https://nuansaislam.com/Otak Sadis

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Barangkali kita pernah mengalami pengalaman melongo dan hampir-hampir tidak percaya melihat sadisnya netizen membantai pihak yang tidak disukainya. Pilihan kata dan pilihan kalimat yang mereka gunakan dalam komentar benar-benar diseleksi yang paling tajam dan paling berkarat dan beracun untuk dihujamkan ke ulu hati pihak yang dituju. Kadangkala terbetik di dalam benak: Apakah netizen tidak ingat bahwa pihak yang tidak disukainya itu juga adalah manusia biasa seperti mereka yang bisa merasakan patah hati hingga ambyar?  Atau justru mereka tahu bahwa yang mereka tuju adalah manusia maka karena itu, mereka melakukan tindakan yang mereka anggap paling gila sekalipun. Hingga lahir sebuah semboyan: Maha benar netizen dengan segala komentarnya.

Konon di bagian terdalam otak manusia ada sel yang merupakan warisan reptil sekitar 500 juta tahun lampau. Sel otak tersebut semata impuls untuk bertahan hidup, apapun risikonya; bila perlu merebut makanan, merebut pasangan, berkelahi, kabur, bereproduksi, dan bahkan membunuh. Sel tersebut sangat penting karena telah menjadikan manusia adalah spesies yang paling sukses dan paling berkuasa di muka bumi. Sesungguhnya ada dua sel otak lagi yang muncul setelah sel warisan reptil itu, namun akan dibicarakan pada waktu yang lain.

Kita akan melompat pada kenyataan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna. Padahal sesungguhnya perlu penjelasan pula mengapa manusia tiba-tiba menjadi makhluk penggemar makna. Lagi-lagi kita tinggalkan dulu hal itu. Yang pasti, apapun yang dilakukan oleh manusia, mereka selalu mencari makna di balik perbuatan mereka itu, tidak terkecuali perbuatan-perbuatan yang lahir sebagai hasil dari impuls sel otak warisan reptil sebagaimana disebutkan di atas.

Karena impuls sel otak warisan reptil itu membuat manusia tega merebut makanan, merebut pasangan, berkelahi, kabur, bereproduksi, dan bahkan membunuh, maka manusia pun berupaya mencari makna di balik tindakan mereka. Entah mana yang lebih dahulu muncul, apakah makna lebih dahulu muncul sebagai penyebab manusia merebut makanan, merebut pasangan, berkelahi, kabur, bereproduksi, dan bahkan membunuh atau perbuatan-perbuatan itu lebih dahulu timbul tanpa manusia mampu tahan lalu belakangan mereka mencari-cari alasan mengapa mereka melakukannya. Sepertinya kenyataan yang kedualah yang terjadi. Makna hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Kenyataan di atas menjadi penjelasan atas pengalaman melongo kita menyaksikan sadisme para netizen dalam komentar-komentar mereka. Yang bekerja ketika para netizen menghujat itu barangkali adalah impuls untuk bertahan hidup sebagai dorongan dari sel otak warisan reptil tersebut di atas. Yang terjadi sesungguhnya adalah ada pihak yang merasa hidupnya terancam oleh postingan orang lain. Keterancaman itu bisa berawal dari makanan yang terbatas hingga diperebutkan, pasangan yang satu-satunya di dunia sehingga diperebutkan untuk reproduksi, atau keterancaman lain. Dampaknya adalah netizen tidak segan berkelahi atau bahkan membunuh—di dunia maya. Bisa dalam bentuk pembunuhan karakter.

Apakah manusia langsung merasa bersalah atas perbuatan mereka yang kejam itu? Tentu saja tidak. Bukankah sudah ada makna yang mereka buat untuk melegitimasi semua itu. Terkadang makna itu bersifat religius dan kadang pula semata-mata makna ideologis. Yang pasti makna itu sangat kuat bagai candu bagi manusia untuk dijadikan alasan agar tidak merasa bersalah atas segala perbuatannya dan bahkan menjadi alasan untuk melakukannya lagi di lain kali.

Yang unik dari impuls ini, karena dorongannya yang sangat kuat, maka otak juga menyediakan rasa puas tak terhingga hingga pori-pori ketika tindakan merebut makanan, merebut pasangan, berkelahi, kabur, bereproduksi, dan bahkan membunuh itu berhasil dimenangi.

Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa netizen yang membantai pihak yang tidak disukainya akan merasakan kepuasan tiada tara ketika mereka merasa berhasil memenangi sebuah pertarungan. Ada semacam prosesi katarsis yang dialami para netizen kala komentar-komentar sadis itu meluncur kencang begitu saja dari jemari mereka. Bisa dipastikan mereka melakukannya sambil tersenyum, bahkan terbahak-bahak. Melampaui rasa bahagia sentosa.

Dan selanjutnya, kita juga tidak perlu terlalu melongo dan hampir-hampir tidak percaya melihat sadisnya netizen membantai pihak yang tidak disukainya. Toh, kita juga adalah para netizen dengan sel otak yang sama dan perasaan puas yang sama ketika merasa memenangi sesuatu meski itu berarti membunuh sesama manusia. Dan kita juga tidak perlu khawatir akan merasa bersalah. Toh, sudah ada makna yang disiapkan untuk mengabsahkan tindak kita yang penuh tanduk itu.[]

Bahan Bacaan

Karen Arsmstrong, Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan, Bandung: Mizan, 2017.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut