (2)

Hampir semua filsuf membenarkan adanya kebebasan kehendak manusia. Meskipun demikian, arus determinisme tetap tampil sebagai antitesa dari kebebasan kehendak tersebut. Perdebatan kebebasan kehendak manusia, mau tidak mau juga melibatkan pembicaraan tentang kehendak dan kuasa Tuhan. Sebab pada titik inilah, manusia seringkali merasa kehilangan kebebasannya, karena ia terdeterminasi oleh dan sejak awal penciptaannya. Secara tidak langsung, kenyataan inilah yang ingin digugat oleh Sartre dalam pernyataanya yang terkenal bahwa kebebasan manusia adalah sebuah “kutukan”; we are condemned to be free.

Sartre ingin mengatakan bahwa tidak ada batasan bagi kebebasan manusia, yang ada adalah kita tidak dapat berhenti menjadi bebas. (Stevenson, Ten Theories of Human Nature, 2001, h. 266). Manusia dinilai berdasarkan apa yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri, dan itulah yang menjadi prinsip pertama dalam eksistensialisme. Karena itu, manusia bisa mengarahkan dirinya sesuai dengan kehendaknya (free will), dimana kehendak berarti sebuah pengambilan keputusan secara sadar (a conscious decision). Kesadaran sekaligus menjadi pembimbing manusia untuk senantiasa bertangggungjawab dan mengarahkan pada pilihan yang baik (to choosing the good). Pada posisi ini, Sartre, dan juga kaum eksistensialis lainnya, menegaskan bahwa manusia tidak perlu eksistensi Tuhan untuk mengarahkan eksistensi manusia pada kebaikan.

Persoalannya adalah, bagaimana jika kemudian manusia dengan “kehendak bebasnya” justru mengarahkan pada pilihan yang tidak berpihak pada kemanusiaan? Inilah yang menjadi entri point bagi determinisme untuk menolak pandangan eksistensialis yang mengeliminasi kehadiran subjek di luar diri manusia. Dalam pandangan determinis, ada hukum-hukum awal yang menguasai semua hal, tanpa pengecualian, dalam bentuk rangkaian kausa dan akibat. (Leahy, Siapakah Manusia?, 2001, h. 207). Dan termasuk manusia tidak dapat melepaskan diri darinya.

Determinisme teologis meletakkan manusia secara mutlak dalam kuasa Tuhan. Meskipun tampak bebas, tetapi manusia sama sekali tidak memiliki kebebasannya secara mutlak melainkan ia sudah “ditentukan”, diatur dalam segala perbuatannya. Pandangan ini didasarkan pada dua alasan, yaitu kemahatahuan dan  kemahakuasaan Tuhan. Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu bahkan sebelum hal itu terjadi, sehingga Tuhan dengan kuasa-Nya sudah “menentukan” apa yang harus terjadi, dan manusia hanya berjalan di atas ketentuan Tuhan tersebut, tidak memiliki kebebasannya sendiri. (Leahy, h. 213).

Bentuk determinisme teologis ini tergambar secara jelas melalui aliran jabariyah dalam Islam atau otoritarianisme gereja pada abad pertengahan di Eropa. Tentu saja, argumentasi deterministik ini menyisakan kerapuhan bagi eksistensi manusia. Dalam penerimaan yang salah, kemudian manusia seringkali ditempatkan dalam posisi bersaing dengan Tuhan dalam memperebutkan kebebasannya.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut