https://nuansaislam.com/Berdamai dengan Pandemi

Sejak awal Maret 2020, publik dalam negeri dihentak kabar kasus pertama penyebaran Virus Corona. Setelah sebelumnya hanya me-wara-wiri di dunia maya, perlahan, Indonesia mengawali kurva-nya. Gerak grafis hanya berisi dua kecenderungan garis, meninggi dan  melandai. Mimpi garis melengkung tak kunjung tiba, hingga memasuki bulan ketiga.

Sejumlah metode dan strategi dilakukan, semua berada dalam satu tujuan: percepatan penanganan COVID-19. Disadari, bukan perkara mudah membasmi dan menghilangkan virus. Yang bisa diikhtiarkan, lebih berupa percepatan penanganan. Mengidentifikasi muasalnya, memetakan penyebarannya dan merawat mereka yang terinfeksi agar memperoleh kesembuhan kembali.

Di sudut lain, geliat dunia terasa terhenti. Kiamat kecil seakan menghampiri. Gerak sejarah seperti sedang mengarah pada dinding kecemasan dan ketakutan. Jurang neraka begitu dekat bagi para penikmat surga dengan segala orkestra yang mengiringinya.

Dimensi kehidupan berwarna redup di tengah cerah gulita alam semesta yang sedang bersemi dan memekar. Negara kalang kabut, pasar surut seiring lalu lintas manusia yang semakin menyusut. Sementara warga negara semakin tertunduk di hadapan kebijakan yang tidak biasa. Dalam kurun waktu yang lama, kurikulum kewarganengaraan dan kepemimpinan nyaris tidak mencantumkan bab khusus tentang berwarga negara dan memimpin di masa pandemi.

Wajah murung pemimpin negeri semakin sulit untuk tidak terbaca. Terkadang buram oleh derap langkah dan kerja, tapi kembali mendurja saat Juru Bicara meniup sangkakala berita. Statistik itu tidak tak kunjung menurun. Angka-angka itu tidak kunjung berhenti, walau sehari.

Kenyataan itulah yang mendefinisikan ulang arah respons terhadap COVID-19. Setelah sebelumnya, kita diseru untuk melawan, namun gerak landai yang sekejap lalu mengencang sesaat setelahnya, berkembang fluktuatif, menghardik keangkuhan dan keegoan.

Melawan bukan lagi diksi yang tepat untuk mengurai kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan. Melawan tidak lebih untuk menguliti rimbunan semangat yang tercerabut oleh proses oksidasi kesombongan. Sisanya adalah eufimistifikasi perlawanan Homo Sapiens dalam kekhawatiran tentang masa depan yang “hanya bisa” dilalui dengan cara “berdamai” dengan pandemi.

Bukan kali pertama manusia dipaksa tunduk oleh sejarah. Bukan kali ini juga, perlawanan terhadap segala bentuk penyakit sama sekali tidak menghasilkan yang menang dan yang kalah. Sejauh perlawanan dilakukan, selama itu pula keduanya saling membangun dinasti imunitas masing-masing.

Lalu di mana letak peperangan? Sejarah tentang perang, apapun bentuknya, tidak pernah mengundang decak kagum. Perang adalah pilihan terakhir. Sebab dengannya, yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Immanuel Kant pernah menyitir David Hume dengan berujar: “bila saya melihat perang, seperti seolah dua orang mabuk menghantam satu sama lain dengan pentungan dalam toko pecah belah. Bukan hanya perlu waktu panjang untuk sembuh dari babak belur, tapi mereka juga harus menggantikan kerusakan toko yang diakibatkan”.

Boleh jadi karena perang tehadap penyakit itu adalah perang terhadap penciptanya. Bukan semata perang terhadap musuh bebuyutan kemanusiaan, seperti anggapan Ivan Illich dalam “Medical Nemesis” (1975). Mungkin juga karena memang penyakit bukan hanya datang karena kekeliruan manusia, tetapi karena hak untuk sehat yang tidak pernah memperoleh perhatian.

“Jika engkau mendamba perdamaian, bersiaplah menghadapi perang”. Demikian salah satu ungkapan agitatif di masa-masa heroik. Perang adalah syarat untuk menghadirkan kedamaian. Atau, damai hanya bisa meng-ada melalui perang. Ratusan abad, damai dan perang dinjeksi dalam alam bawah sadar. Hubungannya yang cenderung regresif, seakan membuahkan kesimpulan statistik yang memiliki kebenaran yang sulit dibantah.

Tapi, pandemi ini bukan hanya bernuansa penyakit. Aneka ragam fakta bermunculan. Bukan hanya tentang kerumitan penjelasan dunia kedokteran, tapi juga tentang peliknya tradisi dan ritual yang saban hari meraung meminta untuk tidak disangkutpautkan. Pun tidak bisa dianggap semata fenomena kedokteran. Institusi beserta aparatus yang disebut-sebut sebagai garda terdepan, sementara dunia lainnya hanya sebagai followers.

Sulit memungkiri fakta bahwa situasi ini beranjak mengubah kebiasaan. Fakta bahwa jika sejak awal kita begitu “geram” atas situasi, perlahan menerimanya sebagai realita. Kita tidak lagi “melawan”, kita menyesuaikan diri. Kita yang tidak lagi mudah teracuni oleh penjelasan-penjelasan “konspiratif”, ketimbang berusaha “berdamai” dengan keadaan.

Perang tidak pernah murah, apalagi gratis. Perang selalu mengandalkan amunisi ketimbang nurani. Perang adalah proyek dehumanisasi, bukan kesadaran akan kepemilikan rasio. Karenanya, ungkapan Latin heroik itu sudah saatnya berubah: “Jika engkau mendamba perang, bersiaplah untuk berdamai”. Jika tidak, sampai kapan pedang itu akan kita hunus?

Meski bukan soal harga, damai pun tidaklah mudah. Jangankan berdamai dengan sesuatu di luar kita, yang telah merenggut kebebasan dan kelaziman, menyerabut orkestra surga dalam keseharian, apalagi berdamai dengan diri sendiri.

Damai itu kerja otak dan pikiran. Menukil ujaran Kant, “rasio sebenarnya selalu sudah berbisik-bisik: perang itu gila dan tidak manusiawi”. Dengan berdamai, kita memahami, mengerti dan mengakui diri, orang lain serta semesta kita. Menegosiasikan kelemahan dan keterbatasan, kekurangan dan ketidakmampuan.

Usia pandemi ini diprediksi masih panjang. Atau mungkin tidak akan hilang. Membutuhkan normalitas baru (new normal) dalam dunia yang sekilat berubah. Memerlukan pendefinisian baru atas teori-teori dalam berbagai dimensi kehidupan dan keilmuan yang ratusan abad bersarang di perpustakaan.

Kecuali kita termasuk manusia “keras kepala” untuk tetap melawan. Menutup diri akan perubahan. Seperti ungkapan Sherlock Holmes kepada kompatriotnya, Dr. Watson dalam sekuel Sherlock Holmes, 2009, “manusia cenderung mengubah-ubah fakta untuk sebuah teori, daripada mengubah teori untuk sebuah fakta”.      

Muhammad Adlan Nawawi adalah pemerhati pandemi yang sedang berdiam diri.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut