https://nuansaislam.com/Konsumen vs Konstituen

Agama kini memasuki fase yang cukup aneh. Di satu sisi, agama menjadi begitu penting dalam kehidupan. Setiap calon kepala kampung, kepala desa, kepala kota, kepala daerah, hingga kepala negara, tidak bisa tidak harus bersikap dan berpenampilan agamis jika hendak terpilih. Setiap penampilan agamis bagi selebritas adalah calon lumbung uang karena itu bisa menggaet pasar potensial. Setiap iklan, bahkan iklan pemutih kulit ketek pun, wajib menampilkan penampil agamis. Begitu dan seterusnya.

Namun gelombang yang sebaliknya juga sedang pasang. Banyak kelompok yang tidak percaya kepada institusi agama sebagai jalan untuk hidup yang lebih baik. Setiap yang bernuanasa agama pastilah dicurigai sebagai wajah lain dari kapitalisme, politisasi, atau semata-mata penguatan identitas sesaat namun menguntungkan. Kelompok ini barangkali berawal dari tidak percaya kepada orang-orang beragama karena tingkah mereka, tapi lama-kelamaan juga tidak percaya kepada institusi agama itu sendiri.

Kedua kecenderungan di atas menunjukkan gejala semakin lama semakin menguat dan membesar karena yang satu adalah makanan bagi yang lain. Keduanya saling menggemukkan. Kecenderungan pertama semakin kuat karena di seberang sana mereka melihat begitu banyak yang alergi terhadap simbol-simbol agama sehingga mereka malah semakin mensyiarkan simbolisme agama tersebut sebagai tandingan atau hanya untuk bikin kesel.

Kecenderunga kedua juga semakin menguat karena di seberang sana mereka saksikan betapa semua itu hanyalah simbol semata-mata yang lebih banyak mengingkari isi daripada mengonfirmasinya. Kerena itu, syiar mereka pun tidak tanggung-tanggung. Mereka melawan simbol-simbol agama dengan simbol-simbol tandingan. Juga barangkali untuk bikin kesel.

Mari kita lihat bagaimana agama (umat beragama) merespon pandemi. Respon agama terhadap pandemi ini salah satu cara untuk melihat wajah kedua kecenderungan di atas secara telanjang.

Ketika ada anjuran untuk tidak berjamaah, maka gelombang untuk tetap berjamaah malah semakin menguat. Jauh lebih kuat daripada seandainya anjuran untuk tidak berjamaah itu tidak ada. Beberapa kelompok—tetangga saya—malah mencari hingga masjid terjauh untuk tetap melaksanakan jamaah karena masjid dekat rumahnya tertutup. Bisa dibayangkan, betapa membludak masjid yang jauh itu karena semua berjamaah di sana. Dan betapa besar risiko penyebaran yang dikandungnya.

Di pihak berseberangan ada umat yang mencibir mereka yang berjamaah karena muak dengan simbolisme beragama yang diamalkan. Apakah mereka sedang mengikuti anjuran untuk tidak berjamaah? Tidak juga. Banyak di antara mereka yang memang sudah tidak berjamaah jauh sebelum anjuran tidak berjamaah ditetapkan.

Tulisan ini tidak tertarik menghakimi mana yang lebih mulia di antara dua kecenderungan di atas. Tulisan ini hanya hendak menangisi betapa berbahayanya simbolisme beragama, namun juga menangisi betapa mudahnya beragama secara simbolis. Sibolisme beragama dan beragama secara simbolis sama bahayanya.

Ya, titik temu antara kedua kecenderungan tadi adalah simbolisme. Keduanya sama-sama memuja simbol-simbol. Kecenderungan pertama jelas sangat memuja simbol seperti pakaian, penampilan, hingga perkumpulan yang berbasis agama. Mereka merasa, tanpa simbol-simbol itu, mereka tidak beragama sama-sekali.

Kecenderungan kedua juga cinta mati kepada simbol. Meskipun secara kasat mata mereka membenci simbol-simbol agama, namun sesungguhnya mereka penganut simbolime garis keras yang taat. Buktinya, mengapa mereka begitu benci kepada simbol-simbol agama jika memang mereka tidak menganut simbolisme? Jika memang simbol-simbol itu tidak penting, mengapa harus payah-payah menyimpan sebagian energi untuk membencinya?

Semua ini terjadi berawal dari simbolisme beragama dan beragama secara simbolik. Karena sama-sama memuja simbol, tidak satupun dari kedua kecenderungan tersebut yang sampai kepada titik terdalam agama meskipun barangkali keduanya merasa demikian. Yang sesungguhnya terjadi adalah keduanya menjadi santapan empuk para petualang kapital dan broker politik yang sedang mencari kosumen dan konstituen.[]

Bahan Bacaan

Karen Arsmstrong, The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan, Bandung: Mizan, 2013.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut