https://nuansaislam.com/Adab Mendengar & Berbicara

Oleh : Saat Mubarok, Lc

Dalam kajian Al-Quran terdapat bahasan Taqdim dan Ta'khir, mendahulukan dan mengakhirkan, yaitu tentang analisa kenapa menyebutkan sesuatu di awal atau mengakhirkannya. Ternyata seringkali yang di'taqdiim' itu menunjukkan pentingnya hal tersebut dicapai sebelum yang berikutnya. Walaupun kadang juga menunjukkan dalam satu kedudukan yang sama. Namun memberi kesan agar yang disebut sebelum itu diberi perhatian lebih misalnya.

"Dan dia memberikan hartanya dengan cinta kepada kerabat dekat dan anak yatim dan orang-orang miskin..." (QS. Al Baqarah : 177)

Ini memberi kesan dan pesan agar jangan sampai seseorang sangat perhatian kepada orang² miskin dan anak yatim, namum meninggalkan dan tidak peduli kepada kerabat dekatnya.

Judul catatan kecil ini mendahulukan menyebut adab mendengar, bukan adab berbicara, karena ingin memberi kesan bahwa sebelum menyentuh point adab masing² dari keduanya, maka adab pertama yang ingin ditanamkan adalah jadilah kita pendengar yang baik agar bisa menjadi pembicara yang baik. Beradablah ketika posisi kita sedang harus mendengar, maka -in syaa Allah- kita akan menjadi pribadi yang beradab ketika sedang berbicara.

Berbicara yang baik itu membutuhkan pondasi pemahaman yang cukup tentang apa yang disampaikan. Ilmu tentang tema yang dibicarakan menjadi pondasi penting kalau tidak disebut terpenting.

Salah satu sarana untuk mendapatkan dan meningkatkan keilmuan atau menjadi orang yang berilmu itu adalah dengan berani banyak-banyak mendengar dan menyimak. Maka jika seseorang itu pandai menyimak dengan baik, maka ia berpotensi besar menjadi orang yang berilmu. Dan orang² berilmu jika menjadikan ilmu sebagai nahkoda bagi hasrat dan dorongan nafsunya, maka ia akan menjadi pribadi yang bijak. Demikianlah urutan itu, menjadi pendengar yang baik akan mendorong seseorang menjadi orang yang berilmu, menggunakan ilmu dengan baik akan menjadikannya orang yang bijak.

Perhatikanlah bagaimana Allah dalam Al-Quran memadukan beberapa asma-Nya Yang Mulia. Dimana kumpulan asma dan sifat Allah adalah guru karakter hebat bagi para hamba-Nya.

Allah Ta'ala sebutkan untuk diri-Nya, bahwa Dia adalah As-Samii' Al-'Aliim, atau kadang Samii'un 'Aliim. Sedang pada ayat-ayat yang lain Allah kenalkan diri kepada kita dengan menggabungkan dua asma-Nya; Al-'Aliim Al-Hakiim, atau 'Aliimun Hakiimun.

Mari kita cermati urutan ini,

السميع العليم

العليم الحكيم

Ternyata kita tidak mendapati Allah Ta'ala memasangkan sifat As-Samii' dengan Al-'Hakiim. Jadi tidak kita dapati dalam Al-Qur'an gabungan sifat Samii'un Hakiim. 

Karena ini bagian dari Al-Quran, maka akan diikat cara pandang kita dengan firman Allah Ta'ala; Hudal linnaas, Hudal lilmuttaqiin, Al-Quran adalah petunjuk. Ia bagai sebuah kristal permata yang memancarkan pendar nur nya yang bisa dilihat dari arah manapun. Ia menyimpan dan memancar ke banyak penjuru.

Ternyata ketiga sifat Allah di atas sesuai urutan dan rangkaiannya, kita akan mendapati urutan sebagai berikut,

السميع  - العليم  -  الحكيم

Dari urutan ini, kita mendapatkan Inspirasi Qur'aniy bahwa jadilah kita pendengar yang baik (samii'), maka kita akan menjadi orang yang berilmu ('aliim). Jika kita berilmu, sudah seyogyanya kita menjadi orang yang bijak (hakiim).

Hasan Al-Bashri pernah berpesan, "Apabila engkau sedang duduk berbicara dengan orang lain, hendaknya engkau bersemangat mendengar melebihi semangat engkau berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah engkau memotong pembicaraan orang lain.” (Al-Muntaqa hal.72)

Mendengar itu perlu detail. Simak semuanya dengan baik agar tidak kehilangan tautan dari pesan-pesan yang ada, walau kadang kita sudah mengetahui apa yang sedang disampaikan, berpura-puralah tidak mengetahuinya.

Atha' bin Abi Rabah, berkata, " Ada seorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarnya, seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu, padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.” (Siyar A’laam An-Nubala 5/86)

Mendengar itu sangat butuh kemampuan memfilter, memilah mana yang baik bisa diikuti dan mana yang tidak baik harus ditinggalkan. Demikian Allah dalam firman-Nya memberi kabar gembira kepada hamba²-Nya yang pandai mendengar serta lihai memilah dan memilih untuk mengikuti yang ahsan. Fabasysyir 'ibaadiy.....

ٱلَّذِینَ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَیَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥۤۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik (ahsan) di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." (QS. Az-Zumar : 18)

Mendengar itu menunjukkan sikap menyenangkan, menyimak dengan baik, tanda memberi perhatian kepada yang sedang berbicara. Dalam kitab Al-Adabul Mufrod, Imam Bukhori mencatat riwayat dari Abu Hurairah yang menyampaikan bahwa Rasulullah ketika menghadap, beliau menghadapkan seluruh tubuh beliau. Tentunya sebagai bentuk perhatian kepada yang diajak atau yang sedang berbicara.

Mendengar itu menyimak dengan menunjukkan ekspresi wajah yang selaras dengan tema bahasannya. Menatap ke arah wajahnya, selama tidak melanggar nilai.  Jika mendengar informasi kesedihan, tampilkan air muka yang sesuai sebagai bukti empati. Seringkali walau tidak memberi usulan solusi, pendengar yang baik itu sudah punya andil memecahkan gumpalan permasalahan yang membuat sesak di dada, mencairkan kekalutan yang menyelimuti perasaan lawan bicaranya, membongkar kegelapan yang menutupi pandangan hatinya.

Jika mendengar ada adabnya, tentu berbicara pun ada adabnya. Maka bijaklah ketika kita harus menjadi pendengar, di saat yang sama tetap bijaklah ketika kita menjadi pembicara.

Berbicara yang beradab itu berkata yang baik, atau lebih baik diam jika tidak bisa berkata baik. Iman seseorang juga diukur dengan baik buruknya ia dalam berbicara.

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata-kata dengan baik, atau  (kalo tidak bisa) diamlah. (HR. Bukhori Muslim)

Berbicara itu harus mampu memilih kata yg tepat, disesuaikan dengan lawan bicara. Tentunya tidak sama berbicara dengan teman seusia dan dengan orang yang jauh lebih tua.  Berbicara yang baik itu tidak dengan merendahkan orang lain. Jauhi pilihan kata yg merendahkan, hindari gaya bicara yang takabbur. Berbicara yang baik itu bil hikmah. Lihatlah situasi dan kondisi, lihatlah tempat dan waktu yang tersedia, Likulli maqaamin maqaal. Berbicara yang beradab itu menghindari membicarakan keburukan orang lain, tidak ghibah. Berbicara yang beradab itu menjahui hal hal yang akan memancing keburukan, memicu kemungkaran, melahirkan  perdebatan yang tidak sehat. Berbicara yang baik itu bukan dengan menyampaikan apapun yang telah didengar, namum sampaikan hanya yang baik dan tepat.

Dengan perkembangan tekhnologi, kini bicara lebih sering diwakili teks dalam berbagai media. Jika dulu sering dikatakan, hati-hati bicara, jangan sampai lidah terpeleset. Maka sekarang, hati-hati jangan sampai jempol yang terpeleset. Dulu mulutmu harimaumu, sekarang jepolmu harimaumu.

Yang bijak itu akan terus belajar, untuk mampu menjadi pendengar yang baik dan pembicara yang baik. Yang luhur itu tau kapan harus mendengar dan kapan harus berkata-kata. Yang elok itu adalah memadukan nalar, rasa dan empati ketika sedang berkomunikasi.

Semoga Allah memberkahi kita semua, sukses menggapai target terpenting dari puasa ramadhon kita.

-Catatan DPT- (Di bawah Pohon Tiin)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut