https://nuansaislam.com/Gerbang 1000 Bulan Itu Telah Dibuka

Awal gerbang kemulian Ramadhan telah kita lewati. Segala puji hanya milik-Nya, Dialah Allah Ta'ala yang telah memberi kita hari-hari penuh kemuliaan ini. Kerinduan yang membuncah sebelumnya, kini Allah berikan kesempatan menikmati kesyahduan bersama yang dirindu. Semoga kebaikan yang telah dilalui itu diterima, menjadikan kita semua dapat menyempurnakan kepingan puzzel taqwa. Semoga pun dapat memantaskan diri tuk diampuni, tergapai maghfiroh dan teraih ketaqwaan. Karena inilah dua syarat tergapainya kerinduan sejati, rindu kepada syurga yang telah dijanjikan.

Memasuki zona terpenting di 10 Terakhir Ramadhan ini, sudah semestinya membutuhkan kesiapan yang lebih prima.

Sebagai pijakan awal untuk memberi latar pandangan kita adalah dengan meneguhkan mindset kita tentang hari-hari ini di tengah kondisi yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hari-hari ke depan ini merupakan 10 malam terbaik dunia. Jika dalam setahun ada kira-kira 354 hari dalam hitungan kalender hijriyah, maka 10 malam ke depan inilah yang termulia. Maka hamba yang cerdas tidak akan mensikapi dengan sikap standar (bahkan biasa) menghadapi malam² yang istimewa ini.

Pada hakekatnya, amal adalah pengerahan daya. Jika 10 hari ke depan semangat amalan kita sedang membuncah, maka pengerahan daya fikir (nalar), pengerahan lisan, pengerahan raga, bahkan hati (jiwa) akan menghasilkan amal yang berpahala. Amal raga, amal lisan, amal fikir dan amal hati, masing-masing dari semua potensi daya inilah yang akan mengisi 10 hari mulia ini.

Adalah kabar gembira bagi semua yang telah konsisten (istiqomah) dalam amalannya jauh sebelum kondisi ini melanda. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan amalan tertentu dan telah mengkarakter dalam dirinya, namun tidak berkesempatan baginya melakukan sesuai standar biasa (karena kondisi saat ini), maka tetaplah dia mendapatkan catatan amal yang sama. Begitulah kabar gembira dari sang Rasul Shallallahu’alaihi Wasallam :

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

“Jika seorang hamba jatuh sakit atau sedang safar, tetap tercatat baginya pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar.” [HR. Bukhari]

Tekad (azam) yang benar dan tulus itu tersampaikan. Ini kabar gembira juga buat mereka yang belum memiliki kebiasaan di tahun² sebelumya, namun saat ini azam dalam dirinya sedang sangat memuncak, kerinduan terhadap kebaikan sudah terbukti di tahun ini, hijrahnya sudah mulai memberi bukti bukan sekedar janji. Tekad yang sesungguhnya memberi peluang baginya untuk menggapai derajat amal yang diharapkan, walau tidak tergapai utuh.

Teringat dengan pesan Nabi saw bahwa yang jujur mengharap syahadah akan disampaikan pada peringkat para syuhada, walau luput dari gugur di medan laga. Siapa yang bertekad melakukan kebaikan namun kondisi menghalanginya, maka akan tetap tercatat baginya satu kebaikan yang sempurna.

Mintalah 2 hal; dimudahkan dan dilindungi. Dimudahkan untuk terus berdzikir kepada Allah, dimudahkan untuk terus mensyukuri segala potensi, minta dimudahkan untuk meningkatkan kualitas (husnul) ibadah. Jangan pernah kita lupa pesan lembut Rasulullah kepada sahabat mulia Muadz bin Jabal agar senantiasa meminta kepada Allah di belakang sholatnya;

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك

"Yaa Allah, bantulah hamba untuk terus berdzikir kepada-Mu, Bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadahku kepada-Mu".

Menjadi hamba yang senantiasa merasa butuh kepada pertolongan Allah, bukanlah merendahkan kualitasnya, namun akan meninggikan kedudukannya di hadapan Allah Ta'ala. Rasulullah juga berpesan, "Bahkan pada urusan sendal jepitmu yang putus, mintalah tolong kepada Allah". Ini bukan lebay, ini adalah perasaan butuh kepada Allah. Bukankah iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin rutin kita  katakan. Jika itu untuk urusan sendal jepit yang putus, lantas bagaimana dengan impian kita menjadi baik, harapan kita menggapai taqwa, butuhnya kita diampuni, bahkan kerinduan kita akan syurga tentu lebih butuh untuk minta pertolongan kepada Allah yang Maha Menjawab harapan hamba.

Mintalah untuk diilindungi. Dilindungi dari dua faktor keburukan; internal dan eksternal. Dari internal diri karena memang dalam diri kita ada potensi fujur di samping potensi taqwa. Seorang hamba bisa dilanda kelemahan dan kemalasan. Keduanya akan membuat tidak kuat membuahkan amal maksimal. Kadang juga dilanda kedukaan terkait masa lalu dan kesedihan masa depan yang akan menghambatnya untuk berkarya. Maka mintalah dilindungi...

اللهم إني أعوذ بك من الهم و الحزن و أعوذ بك من العجز و الكسل ...

Mintalah juga dilindungi dari keburukan eksternal; setan yang menggoda itu bisa berwujud jin bahkan manusia. Godaan bisa menjelma dalam beragam bentuk. Godaan akan menggangu sinyal kita tuk tetap memiliki hubungan baik dengan Allah subhanahu wa ta'ala.

Teguhkan Program. Untuk memasuki awal 10 malam terbaik ini, penting dengan penuh kesadaran  menyongsong melimpahnya kebaikan yang ditebar. Sang Tauladan terbaik, Rasulullah saw, dikatakan bahwa beliau menghidupkan malam² nya, membangunkan keluarganya bahkan mengencangkan ikat pinggang beliau dan beliau semakin serius pada 10 terakhir ini.

Oleh karena itu, bugarkan fisik dan kokohkan ruhani. Adalah pencanangan pertama yang sangat dibutuhkan untuk dapat sukses melewati tangga-tangga kebaikan ini. Jangan sampai fisik yang lemah membuat lemahnya amalan, jangan sampai ruhani yang lemah membuat raga ini menjadi tidak berkemampuan.

Tingkatkan kuantitas dan kualitas amalan. Interaksi  dengan Al Quran semakin meningkat.  Tilawah  diperbanyak karena satu huruf saja berpeluang mendapat 10 kebaikan.

Tingkatkan kualitas bacaan kita, jadikan hari² ini moment syahdu dengan Al Quran. Bagian dari Al Quran yang sudah kita hafal, seberapa pun hafalan itu, lakukanlah muroja'ah agar semakin kokoh ayat² Allah mengisi rongga dada kita.  Syukuri yang sedikit itu, nikmati dengan baik, in syaa Allah dengan kesyukuran mendalam Allah mudahkan kita mendapat tambahan nikmatnya muroja'ah.

Untuk lebih meningkatkan kualitas interaksi ini, lakukan  tadabbur sebisa mungkin; baca terjemahnya, renungkan makna dan pesanya, Rasakan bahwa setiap ayat itu mengajak kita berkomunikasi, kitalah objek dari ayat² mulia itu. Jika tidak semuanya, pilihlah juz tertentu atau surat-surat pilihan agar pasca ramadhan ada hasil yang bisa dipertahankan.

Jika setiap Ramadhan bisa mentadabburi dan menikmati tafsir 5 juz misalnya, maka dalam tempo 6 kali ramadhan sudah 30 juz yang ternikmati, betapa indahnya hati yang senantiasa tersentuh dengan nilai quraniy. Namun sampai Ramadhan tahun lalu, sudah berapa bagian dari petunjuk hidup kita yang telah tertadabburi... kalo ternyata blm ada..., maka jangan biarkan ramadhan kali ini berulang lagi tanpa hasil. Semoga Allah mudahkan kita semua.

Ibadah terpentingnya yaitu puasa itu sendiri, juga sangat butuh dinaikkan kualitasnya. Naikkan kualitas shoum ini dari standar awwam yang hanya menahan untuk tidak makan, tidak munim dan tidak berhubungan suami istri; naik ke peringkat yang lebih tinggi dengan upaya mempuasakan indra, bahkan hati dari hal² yang Allah tidak ridho. Berhentilah menjadi orang awwam.

Kita berharap bertemu Allah kelak dengan bekal amal yang cukup, menambah yang wajib dengan yang sunnah adalah cara cerdas untuk lebih dekat kepada Allah dengan perbanyak bekal kebaikan. Kuatkan amalan sunnah yg lain; jaga sholat sunnah rawatib yang mengiringi sholat fardhu, nikmati sholat dhuha, dzikir pagi dan petang lebih diresapi,  istighfar dini hari makin khusyu' dan amal² sunnah yang lainnya, baik bersifat vertikal maupun horizontal, ibadah pribadi atau ibadah sosial. Cicipi keragaman amal dan temukan pengaruh dahsyatnya ke dalam jiwa.

Istimewakan malam-malam ini dengan persiapan yang cukup, semisal qailullah (tidur sejenak di siang hari) yang tidak hanya membugarkan kerja otak kita, namun juga berpahala sekaligus memberi dampak positif pada aktifitas malam. Istimewakan malam² ini dengan upaya memburu lailatul qadar. Berjuanglah agar malam menjadi lebih bermakna, malam lebih syarat nilai, malam yang menjadi penanda kedekatan hamba dengan Rabbnya. Bahkan pada hari² biasa di luar Ramadhan, manusia bertaqwa itu gemar beristighfar, wa bil ashaari hum yastaghfiruun.

Cobalah merasakan sensasi taqwa, sensasi ketika berupaya melakukan aktifitas² ketaqwaan. Menahan kantuk demi membaca kitab-Nya, bertahan untuk berdiri lama menikmati qiyam, merasakan air mata terurai karena takut akan dampak dosa, serius memohon diterima karena khawatir amal tidak maksimal dan serius minta diampuni karena terbayang siksa neraka.

Jangan pernah melupakan doa yang sering dilantunkan

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

_Yaa Allah, Engkaulah Sang Maha Pemaaf, Engkau mencintai permaafan, maafkan dan ampunilah aku.

Doa ini adalah jawaban Rasulullah saw ketika Aisyah ra bertanya tentang apa yang mesti dikatakan kepada Allah jika berjumpa dengan lailatul qadar.

Ternyata doa ini arahan Rasulullah saw. memberi pesan kepada kita semua agar jangan silau dengan banyaknya amalan, namun ada hal penting lain yaitu upaya agar diampuni. Harmonikan semangat memperbanyak amalan dengan upaya meraih pengampunan. Jelas ada inspirasi dari doa Lailatul qadar ini

Semoga Allah mudahkan kita, Allah kuatkan kita, jaga kita agar dapat memaksimalkan diri pada 10 terahir Ramadhan kali ini, Ramadhan dengan kondisi tidak biasa yang menyimpan banyak makna. Semoga Allah terima amalan kita, Allah ampuni semua kesalahan kita. Tergapai taqwa, teraih maghfiroh serta ternikmati bahagia di sini dan bahagia di sana kelak, di syurga-Nya. Semoga Allah kumpulkan kita bersama orang² yang sholih.

 

Saat M

catatan DPT-6

(Di bawah Pohon Tiin)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut