https://nuansaislam.com/Doa dan Permohonan

Kata “doa” atau “berdoa” tentunya tidak asing lagi di telinga. Ya, tidak hanya umat Islam yang menganjurkan perbuatan tersebut, namun seluruh umat beragama nampaknya juga menganjurkan dan melakukan perihal yang sama.

Namun kadang ada kekeliruan dalam memahami makna dari doa itu sendiri sehingga mengakibatkan salah dalam mengimplementasikannnya. “Doa” secara bahasa artinya adalah “mengundang”. Maka, dari makna kebahasaan ini kita dapat memahami bahwa doa adalah “mengundang kehadiran Tuhan di dalam hati untuk mengabulkan segala permintaannya”.

Syeikh Said Ramadhan al-Buthi menjelaskan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara makna al-du’â’ dan al-thalab (permohonan). Menurutnya, permohonan adalah sebuah ungkapan atau kata-kata yang diucapkan oleh sang pemohon. Sedangkan doa tidak hanya sebatas sebuah ungkapan saja, akan tetapi harus disertai dengan penghayatan di dalam jiwa. Singkat kata, penghayatan di dalam jiwa itulah yang membedakan arti al-thalab (permohonan) menjadi al-du’â’.

Setidaknya makna doa akan terwujud secara sempuna jika terhimpun dua hal: pertama, hidupnya hati pemohon ketika memohon, serta menunjukkan rasa lemah dan keterbatasan diri sebagai seorang hamba di hadapan Tuhannya, sehingga  timbul perasan bahwa ia tidak mampu untuk melakukan apapun kecuali dengan pertolongan Tuhan.

Dewasa ini, banyak sekali kita temukan, atau mungkin diri kita sendiri berdoa dengan shigah (susunan kata) yang indah yang diajarkan oleh para ulama, atau bahkan doa itu diajarkan langsung oleh Nabi, namun ketika berdoa hati lalai dan tanpa disertai rasa keterbatasan diri dan rasa lemah di hadapan Tuhan. Lalu, apakah hal yang demikian sudah layak dinamakan berdoa? Tentu tidak. Itu hanya meminta, bukan berdoa.

Kemudian, jika keadaan tersebut tidak dinamakan berdoa, lantas untuk apa menunggu untuk dikabulkan? Atau jangan-jangan selama ini kita belum pernah berdoa, karena tidak pernah menghadirkan hati di hadapan Tuhan ketika meminta, dan juga tidak pernah menunjukkan begitu lemah dan miskinnya kita sebagai seorang hamba di hadapan Sang Pencipta yang Mahakaya dan Mahakuasa? Maka dari itu, mari kita periksa lagi, apakah kita sudah benar-benar berdoa, atau  hanya “merasa” sudah berdoa.

Kedua, hendaknya ketika berdoa, dimulai dengan memohon ampun kepada Allah SWT dan bertaubat dari segala macam bentuk dosa dan maksiat yang pernah dilakukan. Karena bagaimanapun juga, seorang hamba tidak luput dari kesalahan dan dosa.

Pernahkah kita membayangkan, bahwa Allah SWT telah memberikan segalanya dalam bentuk kenikmatan, akan tetapi kita juga memberikan segalanya dalam bentuk dosa dan maksiat? Maka dari itu, sepatutnya ketika seorang hamba hendak berdoa, ia memulainya dengan memohon ampun kepada Allah SWT untuk menjaga adab di hadapan Tuhannya. Dan sebetulnya Allah SWT sangat senang dengan hamba yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Karena itu, ada ungkapan: “Jeritan taubatnya para pendosa lebih merdu, daripada gemuruh tasbihnya para ulama”.

Maka, mari kita renungkan lagi bersama, apakah selama ini kita sudah layak untuk dikatakann berdoa? Atau jangan-jangan kita hanya pura-pura berdoa? Maka jangan heran, jika permohonan yang kita panjatkan selama ini tidak dikabulkan oleh Allah SWT karena pada hakikatnya kita tidak sedang berdoa.

Sebagai penutup, dalam ranah tasawwuf, saripati dari doa bukanlah pengkabulan atas permohonan-permohonan yang dipanjatkan oleh seorang hamba, melainkan doa adalah sebuah ekspresi untuk menunjukkan kemiskinan, kelemahan, dan sebagai bentuk pemhambaan seorang hamba dihadapan Sang Pencipta yang Mahakaya, Mahakasih, dan Mahakuasa.

Pada suatu kesempatan Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: “Aku tidak pernah menghkawatirkan apakah doaku dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah lagi untuk terus berdoa”.

Bahan Bacaan

Muhammad Said Ramdhan al-Buthi, Syarah wa Tahlil al-Hikam al-Athaiyyah, Jilid 1, Damaskus: Dar al-Fikr, 2019

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut