https://nuansaislam.com/Tasybih Benci Tapi Rindu

Aspek tersembunyi dari Sang Mutlak dinamai tanzîh, sedangkan aspek penyingkapan-diri Sang Mutlak dinamai tasybîh. Tanzîh berasal dari kata nazaha yang artinya “menjaga sesuatu dari cemaran noda atau obyek tidak murni”. Istilah tanzîh ini biasanya dimaksudkan sebagai konsep yang menekankan bahwa Sang Mutlak “secara arti sebenarnya bebas dari segala ketidaksempurnaan.” Yang dimaksud “ketidaksempurnaan” di sini adalah segala kualitas yang menyerupai makhluk meskipun dalam tingkat yang sangat tipis. Penyerupaan yang dimaksud di sini bahkan ketika makhluk membayangkan bentuk yang paling sempurna yang mampu dia bayangkan. Tetap saja bayangan yang dihasilkan tidak sempurna karena imajinasi manusia sangat rapuh dan terbatas pada langit-langit ketidaksempurnaannya sendiri.

Kebalikan dari tanzîh adalah tasybîh yang berasal dari kata kerja dalam Bahasa Arab syabbaha yang berarti “membuat atau mempertimbangkan keserupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain”. Ekstrimnya, secara teologis, tasybîh adalah “menyerupakan Tuhan dengan benda-benda ciptaan”. Contohnya: Tuhan mendengar atau yang lebih terang lagi adalah Tuhan memiliki telinga untuk mendengar. Dalam terminologi teologi Islam, kelemahan konsep tasybîh adalah bahwa dia bisa membuka jalan menuju mujassimah atau antropomorfisme kasar.

Membandingkan tanzîh dengan tasybîh sebagaimana pemahaman di atas, maka wajar jika teologi Islam cenderung menjunjung tinggi tanzîh dan menolak tasybîh. Namun ternyata, konsep tanzîh memiliki kelemahannya sendiri. Pertama, setiap ada penggambaran tentang Sang Mutlak, maka konsep tanzîh selalu berkata: “Bukan itu. Sang Mutlak tidak seperti itu!” Dengan demikian, konsep tanzîh sesungguhnya telah membatasi Sang Mutlak dan itu bertentangan dengan dasar konsep tanzîh bahwa Sang Mutlak tidak terbatas.

Kelemahan konsep tanzîh yang kedua adalah bangunan argumennya justru dibangun di atas konsep tasybîh. Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep tanzîh menolak segala persamaan terhadap Sang Mutlak, terutama persamaan inderawi. Persoalannya, bagaimana konsep tanzîh sampai pada segala penolakan-penolakan tersebut jika dia tidak memulainya dari tasybîh? Karena itu, konsep tanzîh hanya bisa ada jika ada tasybîh dan karena itu pula, konsep tasybîh justru penting bagi tanzîh.

Kelemahan konsep tanzîh yang ketiga adalah penolakannya terhadap tajallî-Nya. Konsekuensinya, konsep tanzîh kebingungan untuk menempatkan posisi makhluk yang nyata-nyata ada secara kasat mata karena  konsep tanzîh mengandaikan semua itu tidak ada. Makanya, konsep tanzîh memberikan definisi berbeda tentang ada.

Jika antara konsep tanzîh dan konsep tasybîh dipertemukan, maka kita akan mendapati dua konsep yang tampaknya sangat bertentangan. Tanzîh sangat transendental hingga sama sekali tidak ada perumpamaan bagi Sang Mutlak hingga bahkan kata “tanzîh” itu sendiri tidak pas untuk disebut sebagai penggambaran untuk Sang Mutlak. Dampaknya, Sang Mutlak menjadi sangat sulit dipahami atau bahkan tidak mungkin dipahami.

Di sisi lain, tasybîh penuh dengan penggambaran dan penyamaan sehingga hampir-hampir Sang Mutlak serupa dengan makhluk. Namun sisi baiknya, Sang Mutlak menjadi lebih mudah dipahami. Kata lain dari hal di itu adalah bahwa tanzîh menekankan kepada aspek ithlâq kemutlakan Sang Mutlak, sedangkan tasybîh menekankan kepada aspek taqayyud Sang Mutlak. Problemnya, tidak mungkin manusia hanya berpegang kepada aspek tanzîh karena akan mengakibatkan manusia benar-benar buta tentang Tuhannya. Dan juga tidak mungkin manusia hanya berpegang kepada aspek tasybîh karena Tuhannya menjadi hampir tidak ada bedanya dengan makhluk.

Kembali kepada pertentangan antara konsep tanzîh dan konsep tasybîh dimana tasybîh seperti dimusuhi dan dianggap sesat. Penjelasan di atas malah memberikan gambaran bahwa konsep tanzîh memiliki banyak kekurangan dan bahkan konsep tanzîh membutuhkan konsep tasybîh sebagai dasarnya. Di sisi lain, meski kadang dianggap sesat, konsep tasybîh adalah satu-satunya cara agar Sang Mutlak lebih mudah dipahami. Karena itu, tasybîh dibenci tapi dirindu.[]

Bahan Bacaan

Toshihiko Izutsu, Sufisme: Samudera Makrifat Ibn Arabi, Bandung: Mizan, 2015

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut