https://nuansaislam.com/Sesaat Lagi, Gerbang Kemuliaan Itu Akan Segera Dibuka

Oleh: Saat Mubarok, Lc.

"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu syurga dibuka. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan pun dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang terhalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

(HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth)

Demikian Rasulullah saw mengabarkan datangnya Bulan Ramadhan kepada para sahabatnya. Tentunya dengan perjalanan waktu, mereka -ridwanullaahu alaihim ajma'iin-  juga mengetahui akan tibanya bulan ini, karena mereka juga orang² yg sudah sangat sholih di bulan sebelumnya, sya'ban.

Kesadaran ini penting, bukan hanya tentang tibanya, namun ngeh dan sangat fokus akan kemuliaan yang membersamai kedatangannya.

Adalah bagian dari kebaikan jiwa seseorang, jika di hari² ini (di saat banyak hal yang menyibukkan pikiran, bahkan menggerus perasaan karena banyak hal yang harus dihadapi di tengah multi ujian ini,  yang sampai menggetarkan dan menggoyahkan pondasi  mendasar manusia), namun tetap menyadari bahwa secara perlahan sedang mendekati waktu dibukanya gerbang kemuliaan itu. Dialah bulan mulia, Ramadhan yang penuh berkah.

Ibadah utamanya adalah sebulan berpuasa. Orang² yang memiliki keimanan akan merasa sangat terpanggil, karena iman inilah pondasi dasarnya. Allah swt yang mewajibkan ibadah ini, Dia-lah yang menunjukkan langsung target pencapaiannya *"La'allakum tattaquun"*.

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

(QS. Al-Baqarah : 183)

Menjadi pribadi yang senantiasa menjalankan _"laku takwa"_. Menjadi muttaqin yang sesungguhnya adalah ultimate goal yang dicanangkan.

Ini adalah gerbang kemuliaan, karena mereka yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.

"Inna Akromakum 'indallaahi atqookum"

Allah Ta'ala memanggil semua manusia...

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرࣲ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبࣰا وَقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوۤا۟ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ خَبِیر

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

(QS. Al-Hujurat : 13)

Memasuki gerbang Ramadhan berarti memasuki wahana menuju takwa, tangga² menuju kemuliaan. Maka ketika peringkat ketakwaan itu semakin tinggi sampai teraih derajat Haqqa Tuqaatih. Inilah kemulian tertinggi.

Al Hujurat ayat ke-13 ini memberi  kesan kepada kita bahwa tantangan menjadi termulia itu tidak hanya di hadapan komunitas orang² beriman, namun juga tantangan agar dengan puasa ini mampu dipandang mulia di depan khalayak manusia dengan berbagai sisi keberagamannya. Mulia di antara orang² beriman  dan mulia di mata manusia secara umum. Semoga menjadi umat termulia di muka bumi, sebagaimana yang dijanjikan. Inilah tantangan gerbang kemuliaan itu.

Memasuki gerbang ini akan mendapatkan banyak kebaikan. Disebut syahrun mubarok karena penuh keberkahan. Berkah itu bertambahnya kebaikan, maka siapapun yang benar memasukinya, akan bertambah kebaikan² dirinya. Di antara kebaikan itu adalah membuat diri ini bersih dari segala noda dosa, terampuni.

Maghfiroh adalah prasyarat bagi yang merindukan dan dirindukan syurga.

 وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِینَ

"Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan ke surga yang luasnya terletak di langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa"

(QS. Ali 'Imran : 133)

Syurga itu menunggu orang² bertakwa, namun para pemburu syurga itu sebelumnya harus memburu maghfiroh Allah Ta'ala.

Di setiap hari-hari yang terlalui di bulan berkah ini, telah  disediakan maghfiroh bagi yang serius ingin menggapainya. Oleh karenanya Rasulullah pernah meng'Aamiin'kan pernyataan malaikat Jibril ketika mengatakan, "Semoga celaka, orang yang mendapati Ramadhan namun dia tidak diampuni".

Semoga jatah usia kita cukup, semoga tidak termasuk mereka yang celaka tanpa ampunan. Peluang ini terbuka lebar, namun kita perlu merenungi informasi Rasulullah saw yang menyatakan dalam sabdanya bahwa,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”

(HR. Ath Thobroniy dinilai Shohih ligoirihi oleh Albani)

Yah... Hanya lapar dan dahaga saja yang ia rasakan, adapun kebaikan melimpah dan kemulian yang tersedia semuanya sia-sia belaka.

Gerbang kemulian telah dimasuki namun keluar tidak menjadi orang mulia. Inilah celaka itu.

Gerbang ini juga merupakan gerbang percepatan menapaki jalan ke syurga. Di bumi, gerbang itu bernama Ramadhan, gerbang yang akan mengantarkan ke gerbang di akhirat kelak, gerbang itu bernama Ar Royyaan, salah satu dari abwaabil jannah -pintu² syuga-.

Sudah ada tanda kebaikan bagi siapapun yang mampu menembus perjalanan di awal gerbang ini sampai ke ujung gerbang Ar Royyan. Dia adalah yang digambarkan  sosok mulia Rasulullaah saw,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

 "Bagi yang berpuasa (dengan benar) akan mendapat dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa dengan Rabbnya".

(HR. Bukhori Muslim )

Simak dan renungkan dengan baik sabda Nabi  di atas, dia sudah senang di sini, di bumi ini dengan ibadah puasanya. Dia senang bahkan bangga menjadi hamba yang taat kepada Rabbnya.

Senang ini tentunya lahir dari jiwa yang ridho dengan syariat Rabbnya. Senang kepada kebaikan itu adalah bagian dari bukti iman seseorang. Maka gerbang kemulian ini sejatinya adalah gerbang kebahagian di sini dan kebahagian di sana kelak.

Memasuki gerbang ini butuh bekal. Bekal terbaiknya adalah taqwa; watazawwaduu fainna khoiraz zaadi at-taqwa. Jangan pernah melepas baju terindah dan terbaik, yaitu baju ketakwaan, wa libaasuttaqwa dzaalika khoiir.

Apakah bekal itu sudah kita miliki? Sudah in syaa Allah, masing² kita dengan tingkat kualitas  keimanan berbeda, dengan tingkat amalan yang tidak sama. Sejatinya kita sudah punya bekal takwa itu walau kualitas masing² bisa berbeda.

Saat ini yang penting bukan seberapa..., bukan pula setinggi apa takwa itu. Namun yang mendesak adalah segera manfaatkan sisa waktu yang ada, peluang yang masih ada menjelang dibukanya gerbang kemuliaan itu. Sebelum tibanya ajal masing². Bersyukurlah karena sampai saat ini kita masih diberi waktu.

Syukuri sekecil apapun bekal yang sudah kita miliki, karena dengan kesyukuran yang sedikit itu, akan ditambah.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

(QS. Ibrahim : 7)

Bersyukur itu menyadari, bersyukur itu merawat, bersyukur itu menggunakan dan mengembangkan sesuai yang Allah dan Rasul-Nya ridhoi.

Jika iman itu bagian dari bekalan takwa kita, maka syukuri iman ini dengan merawat bahkan mengokohkannya. Keyakinan kita pada hari akhir semakin menghujam dalam jiwa sehingga Syurga-Neraka itu tergambar jelas, nampak tidak jauh, keduanya sangat dekat. Iman kita pada malaikat minimal membuat jiwa ini senantiasa merasa diawasi, apapun dari kita terdata dengan seksama. Yaa Allah, kelak ringankan hisab kami...

Iman kita kepada Rasul membuat kita semakin bangga menapaki sunnahnya. Semakin nikmat mentaati arahannya. Dan menjadi benci kepada setiap pelanggaran atas petunjuknya.

Jika sedikit amalan kebaikan yang kita rasa. Yakinlah dengan pondasi iman, ini bagian dari bekalan takwa itu. Maka tingkatkanlah semaksimal kemampuan yang kita bisa. Mulailah lebih menjiwai, meresapi setiap ibadah _mahdhoh_ wajib kita. Menambah bekalan dengan memperbanyak ibadah _mahdhoh sunnah_, meningkatkan baik kuantitas maupun kualitas menjelang dibukanya gerbang kemuliaan itu.

Jika hubungan hablum minannas kita sudah baik, tingkatkan kebaikannya dan jangan lupa melandasinya dengan keikhlasan kepada Allah. Jika ada yang dirasa kurang baik, segera diperbaiki.

Tilawah Quran kita ditingkatkan kualitas serta kuantitasnya. Hubungan keluarga semakin harmonis, dengan kerabat menjaga sillaturrahim,  dengan tetangga dan tamu semakin memuliakan. Dengan yang lemah semakin peduli.

Semua ini bagian dari ketakwaan kita, menjadikannya bekal terbaik untuk memasuki gerbang kemulian itu adalah ciri kecerdasan seorang hamba, yang senantiasa beramal di sini namun dengan orientasi dan pertimbangan pasca tibanya ajal; barzah dan sampai ujung perjalanan akhirat.

Semoga bekal kita cukup. Semoga semangat berbekal ini menguat. Semoga gerbang kemuliaan di tahun ini bisa kita masuki dengan iman dan amal yang gagah. Semoga tergapai kebahagian di sini dan terengguh kebahagian  untuk memandang wajah Allah yang mulia, kelak di syurga-Nya.

Maka wahai diri, jangan siakan peluang dan kesempatan ini, jadilah hamba yang cerdas. Jadilah jiwa kuat yang penuh keridhoan.

Songsong terbukanya Gerbang Kemuliaan itu. Pantaskan diri tuk meraih segala kemuliaan yang dijanjikan. Mintalah agar semuanya dimudahkan oleh Dzat Yang Maha Memudahkan segala urusan.

(catatan-4 DPT; Di bawah Pohon Tiin)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut