https://nuansaislam.com/Bocoran Soal

Oleh: Ahmad Yani

Hidup ini bagai sekolah, ada banyak hal yang harus dipelajari, ada karakter baik yang harus ditanamkan dan ada ujian yang harus dihadapi oleh setiap orang. Enak dan tidak bila ditinjau secara duniawi, keduanya adalah ujian. Kata kunci untuk menghadapinya adalah enak tidak lupa diri dan susah tidak putus asa. Allah swt berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (QS Al Anbiya [21]:35).

Satu hal yang harus kita sadari bahwa segala macam bentuk ujian yang akan diberikan sudah diberi tahu oleh Allah swt. Ibarat soal anak sekolah, semua sudah dibocorkan yang mestinya kita sudah tahu hal itu memang bakal terjadi dan mudah bagi kita untuk menjawabnya. Lalu, apa saja ujian yang Allah swt berikan?. Jawabannya disebutkan dalam firman Allah swt: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]:155).

Dari ayat di atas, ada lima bentuk ujian yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Karenanya setiap kita harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapinya, bukan malah menunjukkan sikap buruk terhadap ujian itu.

  1. Rasa Takut

Rasa takut ada pada tiap orang, takut macam-macam. Ada yang takut sakit, takut kekurangan atau tidak punya harta, takut dipecat, takut pada pemimpin, takut kalah, takut pensiun dan tua, takut tidak punya jabatan, takut dihina, takut diganggu dan sebagainya. Rasa takut seperti itu memang wajar, tapi jangan sampai menyebabkan kita mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran lalu menyesuaikan diri terhadap apa yang kita takuti. Karena itu, ketakutan seperti itu tidak boleh mendominasi perasaan kita. 

Hanya satu rasa takut yang dibenarkan, yakni takut kepada Allah swt dalam arti takut kepada murka, siksa dan azab-Nya. Karenanya, segala yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab harus kita jauhi. Karena itu, Nabi Muhammad saw diingatkan agar tidak takut kepada manusia dalam melaksanakan apa yang sudah ditentukan  oleh Allah swt, takut takut kepada Allah swt diatas ketakukan kepada apapun dan siapapun juga, sebagaimana firman-Nya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi (QS Al Ahzab [33]:37).

       2. Kelaparan

Keadaan lapar merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Keadaan ini tidak selalu karena tidak ada makanan atau tidak punya uang untuk membeli makanan, tapi bisa karena sulit mendapatkannya atau karena keadaan tertentu seperti dalam perjalanan, sakit dan sebagainya. Agar kita memiliki kesiapan mental untuk menghadapi keadaan lapar, Allah swt melatih kita dengan berpuasa, ada yang wajib seperti puasa Ramadhan dan ada yang sunat.

Lapar yang dikhawatirkan manusia adalah bila terjadi kelangkaan bahan makanan dengan berbagai sebab, bisa karena bencana alam, gagal panen, peperangan, wabah penyakit atau bahan makanan sedikit sedangkan yang membutuhkan banyak. Dari sini manusia bisa mengalami konflik karena berebut makanan.

Manusia yang tidak lulus ujian adalah siapa saja yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan makanan. Sedangkan yang lulus ujian malah suka memberi makanan kepada orang lain, sesuatu yang memang sangat disenangi oleh Allah swt dan dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karena itu, orang yang suka memberi makan akan memperoleh surga dari Allah swt,

أُعْبُدُو الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِالسَّلاَمِ

Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat (HR. Tirmidzi).

Di dalam hadits lain, Rasulullah saw juga bersabda:

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَ بَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَفْشَى السَّلاَمَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan, menebarkan salam dan shalat malam sementara orang-orang tidur (HR. Ibnu Hibban).

      3.  Kurang Harta

Memiliki banyak harta merupakan sesuatu yang menyenangkan. Apa yang ingin dimiliki dan dicapai lebih mudah memperolehnya bila kita punya harta. Karena itu, banyak orang yang takut bila mengalami keadaan kekurangan apalagi tidak punya harta.

Untuk memiliki harta, manusia bukan hanya boleh, tapi harus mencari harta secara halal, bukan menghalalkan segala cara, apalagi sampai mencari legalitas hukum untuk menghalalkan sesuatuyang tidak halal, Al;lah swt berfirman: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al Baqarah [2]:188).

Ada dua sikap buruk akibat manusia takut kekurangan harta secara berlebihan. Pertama, bakhil yang membuatnya tidak mau berinfak dan sedekah, bahkan ia punya tapi mengaku tidak punya, ini namanya menyembunyikan apa yang diberikan Allah swt kepadanya, Allah swt berfirman: Orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS An Nisa [4]:37).

Kedua, menumpuk-numpuk harta yang dimaksudkan untuk persiapan hari depan. Pada dasarnya menabung boleh saja, tapi menumpuk-numpuk harta bukanlah menabung. Allah swt berfirman:  Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. yang (membakar) sampai ke hati (QS Al Humazah [107]:1-7).

      4. Kurang Jiwa

Kematian merupakan sesuatu yang bersifat pasti. Sudah banyak diantara keluarga, sahabat, guru dan jamaah kita serta orang yang kita cintai dan kagumi telah meninggal dunia, ini merupakan kekurangan jiwa. Sedih atas ujian adanya orang meninggal merupakan sesuatu yang boleh saja, namun menyikapinya jangan berlebihan. Ketakutan akan kekurangan jiwa karena ada peperangan, wabah penyakit yang mematikan dan berbagai bencana lainnya. Bahkan sampai kita takut dengan kematian kita sendiri. Ada pula yang sangat khawatir bila dia mati, sambil berkata dalam hati “anak dan isteri saya makan apa kalau saya mati,” ini merupakan kesombongan diri kita yang sangat tidak dibenarkan, seolah-olah kita yang memberi rizki pada anak dan isteri.

Agar kita tidak berlebihan dalam menyikapi kematian, maka siapa saja boleh kita cintai, namun jangan berlebihan dalam mencintainya, karena kita pasti akan berpisah dengan mereka, mungkin saja kita yang lebih dulu mati atau mereka.  

       5. Kurang Buah-Buahan

Menikmati buah-buahan sungguh menyenangkan, beraneka macam buah diberikan oleh Allah swt dengan aneka rasa. Kurma, pisang, jeruk, pepaya, apel hingga buah lokal di negara dan daerah masing-masing. Tersedianya berbagai macam buah menjadi sangat menyenangkan dalam kehidupan kita. Secara fisik, buah itu juga menyehatkan jasmani kita.

Karena itu, ketika buah-buahan tidak ada, padahal kita biasa mengkonsumsinya, maka hal itu tidak enak. Karenanya kita jadi takut bila mengalami kekurangan buah, bahkan jangankan sampai kurang apalagi tidak ada, harganya yang kian mahal saja sangat kita khawatirkan.

Sebagai seorang mukmin, semua itu harus dihadapi dengan rileks dan tetap berada pada jalan yang lurus, itulah yang disebut dengan sabar sehingga Allah swt menyebutkan berikanlah berita gembira bagi orang yang sabar. Sabar adalah menahan atau mengekang, yakni menahan dan mengekang diri dari bersikap dan berucap yang tidak dibenarkan karena mengharap ridha Allah swt.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut