https://nuansaislam.com/Khutbah Berangka

.....

53 Khutbah Berangka

Oleh: Ahmad Yani

Judul              : 53 Materi Khutbah Berangka

Penulis          : Drs. H. Ahmad Yani (HP/WA 0812-9021-953)

Tebal              : 418 Halaman

Ukuran           : 13,5 x 21 Cm

Cover             : Hard Cover (Lux)

Harga             : Rp 125.000+ongkir

Penerbit         : Al Qalam GIP

 

Idealnya Khutbah Jumat disampaikan dengan menarik. Salah satunya dari sisi materi khutbah yang singkat, padat dan sistematis. Karena itu, telah terbit sejak tahun 2008 dan cetak ulang enam kali buku: 53 Khotbah Berangka. Buku ini saya tulis dengan semua judulnya menggunakan angka seperti  dua kendala berkoban, tiga bekal haji, dll. Buku khutbah lain yang saya tulis sebagian besarnya menggunakan format penulisan seperti ini. Lebih jelas bisa dilihat daftar isinya berikut ini:

Kata Pengantar

Daftar Isi

Contoh Muqaddimah Khutbah

1.      Dua Kendala Berkorban

2.      Dua Hakikat Hijrah

3.      Dua Saham Pahala dan Dosa

4.      Tiga Pokok Pendidikan Anak (1)

5.      Tiga Pokok Pendidikan Anak (2)

6.      Tiga Bekal Hidup Manusia

7.      Tiga Prinsip Individualisme Dalam Islam

8.      Tiga Makna Manusia

9.      Tiga Perkara Yang Harus Dibebaskan

10.  Tiga Bentuk Pluralisme Beragama

11.  Tiga Tahap Menuju Sesat

12.  Tiga Bahaya Tidak Percaya Pada Hari Akhirat

13.  Tiga Hal Yang Dilupakan Manusia (1)

14.  Tiga Hal Yang Dilupakan Manusia (2)

15.  Tiga Bentuk Kebajikan

16.  Tiga Bentuk Musyawarah

17.  Tiga Saksi Perbuatan

18.  Tiga Nilai Puasa Ramadhan

19.  Tiga Bekal Ibadah Haji

20.  Tiga Keuntungan Zakat

21.  Tiga Keuntungan Berlaku Ihsan

22.  Tiga Perumpamaan Mukmin

23.  Empat Perumpamaan Mukmin

24.  Empat Keharusan Orang Tua Pada Anak

25.  Empat Akibat Dosa

26.  Empat Cara Mencari Harta Secara Bathil

27.  Empat Permohonan

28.  Empat Sifat Pejuang

29.  Empat Kelompok Yang Lemah Bagi Syaitan

30.  Empat Kelompok Yang Kuat Bagi Syaitan

31.  Empat Macam Keteladanan

32.  Empat Ciri Masyarakat Zakat

33.  Lima Prinsip Menggunakan Harta

34.  Lima Konsekuensi Menjadi Muslim

35.  Lima Faktor Berlomba Dalam Kebaikan

36.  Lima Ciri Kecerdasan Rohani

37.  Lima Keuntungan Hijrah

38.  Lima Penyebab Gugurnya Keislaman

39.  Lima Tolok Ukur Haji Mabrur

40.  Lima Bentuk Perjalanan (1)

41.  Lima Bentuk Perjalanan (2)

42.  Lima Makna Sebelum Shalat

43.  Lima Makna Pelaksanaan Shalat

44.  Lima Konsekuensi Menjadi Muslim

45.  Lima Keharusan Kepada Rasul

46.  Lima Bukti Cinta Kepada Allah

47.  Enam Kesamaan Pria dan Wanita

48.  Enam Hak  Wanita

49.  Enam Sifat Syaitan

50.  Enam Cara Memahami Al-Qur’an

51.  Enam Prinsip Masyarakat Yang Pluralis

52.  Enam Manfaat Percaya Pada Akhirat

53.  Khutbah Idul Fitri: Enam Semangat Baru Menuju Kehidupan Yang Bersih

54.  Khutbah Idul Adha: Empat Teladan Nabi Ibrahim as

Diantara Contoh Khutbah Yang Ada di Dalam Buku Ini Berjudul:

 

TIGA BEKAL IBADAH HAJI

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

            Setiap muslim yang hendak menunaikan ibadah haji, pasti menginginkan ibadah ini bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena ibadah haji merupakan kewajiban yang hanya berlangsung sekali seumur hidup yang belum  tentu seseorang mendapat kesempatan lagi pada tahun-tahun berikutnya. Manakala ibadah ini sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, diharapkan bukan hanya secara hukum ibadahnya sah dan diterima oleh Allah swt, tapi juga dapat menjadi haji yang mabrur sehingga dapat  memberi pengaruh yang baik dalam kehidupan sesudah ibadah haji hingga mencapai kematian dalam ketundukan dan kepatuhan kepada Allah swt.

            Untuk bisa menunaikan ibadah haji dengan sebaik-baiknya, diperlukan banyak bekal yang harus disiapkan oleh setiap calon jamaah haji yang kemudian dapat disederhanakan menjadi tiga perbekalan untuk menunaikan ibadah haji. Pertama adalah taqwa kepada Allah swt. Haji merupakan perjalanan menuju Allah swt, suatu perjalanan yang sangat mulia, sedangkan Allah swt sangat memuliakan siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap muslim yang hendak menunaikan ibadah haji sudah seharusnya untuk membekali dirinya dengan ketaqwaan kepada Allah swt sebagaimana firman-Nya:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ

 (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (QS Al Baqarah [2]:197).

Paling kurang, ada tiga sisi penting dalam kaitan taqwa sebagai bekal dalam menunaikan ibadah haji. Pertama, ikhlas kepada Allah dalam menunaikannya. Ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar dalam setiap amal di dalam Islam, namun lebih penting lagi dalam ibadah haji, karena ibadah haji adalah ibadah yang berat secara fisik dan mental serta memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan dana yang besar. Keikhlasan bukan hanya membuat ibadah haji seseorang akan diterima oleh Allah swt, tapi juga akan membuat ibadah haji yang sebenarnya berat itu akan terasa menjadi ringan dan sangat menyenangkan.

Sisi Kedua dari taqwa adalah sabar dalam menjalankan ibadah haji. Sabar adalah menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya karena yang diharapkan dari suatu amal adalah ridha Allah swt. Kesabaran dalam pemahaman seperti ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki dalam pelaksanaan ibadah haji sehingga jamaah haji tidak mau merusak ibadahnya dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah swt. Dalam ibadah haji, bisa terjadi konflik antar sesama jamaah, kesabaran membuat jamaah haji tidak mau mempertajam konflik tapi diatasi dengan baik. Beratnya pelaksanaan ibadah haji, bisa jadi membuat seorang jamaah haji menjadi malas untuk melanjutkan pelaksanaannya, kesabaran membuat seseorang tetap memiliki semangat  yang tinggi.

Oleh karena, dalam pelaksanaan ibadah haji, diperlukan bekal kesabaran yang banyak, jangan hanya tiga sehingga seseorang mengatakan: sekali saya bisa sabar, dua kali saya bisa sabar, tiga kali habislah kesabaran saya.

Dan yang Ketiga adalah berserah diri terhadap segala ketentuan dan kenyataan yang terjadi, ini merupakan sikap ketaqwaan yang sangat penting dalam melaksanakan ibadah haji. Ketentuan ibadah haji yang harus menggunakan pakaian ihram, tawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar di Mina dan sebagainya merupakan hal-hal yang bisa jadi tidak menyenangkan secara fisik. Begitu juga dengan fasilitas seperti penginapan, kendaraan, makanan dan sebagainya yang semula  memiliki gambaran indah dan menyenangkan ketika sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, pada saatnya kadangkala tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi bagi mereka yang selama ini mengalami kehidupan serba mudah dan menyenangkan. Mau tidak mau semua itu harus bisa diterima dengan kelapangan hati, karena kesal dan marah-marah merupakan sesuatu yang tidak penting, namun tetap saja evaluasi untuk perbaikan pada masa mendatang tetap harus dilakukan.

 Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

            Bekal kedua yang harus dipersiapkan oleh calon jamaah haji adalah pemahaman yang memadai. Apapun yang dilakukan seorang muslim, apalagi berkaitan dengan masalah ubudiyah yang sangat penting haruslah dilaksanakan dengan pemahaman yang baik dan benar sehingga apa yang dilakukan tidak taklid atau ikut-ikutan, apalagi segala perbuatan manusia ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak, Allah swt berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggunganjawabnya (QS Al Isra [17]:36).

Paling kurang, ada tiga aspek yang harus dipahami sebagai persiapan untuk melaksanakan ibadah haji. Pertama, pemahaman terhadap fikih pelaksanaan ibadah haji sehingga ibadah ini bisa dilaksanakan dengan benar sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Pelaksanaan yang didasari pada pemahaman yang benar akan membuat seorang jamaah bisa tenang setelah melaksanakannya karena ia yakin sah dari segi hukum karena memang tidak salah dalam tata cara pelaksanaannya.

Sisi Kedua adalah pemahaman terhadap makna-makna filosofi atau hikmah dari rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Hal ini akan membuat pelaksanaan ibadah haji dapat dilaksanakan dengan penghayatan yang mendalam dan memberikan pengaruh positif sepanjang kehidupan sesudah pelaksaan ibadah haji, pemahaman tersebut misalnya berihram berarti siap meninggalkan segala bentuk yang diharamkan Allah, tawaf berarti ingin selalu berada dalam garis hidup yang telah ditentukan Allah dan merasa dekat dengan-Nya, sa’i berarti mau berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup secara halal, wuquf di Arafah berarti keharusan untuk selalu melakukan introspeksi diri, mabit di muzdalifah untuk menyadari betapa syaitan begitu berbahaya sehingga harus dilawan dan diatur strategi perlawanannya dan melontar adalah menumpahkan kebencian kepada syaitan, begitulah seterusnya hingga tahallul yang berarti hanya mau melakukan sesuatu bila memang dihalalkan oleh Allah swt.

            Ketiga yang merupakan sisi pemahaman dalam ibadah haji adalah terhadap tempat-tempat yang dikunjungi dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, baik di Makkah maupun Madinah. Pemahaman terhadap masalah ini akan menyadarkan kepada kita betapa menjadi muslim tidak cukup hanya untuk diri kita secara pribadi, tapi Islam itu harus disebarluaskan dan diperjuangankan penegakkannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa meskipun untuk itu seorang muslim harus berhadapan dengan kesulitan, tantangan dan kendala-kendala besar sebagaimana hal itu telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya bahkan oleh Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, menjadi penting bagi muslim yang telah berhaji untuk memperkokoh semangat perjuangan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam.

            Ketiga yang merupakan bekal bagi jamaah haji adalah keperluan yang bersifat jasmani. Setiap manusia tentu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang bersifat jasmaniyah seperti makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang kesemuanya harus dipenuhi. Karena itu, dalam pelaksanaan ibadah haji, hal ini juga harus dipersiapkan dan didukung dengan dana yang cukup tanpa harus berlebih-lebihan. Keperluan jasmani merupakan sesuatu yang manusiawi, karena itu, para jamaah haji tentu akan merasa tenang bila kebutuhan jasmaninya tercukupi, bahkan tidak hanya untuk dirinya yang menunaikan ibadah haji, tapi juga untuk keluarga yang ditinggalkannya. Disamping itu, bekal kesehatan jasmani juga menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari keperluan jasmani, karenanya para jamaah haji harus mengkondisikan, menjaga atau memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatannya. Ini semua merupakan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai persyaratan mampu.

Demikianlah tiga bekal penting yang harus dipersiapkan oleh para jamaah,  yang kita bahas dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, kita ucapkan selamat kepada kaum muslimin yang segera hendak menunaikan  ibadah haji, kita do’akan pula bagi jamaah yang belum menunaikan haji agar memperoleh kesempatan dan kemampuan, sedangkan yang sudah menunaikan ibadah haji bisa membuktikan kemabrurannya sampai kematian menjemput.

Demikian khutbah Jum’at kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut