https://nuansaislam.com/Qadha

Secara bahasa dalam bahasa arab berasal dari kata qadha yaqdhi yang bermakna melaksanakan, melakukan[1], menghukum[2], maka kata qadha bisa diartikan sebagai pelaksanaan atau pemenuhan, sedangkan makna qadha dalam istilah, ada beberapa makna diantaranya: melaksanakan hukum syariat yang diwajibkan kepadanya[3], melaksanakan suatu kewajiban diluar waktunya[4], yang telah ditentukan oleh syariat[5], melaksanakan suatu kewajiban pada waktu lainnya, disebabkan karena terlewat waktu pelaksanaannya, sakit atau udzur lainnya[6].

Qadha dalam ibadah

Setelah kita mengetahui makna qadha secara bahasa juga istilah, maka penggunaan qadha dalam praktek ibadah berlaku pada beberapa ibadah yang telah disyariatkan diantaranya:

Pertama, Qadha puasa ramadhan

Barangsaiapa berbuka puasa di bulan ramadhan dikarenakan udzur syar’i seperti sakit, musafir, haid dan nifas untuk wanita, maka wajib baginya mengqadha puasanya diwaktu lain setelah ramadhan selesai, sesuai jumlah hari yang berbuka puasanya, hal ini sesuai firman Allah swt,

 وَمَن كَانَ مَرِیضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَر فَعِدَّة مِّنۡ أَیَّامٍ أُخَرَۗ

Barangsiapa sakit atau bepergian dan berbuka puasa maka menggantinya sesuai jumlah hari berbukannya di waktu lainnya(QS. Al-Baqarah[2]:185)

Adapun pelaksanaan waktu qadhanya adalah, setelah selesai bulan ramadhan sampai sebelum ramadhan yang akan datang, dan tidak boleh menunda qadha sampai ketemu ramadhan lagi tanpa ada udzur syar’I, adapun dalil yang menunjukkan luasnya waktu qadha puasa ramadhan adalah perkataan ‘Aisyah,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.(HR. Bukhari(1849), Muslim(1146))

Namun yang utama adalah menyegerakan dalam mengqadha puasa wajib ramadhan. Dan apabila meninggal, sedangkan mempunyai kewajiban qadha, maka diqadhakan oleh walinya, hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw,

عن عائشة - رضي الله عنها - أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال: ((مَن مَاتَ وَعَـلَيْهِ صِيَام، صَامَ عَنْهُ وَليُّه))؛ متفق عليه

Dari Aisya ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda: barang siapa meninggal dan atasnya kewajiban puasa, maka dilakukan puasanya oleh walinya(Muttafaq alaih)

Dalam melaksanakan qadha boleh dilakukan secara berturut-turut dan terpisah, hal ini sesuai riawayat dari ibnu Syaibah dari Anas bin Malik,

روى ابن أبي شيبة عن أنس بن مالك قال: إِنْ شِئْتَ فَاقْضِ رَمَضَان مُتَتَابِعًا، وَإِنْ شِئْتَ مُتَفَرِقًا؛ (إسناده صحيح) (مصنف ابن أبي شيبة جـ 4 صـ 50 رقم 9206.)

Ibnu Abi Syaibah meriwaytkan dari Anas bin Malik berkata: jika kamu mau maka lakukan qadha secara berturut-turut, dan jika engkau suka lakukan qadha secara terpisah(Mushannif Abi Syaibah)

Dan barangsiapa menunda qadha sampai ketemu ramadhan kembali, tanpa adanya udzur syari, maka wajib atasnya kifarat, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari ramadhan yang wajib diqadha[7].

Apabila seseorang meninggalkan puasa ramadhan tanpa udzur sya’I, maka mayoritas ulama tetap wajib qadha, walaupun ada sebagian ulama yang mengatakan tidak wajib qadha karena tidak ada faedahnya.

Kedua, Shalat Fardhu

Mengqadha shalat artinya adalah melaksanakan shalat diluar waktu sebenarnya, untuk menggantikan shalat yang terlewat, dalam hal ini ada dua kategori orang yang meninggal shalat fardhu dan cara mengqadhanya, yaitu:

Pertama, meninggalkan shalat karena tidak disengaja, seperti ketiduran, lupa, pingsan. Para ulama sepakat bahwa kondisi seperti ini diwajibkan mengqadha shalatnya, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw,

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا؛ فَـلْـيُصَلِهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ingat” (HR. Al Bazzar 13/21, shahih).

Dan tidak dosa baginya, karena qadhanya sebagai kafaratnya, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw,

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، أَوْ نَامَ عَنْهَا، فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“barangsiapa yang lupa shalat, atau terlewat karena tertidur, maka kafarahnya adalah ia kerjakan ketika ia ingat” (HR. Muslim no. 684).

Kedua, sengaja meninggalkana shalat fardhu, untuk kondisi seperti ini para ulama berbeda pendapat, pertama, jumhur ulama mewajibkan qadha, bahkan imam Nawawi mengatakan itu adalah ijma’nya para ulama atas wajibnya qadha shalat[8], kedua, tidak mewajibkan qadha, dan yang tidak mewajibkan qadha menganjurkan untuk memperbanyak amalan kebaikan, shalat sunnah dan bertaubat[9].

Adapun tata cara mengqadha shalat adalah untuk yang meninggalkan shalat karena tidak sengaja, maka ketika teringat atau bangun dari tidurnya atau siuman dari pingsannya, segera mengqadha shalatnya, dan jika shalat yang tinggalkan lebih dari satu waktu maka sebaiknya diqadha sekalugus semuanya, hal ini sebagaimana terjadi pada nabi saw pada perang khandaq,yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud,

 قال ابن مسعود: إنَّ المشرِكينَ شغَلوا النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن أربعِ صلَواتٍ يومَ الخندقِ فأمرَ بلالًا فأذَّنَ ثمَّ أقامَ فصلَّى الظُّهرَ ثمَّ أقامَ فصلَّى العصرَ ثمَّ أقامَ فصلَّى المغربَ ، ثمَّ أقامَ فصلَّى العِشاءَ(رواه النسائي)

Berkata Abdullah bin Mas’ud: sesungguhnya orang-orang musyrik membuat Nabi saw sibuk  sampai meninggalkan empat shalat fardhu pada perang Khandaq, maka Nabi saw memerintahkan Bilal untuk adzan kemudian qamat dan shalat dhuhur, kemudian qomat dan shalat asar, kemudian qomat dan shalat maghrib, kemudian qomat dan shalat isya(HR. Nasai)

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir
  2. Ibnu Manzhur, Lisanul Arab
  3. Syarbini Khotib, Mughnil muhtaj(4/376)
  4. Hasyiah ibnu ‘Abidin(1/4487)
  5. Abdullah bin Yusuf, Taisir ilm Ushul fiqh, 69
  6. Sulaiman bin Abdulqawiy, Mukhtashar Syarhurroudhah, 447
  7. Ibnu Rusyd, Bidayatulmujtahid,1/444, Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 4/398
  8. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’,3/71
  9. Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 2/10

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut