https://nuansaislam.com/Kota di Masa Pandemi

Kitalah yang membangun kota dan kita pula yang mengutuknya. Kita yang menikmati gemerlap kota dan kita pula yang tersedu karena kekejamannya. Ketika sebuah wabah merebak, maka dia pertama kali akan mencari lalu menyerang kota-kota di mana nafas saling bertukar, suara saling sahut-menyahut, dan jejak kaki bertupuk-tumpuk.

Kota sesungguhnya adalah artefak kesediaan hidup menetap di sebuah tempat dan berikrar bersama dalam suka dan duka. Kesediaan itu dengan sendirinya membutuhkan sistem yang menyediakan kesempatan untuk semua warga bisa berkembang sesuai kapasitasnya masing-masing. Meski mulanya kecil, kesempatan tersebut melahirkan kesejahteraan dan juga ledakan penduduk; dua hal yang saling membutuhkan. Ledakan penduduk menciptakan lapangan kerja dan lapangan kerja membutuhkan penduduk. Lalu lahirlah birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh.

Birokrat dan penjaga keamanan diongkosi oleh para pedagang dan buruh. Sebagai balasannya, para birokrat dan panjaga kemanan memelihara sistem dan menegakkan hukum serta ketertiban. Rasa takut terhadap kaos yang membuat perdagangan mandek mengkhawatirkan para pedagang dan juga menakutkan para buruh jika membuat mereka tidak bisa lagi bekerja. Begitulah sistem bekerja sebagaimana adanya.

Namun sebuah sistem tidaklah cukup karena hanya mampu menanggulangi risiko yang terukur. Bagaimana dengan risiko yang tidak kedatangannya berada di luar perhitungan? Misalnya, bencana alam, wabah penyakit, dan kematian itu sendiri. Di sinilah fungsi agama menjadi sangat penting.

Di masa lalu, ribuan tahun sebelum tahun Masehi, agama menjadi penjaga sistem dan memberikan legitimasi bagi sistem dan para pelaku dalam sistem. Agama pada waktu itu memahami bahwa sistem yang membuat kota berjalan sebagaimana adanya adalah sistem tiruan dari sistem kosmik. Keteraturan kota dengan sistemnya hanyalah tiruan dari keteraturan sistem kosmik yang menjaga keteraturan alam semesta. Demikian pula, para pelaku dalam sistem—birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh—juga adalah tiruan dari para dewa yang juga merupakan pelaku pada sistem kosmik. Karenanya, tindakan birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh yang bekerjasama menjaga sistem di dunia agar berjalan lancar adalah meniru tindakan para dewa.

Salah satu kisah yang diyakini oleh penganut agama pada waktu itu adalah bahwa jauh sebelum manusia ada, konon, para dewa telah tinggal di kota-kota, menanam makanan sendiri dan mengelola sistem irigasi. Setelah peristiwa Banjir Besar, para dewa menarik diri dari bumi dan naik ke langit lalu manusia lah yang menggantikan peran para dewa. Keyakinan ini seperti masih tidak asing bagi kita hingga sekarang.

Karena sebagai pengganti peran para dewa, semua tindakan manusiawi para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh, menjadi begitu bermakna (dalam bahasa agama saat ini: berpahala).

Kini, kala pandemi datang bertandang, bagaimana kota menyikapinya? Bisakah warga kota memandangnya sebagaimana warga kota ribuah tahun sebelum Masehi memandangnya? Bisakah warga kota memandang setiap tindakan para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh dalam menyikapi pandemi adalah semata-mata bentuk tiruan dari tindakan para dewa dan karena itu adalah tindakan sakral dan karena itu pula harus dihormati? Bolehlah berandai-andai jika warga kota memandang seperti itu, barangkali pandemi ini bisa ditanggulangi. Tapi itu hanya andai-andai. Bukan hanya andai-andai tentang pandangan warga kota, tetapi juga andai-andai tentang berlalunya pandemi.

Kenyatannya, warga kota kini mempunya pandangan religius berbeda. Ada kemungkinan masing-masing warga menganggap tindakannya adalah tindakan religius. Persoalannya, mereka tidak menganggap tindakan warga lain juga sebagai hal yang religius. Dengan kata lain, berbeda dengan warga kota ribuan tahun sebelum Masehi, warga kota kini tidak menganggap tindakan mereka adalah bagian dari sebuah sistem yang satu. Tidak ada lagi keyakinan bahwa tindakan para birokrat, penjaga keamanan, pedagang, dan juga buruh adalah tiruan gerak kosmis.

Mengingat religiusitas tidak lagi mampu menyakinkan warga kota kini untuk bergerak bersama untuk melawan ancaman bersama berupa pandemi, apa lagi yang tersisa untuk bergerak bersama? Masihkah ada kemungkinan bergerak bersama tanpa landasan keyakinan religius? Jika ada, bukankah itu nantinya menjadi sasaran empuk para pejuang religiusitas yang menganggap sistem tersebut adalah sistem buatan manusia dan karena itu pasti kalah dan karena sebuah sistem haruslah buatan Tuhan bukan buatan manusia?

Kitalah yang membangun kota dan kita pula yang mengutuknya. Kita yang menikmati gemerlap kota dan kita pula yang tersedu karena kekejamannya.[]

Bahan Bacaan

Karen Armstrong, Fields of Blood: Mengurasi Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan: Bandung: Mizan, 2017.

by Dr. Abd. Muid N., MA. (Dosen Institut PTIQ Jakarta)

Tulisan ini sebelumnya dimuat di situs AKURAT.CO

https://akurat.co/id-1130428-read-kota-di-masa-pandemi

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut