https://nuansaislam.com/Risalah Kebebasan (1)

Manusia diciptakan bebas dan ia tetap bebas, sekalipun lahir terbelenggu – Friedrich Schiller –

Benarkah manusia memiliki kebebasannya sendiri? Kenyataan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan, meniscayakan adanya sebuah meta-asumsi bahwa ada di luar diri manusia yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia itu. Pendapat ini memang terkesan apriori, tetapi begitulah kesan pertama yang mampir dalam fakultas pengetahuan sementara kita. Manusia dengan sendirinya tidak bebas melakukan seperti apa yang diinginkannya. Ia terikat oleh sekian banyak aturan dan tatanan, yang sesungguhnya berasal dari luar dirinya.

Pembicaraan tentang kebebasan telah berkembang jauh sejak pemikiran filsafat Yunani, meskipun dalam pembahasan yang masih tidak tersistematis, bahkan tidak menjadi – meminjam istilah posmodernisme – Grand Naratie (narasi besar). Pembahasan yang lebih serius dan runut bisa ditemukan dalam perkembangan pemikiran Eropa, terutama masa Pencerahan (Aufklaarung), Revolusi Prancis, dan gerakan hak asasi manusia sesudahnya. Puncaknya, ketika Nietzcshe secara tegas mengumandangkan “kematian Tuhan” untuk selanjutnya memproklamirkan lahirnya manusia-manusia bebas, manusia unggul (übermensch) yang memiliki kuasa atas dirinya sendiri, manusia jas sagen (yes sayer) yang mampu selalu berkata “iya” bagi kehidupannya, tanpa terikat dan terbelenggu oleh determinasi agama dan Tuhan. Tampaknya, Nietzsche adalah pewaris utama dari ajaran antroposentris yang jauh sebelumnya telah digagas oleh Protagoras dengan diktumnya bahwa “manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia menganggapnya demikian maka demikianlah adanya, dan jika tak demikian, maka tak demikian pula“. (Russel, Sejarah Filsafat Barat, 2004, h.105).

Kebebasan adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua manusia, meskipun seringkali sulit mendefinisikan secara tepat kebebasan seperti apa yang dimaksud. Kebebasan lebih sering diartikan sebagai pengalaman batin. Henri Bergson menyebut kebebasan sebagai hubungan antara “aku konkrit” dengan perbuatan yang dilakukannya. (Bertens, Etika, 2004, h. 93). Maka kebebasan hanya bisa dirasakan oleh individu atas dirinya sendiri dengan mengukur “aku konkrit”-nya dengan perbuatan yang dilakukannya. Semakin “aku konkrit” mengafirmasi perbuatan yang dilakukan maka ia semakin bebas, sebab penolakan (negasi) atas perbuatan mengandaikan ketidakbebasan untuk melakukan oposisi dari perbuatan tersebut.

Dari sini kebebasan diandaikan sebagai ketidakterikatan manusia dengan selain dirinya, bahwa dia bebas berbuat dan berkehendak tanpa terhalangi oleh aturan-aturan lain selain yang diinginkannya. Lebih tegas, Isaiah Berlin mengontraskan dua pandangan tentang kebebasan, yaitu kebebasan positif (bebas untuk) dan kebebasan negatif (bebas dari). Kebebasan positif adalah kebebasan sebagai realisasi diri, sebagai kontrol dan peguasaan diri oleh rasionalitas, sedangkan kebebasan negatif adalah situasi tidak adanya tekanan, hambatan, atau paksaan dari luar diri. (Sahal, Empat Esai Kebebasan, 2004, h. xvi-vii).

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut