https://nuansaislam.com/Mu'tazilah dan Asy'ariyah

Mu’tazilah dikenal sebagai golongan rasional yang menjelaskan persoalan-persoalan teologis dengan lebih banyak menggunakan nalar. Kelompok Mu’tazilah sangat terpengaruh oleh filsafat Yunani untuk menemukan landasan-landasan pahamnya. Dalam menetapkan prinsip-prinsip aqidah, kelompok ini berpegang pada premis-premis logika, kecuali dalam hal yang tidak dapat ditetapkan kecuali dengan menggunakan dalil naqly.

Pada umumnya, ulama berpendapat bahwa tokoh utama golongan ini adalah Washil bin Atha, yang memisahkan diri dari forum kajian yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri karena tidak sependapat dalam hal pelaku dosa besar. Washil berpendapat bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin bukan pula kafir, tetapi berada di antara dua posisi itu. Washil kemudian memisahkan diri dari kajian Hasan al-Bashri dan membentuk kajian baru di masjid yang sama.

Tetapi dalam kitab-kitab Mu’tazilah, para penulisnya berpendapat bahwa awal munculnya paham itu jauh lebih dahulu dari kisah Washil bin Atha’ tersebut. Sebagian berpendapat bahwa golongan ini mulai timbul sebagai satu kelompok di kalangan pengikut Ali bin Abi Thalib. Mereka mengasingkan diri dari masalah politik dan beralih ke masalah aqidah ketika Hasan turun dari jabatan khalifah yang digantikan oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Abu Hasan al-Thara’ifi menuliskan dalam bukunya Ahl al-Ahwa wa al-Bida’ bahwa, “mereka menamakan diri dengan Mu’tazilah ketika Hasan ibn Ali membai’at Mu’awiyah dan menyerahkan jabatan khalifah kepadanya. Mereka mengasingkan diri dari Hasan, Mu’awiyah dan semua orang. Mereka menetap di rumah-rumah dan masjid-masjid, mereka berkata: ‘Kami bergelut dengan ilmu dan ibadah’.”[1]

Ajaran utama Mu’tazilah dituangkan dalam lima prinsip utama yang disebut dengan al-ushul al-khamsah. Abu Hasan al-Khayyath dalam bukunya Al-Intishar mengatakan, “Tidak seorang pun berhak mengaku sebagai Mu’tazilah sebelum ia mengakui al-ushul al-khamsah, yaitu at-tauhid, al-‘adl, al-wa’du wal wa’id, al-manzilah bain al-manzilatain, dan al-amr bil ma’ruf wa an-nahy ‘an al-munkar. Jika telah mengakui semuanya, ia baru dapat disebut penganut Mu’tazilah”.[2]

Kelompok ini mendapat dukungan yang luas, khususnya dari kalangan intelektual, pada masa pemerintahan Khalifah al-Makmun, terutama setelah Mu’tazilah ditetapkan sebagai mazhab resmi negara. Hal ini juga didukung oleh latar belakang kehidupan al-Makmun yang dididik dalam tradisi pemikiran Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.[3]

Ketika al-Mutawakkil berkuasa, ia menjauhkan pengaruh Mu’tazilah dari pemerintahan. Sebaliknya, ia mendekati lawan-lawan Mu’tazilah dari kalangan fuqaha dan ulama-ulama Sunni. Pada akhir abad ke-3 H muncul dua tokoh yang menonjol dalam melakukan penentangan terhadap pemikiran kelompok Mu’tazilah, yaitu Abu Hasan al-Asy’ary di Bashrah dan Abu Mansur al-Maturidi di Samarkand.

Abu Hasan al-Asy’ary dilahirkan di Bashrah pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 330 H. Pada awalnya al-Asy’ari adalah seorang Mu’tazilah. Ia mempelajari ilmu Kalam dari seorang tokoh Mu’tazilah, Abu Ali al-Jubba’i. Al-Asy’ary adalah pembela Mu’tazilah sampai usia 40 tahun. Keluarnya al-Asy’ary dari Mu’tazilah, menurut As-Subki dan Ibn Asakir, disebabkan mimpinya bertemu dengan Rasulullah saw yang memintanya untuk kembali kepada ajaran Ahli Hadis.[4] Pendapat lain mengatakan bahwa keluarnya al-Asy’ary dari Mu’tazilah karena ketidakpuasannya atas jawaban gurunya, Al-Jubba’i, ketika ia menanyakan kedudukan mukmin, kafir, dan anak kecil di akhirat.[5]

Dalam perenungannya, Al-Asy’ary selama beberapa waktu berdiam diri di rumahnya dan mengkaji dalil-dalil kelompok Mu’tazilah dan kelompok fuqaha dan Ahl Hadis. Setelah itu ia keluar menemui masyarakat dan mengundang mereka berkumpul. Ia kemudian naik ke mimbar pada hari Jum’at di Masjid Jami’ Bashrah dan berkata, “Saya pernah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tidak terlihat oleh indera penglihatan kelak pada hari kiamat, dan bahwa perbuatan-perbuatan saya yang tidak baik, maka saya sendirilah yang melakukannya. Kini saya bertaubat dari pendapat seperti itu serta siap untuk menolak pendapat Mu’tazilah dan mengungkapkan kelemahan mereka...”[6]

Mazhab al-Asy’ariyah yang lebih dikenal dengan mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah mendapat banyak pengikut. Banyak tokoh terkemuka yang menguatkan pandangan al-Asy’ary, bahkan sebagian mereka berpegang pada pendapatnya secara fanatik baik pada kesimpulan yang dicapainya, maupun dalam penggunaan premis untuk sampai pada kesimpulan. Di antara tokoh yang terkenal antara lain Abu Bakar al-Baqillani (403 H) dan Imam al-Ghazali (w. 505 H).[]

 

 

[1]Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Pamulang: Gaya Media Pratama, cet. Ke-2, 2011, hal. 149

[2]Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik..... hal. 151

[3]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, jilid 3, cet. Ke-3, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoove, 1994, hal. 291

[4]Jalal Muhammad Abdul Hamid Musa, Nasy’ah al-Asy’ariyyah wa Tathawwuruha, Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnany, 1982, hal. 171-2

[5]Jalal Muhammad Abdul Hamid Musa, Nasy’ah al-Asy’ariyyah.... hal. 175

[6]Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik..... hal. 190

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut