https://nuansaislam.com/Asbabun Nuzul Tematik

ASBABUN NUZUL TEMATIK

Oleh: Ahmad Yani

Judul Buku   : Asbabun Nuzul Tematik

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani

Tebal Buku   : xxii+692 Halaman

Ukuran         : 16,5 x 24 cm

Harga           : Rp 200.000+ongkir

Penerbit        : Khairu Ummah (HP/WA 0812-9021-953)

Para Nabi mendapatkan mukjizat yang diberikan Allah swt, termasuk Nabi Muhammad saw. Mukjizat para nabi sebelum Nabi Muhammad saw hanya tinggal cerita, tidak bisa kita nikmati lagi. Tapi, mukjizat Nabi Muhammad saw, yakni Al Quran masih bisa kita nikmati hingga berakhirnya kehidupan di dunia ini. Karena itu, setiap kita harus berinteraksi kepada Al Quran dalam bentuk meyakini kebenarannya sebagai wahyu, membaca dengan baik, memahami hingga memiliki kedalaman makna, mengamalkan secara terus menerus hingga mendakwahkannya kepada banyak orang. Ini merupakan kenikmatan yang hanya dirasakan oleh orang yang memenuhi interaksi yang demikian.

Ada banyak pendekatan untuk bisa memahami Al Quran, salah satunya dari memahami asbabun nuzul. Karena itu, dengan memahami asbabun nuzul, kita terhindar dari salah paham, apalagi gagal paham dan terhindar juga dari penyalahgunaan ayat untuk kepentingan yang tidak sesuai. Hal ini sangat penting, karena banyak orang yang sesat karena salah paham terhadap maksud suatu ayat Al Quran atau memang sengaja untuk mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya dengan menggunakan ayat.   

Secara harfiyah, Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab turun, yakni sebab turunnya ayat-ayat Al Quran. Asbabun Nuzul merupakan peristiwa yang terjadi ketika turunnya suatu ayat

Saya bukanlah pakar Al Quran, tidak cukup syarat juga untuk mengajarkan apalagi menafsirkan Al Quran. Tapi dalam khutbah dan ceramah, penjelasan Al Quran harus saya sampaikan, karenanya buku-buku tafsir harus dibaca. Buku ini semula saya susun untuk kebutuhan mengisi pengajian rutin tentang asbabun nuzul (sebab turunnya ayat Al Quran). Selama ini, kalau kita membaca dan mempelajari asbabun nuzul, urutannya berdasarkan susunan surat di dalam Al Quran, mulai dari Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa dan seterusnya. Dalam pengajian itu, saya coba membahasnya berdasarkan masalah atau tema. Ternyata setelah dibahas, menarik juga dalam upaya mendapatkan pemahaman secara utuh. Sesudah meminta tanggapan kepada beberapa ustadz, apalagi belum ada buku dengan format penulisan seperti ini, maka saya susun buku ini hingga mendapatkan judul Asbabun Nuzul Tematik.

Buku Asbabun Nuzul yang ditulis oleh Imam Suyuti merupakan referensi utama buku ini, ditambah dengan beberapa buku tafsir seperti Tafsir Al Munir yang ditulis oleh Wahbah Zuhaili, Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, Tafsir Al Mishbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, dan sebagainya.

Buku ini disebut Asbabun Nuzul Tematik karena memang disusun berdasarkan tema yang dikelompokkan menjadi 20 tema, terdiri dari aqidah, akhlak, akhirat, hukum, shalat, puasa, haji, Al Quran, masjid, kafir dan musyrik, munafik, Yahudi dan Nasrani, nikah dan keluarga, jin dan syaitan, Nabi, yatim, perang, dakwah, wanita, dan harta. Dari 20 tema ini, kisah-kisah dalam asbabun nuzul sebanyak 521 judul. Setiap pembahasan diakhiri dengan hikmah atau pelajaran yang harus kita ambil.

Respon Allah swt dan jawaban atas pertanyaan kepada Nabi Muhammad saw mewarnai sebab turunnya ayat. Berikut ini contoh ayat yang turun karena respon Allah swt dan jawaban atas pertanyaan kepada nabi saw.

JANGAN HANYA MEMERINTAH

Ketika kita memerintahkan kebaikan kepada orang lain, maka seharusnya kitapun melaksanakan perintah itu.

Ibnu Abbas menceritakan seperti yang diriwayatkan dari Al Wahidi dan Ats Tsa’labi dari jalur Al Kalbi dari Abu Shaleh: Salah seorang Yahudi Madinah berkata kepada anggota keluarganya seperti menantu, kerabat dan orang-orang yang punya hubungan sesusuan dengannya  yang semuanya sudah menjadi muslim “Tetaplah pada agama kalian dan apa yang diperintahkan oleh orang itu (Muhammad saw) karena apa yang diperintahkannya adalah benar.”

Orang-orang Yahudi memang suka menganjurkan kepada banyak orang untuk melakukan kebaikan, meskipun mereka sendiri tidak melakukannya. Karena itu, Allah swt menurunkan firman-Nya:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS Al Baqarah [2]:44)

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Nilai-nilai kebaikan seharusnya menjadi karakter yang melekat dalam kepribadian kita.
  2. Memerintahkan kebaikan seharusnya membuat kita semakin memiliki beban moral untuk melaksanakan kebaikan itu, bukan semata-mata menyuruh orang lain berbuat baik, sementara sikap dan prilaku kita justeru bertentangan dengan kebaikan itu.
  3. Dalam konteks pendidikan dan dakwah, tidak melaksanakan apa yang kita perintahkan hanya membuat wibawa kita jatuh, bahkan Allah swt menjadi murka.

Selain respon Allah, ada lagi berupa pertanyaan dari berbagai pihak kepada Nabi Muhammad saw, tidak semua masalah harus dijawab oleh Nabi, karenanya Allah swt turunkan ayat untuk menjawabnya. Diantara contohnya:

ALLAH ITU DEKAT

Merasa dekat dengan Allah membuat manusia selalu merasa diawasi, lalu tidak berani menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan lain-lain bahwa suatu ketika seorang Arab Badui mendatangi Nabi saw, lalu berkata: “Allah itu dekat atau jauh. Bila dekat kita cukup berdoa dengan berbisik dan bila jauh kita memohon kepada-Nya dengan berteriak memanggilnya.”

Rasulullah saw terdiam, lalu turunlah firman Allah swt:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah [2]:186).

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Allah swt menyatakan bahwa Dia dekat kepada manusia, persoalannya adalah kita merasa dekat atau tidak. Rasa dekat membuat kita tidak mau menyimpang dari ketentuan-Nya karena kita selalu merasa diawasi.
  2. Doa merupakan inti ibadah. Ketika kita berdoa, setiap kita harus yakin bahwa Allah swt mengabulkannya.
  3. Doa pasti dikabulkan oleh Allah swt apabila kita menunjukkan ketaatan kepada-Nya, mengokohkan keimanan dan selalu berada di jalan yang benar.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut