https://nuansaislam.com/Merayakan Berbuka

Ajaran Islam memang unik. Masa sih berbuka puasa itu perlu dirayakan seluruh dunia secara besar-besaran dan dilakukan dengan suka cita? Di masa pandemi seperti sekarang ini, memang perayaan itu seperti tenggelam, tetapi tidak benar-benar hilang. Di setiap momentum berbuka puasa saat maghrib, selalu ada bahagia yang terpancar di semua wajah, semua kerongkongan, dan semua perut. Semacam ada rasa senang membahana karena “tidak lagi berpuasa”. Sekali lagi ajaran Islam memang unik. Betapa tidak unik, perasaan tidak lagi berpuasa itu kan sama saja dengan perasaan tidak lagi beribadah, tapi kok dirayakan? Uniknya lagi, dalam ajaran Islam, berbuka pun adalah ibadah dan karena berbuka itu sangat penting, maka jangan sampai telat berbuka. Itu tidak baik (makrûh).

Perayaan besar-besaran terhadap momentum berbuka puasa terjadi pada Hari Raya Idul Fitri. Dari arti bahasanya saja sudah ketahuan bahwa Idul Fitri adalah adalah Hari Raya Berbuka Puasa Internasional. Kata Idul diambil dari kata bahasa Arab îd yang berarti “hari raya”. Sedangkan kata Fitri berasal dari bahasa Arab ifthâr yang berarti “berbuka puasa”. Jadilah Idul Fitri berarti Hari Raya Berbuka Puasa. Karena itulah haram hukumnya bagi siapapun Muslim berpuasa pada Hari Raya Berbuka Puasa. Orang-orang pada berbuka kok malah berpuasa. Itu namanya melawan arus.

Pertanyaan yang masih menggantung adalah mengapa perlu ada perayaan Hari Berbuka Internasional di hari Idul Fitri? Ada beberapa perkiraan jawaban. Pertama, berpuasa sudah dirayakan sebulan penuh. Saatnya sekarang adalah merayakan berbuka puasa. Tapi bukankah perayaan berbuka puasa juga dilakukan setiap maghrib tiba di bulan puasa? Jawaban pertama ini sepertinya belum pas.

Perkiraan jawaban kedua, berbuka sama pentingnya dengan berpuasa. Tanpa berbuka di luar bulan Ramadhan, tidak perlu ada berpuasa di bulan Ramadhan. Demikan pula, tanpa berpuasa di bulan Ramadhan, tidak akan perlu ada momentum berbuka. Karena sama pentingya, maka jika berpuasa dirayakan dengan suka cita, mengapa berbuka tidak dirayakan? Tapi persoalannya, perayaan berbuka itu berlangsung sepanjang tahun sedangkan perayaan berpuasa hanya pada bulan Ramadhan. Mengapa demikian? Itu sama dengan telepon genggam. Pengisian baterai maksimal dua jam tetapi pemakaian bisa sampai dua hari jika baterainya bagus. Jangan sampai terbalik! Sepertinya perkiraan jawaban kedua ini lebih pas daripada yang pertama.

Perkiraan jawaban ketiga, nuansa berpuasa adalah nuansa diam. Itu tergambar dalam terminologi di sekitar berpuasa misalnya al-imsâk (menahan), al-i’tikâf (berdiam diri), al-layl (malam), al-nawm (tidur), dan al-shawm (puasa/menahan). Peradaban tidak akan hadir dalam diam, tetapi hadir dalam gerak dan berbuka bernuansa gerak daripada diam. Manusia yang diam bukan manusia seutuhnya karena mengingkari tujuan penciptaannya sebagai khalîfah. Memang diam juga penting tetapi jangan sampai lebih banyak daripada gerak, perbandingannya seperti perbandingan diam di bulan Ramadhan dan gerak di bulan-bulan lain dan seperti pengisian baterai telepon genggam selama dua jam dengan pemakaiannya selama dua hari. Persoalannya, bulan Ramadhan adalah bulan dibelenggunya syaithan dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Sedangkan merayakan Hari Berbuka Puasa Internasional sama halnya merayakan lepasnya belenggu syaithan dan merayakan terbukanya pintu-pintu neraka. Itu gawatnya gawat. Intinya inti. Sepertinya perlu ada perkiraan jawaban keempat.

Perkiraan jawaban keempat, merayakan Hari Raya Berbuka Puasa sama dengan merayakan pergerakan dan pergerakan adalah keniscayaan. Tak terbayangkan jika alam raya berisikan diam semata-mata. Misalnya, matahari terdiam meski selama sepeminuman teh. Maka, semua akan musnah. Al-Quran mengisahkan betapa gunung-gunung pun sesungguhnya bergerak, meski mata melihatnya terdiam seribu bahasa.

Memang di setiap pergerakan, niscaya ada luka, ada noda, dan ada dosa. Namun peradaban memang bukan pualam. Peradaban lebih merupakan gading yang selalu mengandung retak. Demikian pula manusia pasti punya cacat. Satu-satunya cara bagi manusia untuk menghindari cacat adalah dengan diam, tetapi itu tidak mungkin. Semua itu disimbolkan dengan lepasnya belenggu syaithan dan terbukanya pintu-pintu neraka. Tapi bukankah pintu-pintu taubat juga tidak tertutup?[]

Bahan Bacaan

Annemarie Schimmel, Sayap-Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal, Yogyakarta: Lazuardi, 2003.

Mircea Eliade, Sakral dan Profan, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002.

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut