https://nuansaislam.com/Dua Posisi Al Quran

.....

DUA POSISI AL QURAN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI

Ketua LPPD Khairu Ummah

HP/WA 0812-9021-953 & 0812-9930-6180

الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Bagi muslim sejati, hubungannya dengan Al Quran merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, istilah Sayyid Quthb dalam Tafsirnya Fi Dzilalil Quran, hidupnya di bawah naungan Al Quran. Dalam konteks inilah, Al Quran difungsikan dan diposisikan sebagaimana mestinya. Allah swt berfirman:

طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ. هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman (QS An Naml [27]:1-2).

            Dari ayat di atas, setidaknya Al Quran harus kita posisikan dengan dua posisi, karenanya harus kita pahami dengan baik. Pertama, petunjuk. Meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil atau yang benar dan yang salah, padahal kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan dan petunjuk yang benar, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku. Sudah begitu banyak manusia yang tidak berpikir, bersikap dan bertingkah laku secara benar karena tidak mau mengambil bimbingan dari Al-Quran. Akibatnya, banyak manusia yang tersesat dalam berbagai masalah kehidupan

Dengan bimbingan Al-Quran, manusia akan terangkat derajatnya, teratur dalam hidupnya, mulia kepribadiannya dan dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Disinilah salah satu letak nikmatnya hidup dengan bimbingan Al Quran, sehingga menjadi keharusan bagi kita untuk terus menguatkan hubungan dengannya, mulai dari meyakini kebenarannya sebagai wahyu, bisa dan rajin membaca, berusaha memahami isi kandungannya hingga mengamalkan ajaran yang terdapat di dalamnya, bahkan hingga mendakwahkannya. Intinya, kita harus berusaha menjadi Al Quran yang berjalan. Allah swt berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS Al Isra [17]:9).

            Untuk memposisikan Al Quran sebagai petunjuk, paling tidak ada tiga sikap yang harus kita tunjukkan. Pertama, rajin membacanya dengan bacaan yang baik sehingga diberi nilai keutamaan yang amat besar bagi kita, bahkan hitungan pahala dari setiap huruf yang dibaca dan dilipatgandakan lagi hingga sepuluh kebaikan, apalagi pada bulan Ramadhani, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَلِهَا, لاَ أَقُوْلُ الم وَلَكِنْ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf (HR. Tirmidzi).

Bahkan pada hari kiamat nanti, Al Qur’an akan menjadi syafaat atau penolong bagi siapa saja yang membaca dan mengamalkannya, Rasulullah saw bersabda:

إِقْرَءُوا الْقُرْاَنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah Al Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada shahibnya (pembaca dan pengamalnya (HR. Muslim).

Kedua, sikap yang harus kita tunjukkan terhadap Al Qur’an adalah memahami dengan pemahaman yang benar, hal ini karena Al Qur’an merupakan pedoman hidup yang harus selalu dirujuk, bila kita tidak memahaminya bagaimana mungkin kita akan merujuknya. Oleh karena itu menjadi penting bagi kita untuk melakukan tadarrus atau dalam istilah Al Qur’an disebut dengan tadabbur, yakni mengkaji atau memperhatikan maksud Al Qur’an sebagaimana firman Allah swt:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (QS An Nisa [4]:82

Ketiga, mengamalkannya dalam kerhidupan sehari-hari sehingga apa yang diperintah kita laksanakan dan apa yang dilarang kita tinggalkan, ini merupakan sesuatu yang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa, diperlukan kesungguhan dan kesabaran sehingga Al Quran itu turun secara bertahap dan kitapun bertahap juga dalam memahami dan mengamalkannya, Allah swt berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا. فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (QS Al-Insan [76]: 24)

 

 

Sidang Jumat Yang Berbahagia

Kedua posisi Al Quran adalah kabar gembira. Pada ayat di atas, Al Quran juga harus kita posisikan sebagai kabar gembira. Hal ini karena Al Quran memang memberitakan kepastian hidup yang baik di dunia dan akhirat untuk siapa saja yang menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai Al Quran. Ini merupakan kabar gembira bagi kita.

Menurut Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI, pada jilid 7 hal 169, “Kata busyra memiliki akar kata basyar yang berarti kulit. Manusia disebut dengan kata basyar karena yang tampak dari manusia adalah kulitnya. Kalimat basyara ar rajulu imra’atahu berarti laki-laki itu mencari kesenangan dari kulit isterinya (menggaulinya). Kata busyra dan bisyarah berarti setiap berita yang benar dan mengakibatkan kulit di wajah seperti air yang mengalir di dalam pohon. Kata ini lebih banyak digunakan untuk berita yang baik.”

Al-Qur'an memberi kabar gembira kepada kita karena ia merupakan kitab suci yang sempurna, sempurna antara yang dikemukakan dengan kandungan maknanya. Karena itu, apabila manusia menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya, maka dia akan menjadi manusia dengan kepribadian yang sempurna, apalagi secara fisik Allah swt telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.

 

 

Dalam soal duniawi dan ukhrawi, Al-Qur’an membentuk manusia menjadi orang orang-orang yang memiliki sikap tawazun atau seimbang. Manusia ideal tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang sifatnya duniawi dengan mengabaikan kepentingan ukhrawi. Begitu juga dengan tidak mengutamakan kepentingan ukhrawi dengan mengabaikan kepentingan duniawi. Dunia adalah batu loncatan untuk kenikmatan ukhrawi, inilah yang membuat kita gembira dengan Al Quran, sedangkan dalam hubungannya dengan orang lain, maka manusia harus berlaku sebaik mungkin karena Allah swt telah begitu baik kepadanya, kebaikan yang tiada terkira, bahkan terhadap lingkungan hidupnya, manusia tidak dibenarkan melakukan kerusakan, baik kerusakan yang terkait dengan fisik lingkungan hidup maupun kerusakan moral, Allah swt berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa-apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS Al Qashash [28]:77).

            Yang juga menggembirakan kita dengan Al Quran adalah manusia terbimbing untuk mewujudkannya menjadi masyarakat yang islami. Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin bisa hidup sendirian, karenanya manusia memerlukan orang lain dan semua proses interaksi antara manusia itulah yang disebut dengan masyarakat. Namun masyarakat yang ingin ditumbuhkan oleh Al-Qur’an adalah masyarakat Islami yang dapat membawa manusia pada kebaikan di dunia dan akhirat sehingga jangan sampai terjadi penyesalan dengan sebab pergaulan dan interaksi dengan sesama manusia yang ternyata tidak baik, Allah swt berfirman:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (QS Al Furqan [25]:28).

            Dengan demikian, masyarakat Islami adalah kumpulan dari pribadi dan keluarga Islam yang menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Al Quran. Masyarakat Islami adalah masyarakat yang memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt, karenanya mau komitmen atau terikat kepada hukum-hukum Allah swt dan selalu menunjukkan akhlak yang mulia serta mampu menunjukkan rasa persaudaraan dengan sesama muslim.

            Dengan demikian, berbahagialah kita di dunia dan akhirat karena mau komitmen kepada Al Quran.

            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

 

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut