https://nuansaislam.com/Dua Suasana Hidup

DUA SUASANA HIDUP

Oleh: Drs. H. Ahmd Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Penulis 48 Judul Buku.

HP/WA 0812-9021-953 & 0812-9930-6180

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Sidang Jumat Rahimakumullah.

Setiap orang pasti ingin perjalanan hidupnya berlangsung menyenangkan. Jasmani yang sehat, jiwa yang tenang, memperoleh sesuatu yang dibutuhkan dengan mudah dan rizki yang cukup, merupakan diantara yang Allah swt sebenarnya telah menyediakannya sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al Mulk [67]:15)

            Dalam kehidupan yang silih berganti dari generasi ke generasi, ada dua suasana yang selalu terjadi. Pertama, suasana yang menyenangkan. Bumi tempat manusia bertempat tinggal dan berpijak diciptakan oleh Allah swt untuk kemudahan bagi manusia. Karena itu, Sayyid Quthb dalam tafsirnya menyatakan: bumi ini mudah untuk manusia bertempat tinggal, berjalan, mempergunakan tanahnya, airnya, udaranya, simpanannya, kekuatannya dan rizkinya. Selanjutnya beliau menyatakan: Bumi yang mudah bagi manusia untuk berjalan dengan kaki dan dengan kendaraan di atasnya, serta dengan kapal yang membelah lautan. Bumi yang mudah untuk ditanami, dipetik dan dipanen hasilnya. Mudah untuk hidup di atasnya dengan udaranya, airnya dan tanahnya yang baik untuk tanaman dan tetumbuhan.”

Oleh karena itu, semestinya kita menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah swt yang telah mengkaruniakannya, sehingga Allah swt akan menambahnya sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]:7).

            Bersyukur kepada Allah swt akan membawa keberuntungan, bila seseorang tidak pandai bersyukur maka hal itu akan merugikan dirinya sendiri, sedangkan Allah swt tidak pernah merasa rugi bila ada manusia yang tidak bersykur kepada-Nya, karenanya Luqman menasihati anaknya sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqman [31]:12).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, suasana hidup di muka bumi yang semula tenang dan menyenangkan, ternyata bisa saja secara tiba-tiba menjadi begitu kacau, menakutkan dan mengakibatkan trauma yang sangat dalam serta penderitaan yang berkepanjangan. Semua itu karena kemurkaan Allah swt disebabkan manusia tidak pandai bersyukur bahkan menyombongkan diri, seolah-olah semua kehebatan yang dicapai dalam hidup ini semata-mata karena kehebatan mereka. Untuk memberi pelajaran yang sangat berharga, Allah swt membuat mereka menjadi manusia-manusia yang tidak berdaya, sehebat apapun mereka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah dicapainya selama ini.

            Pelajaran dari Allah swt melalui berbagai kejadian yang menakutkan semestinya membuat manusia harus melepaskan egoisme atau kesombongan, baik kesombongan sebagai pribadi, keluarga, kelompok maupun bangsa, Allah swt berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain (QS Al An’am [6]:6).

Sejarah menunjukkan bagaimana kehidupan menjadi tidak menyenangkan seperti pada masa Nabi Nuh dengan banjir besar hingga ke puncak gunung dan menenggelamkan orang-orang yang durhaka kepada Allah swt. Fir’aun yang hebat kekuasaannya juga harus tenggelam di tengah lautan karena kesombongan dengan sebab kekuasaan yang dimiliki, begitu pula dengan Qarun yang amblas diri dan hartanya ke dalam bumi karena kesombongan dengan sebab kekayaan yang dimilikinya. Karena itu hingga kini di berbagai belahan bumi ini, Allah swt tunjukkan sebagian kecil bahkan sangat kecil dari kekuasaan-Nya yang Maha Besar dan itu sudah cukup untuk membuat manusia yang kuat menjadi tidak berdaya sehingga seharusnya manusia mengambil pelajaran bahwa kesombongan memang harus dibuang dari sikap hidup sebagai manusia yang terbukti amat lemah.

Berbagai macam teguran, peringatan, musibah dan azab ditimpakan Allah swt kepada manusia hingga kini. Ada gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, banjir, angin kencang, badai hingga wabah penyakit yang melanda dunia.

            Kekacauan yang menyebabkan kesedihan yang mendalam terus berlangsung, gempa bumi dengan goncangan yang kuat bisa terjadi dimana-mana. Dahsyatnya berbagai peristiwa yang menghilangkan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan di muka bumi ini tidak hanya hari ini dan kemarin, tapi sejarah mencatat bahwa hal itu telah terjadi berkali-kali pada masa lalu. Karena itu, Allah swt berfirman:

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ. أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku (QS Al Mulk [67]:16-18).

            Setelah kita ingat kembali betapa Maha Kuasa Allah swt dan betapa lemah diri kita, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali harus tunduk kepada Allah swt dengan segala ketentuan-Nya. Inilah memang konsekuensi sebagai manusia yang telah beriman kepada-Nya. Saatnya kita bertaubat atas segala dosa, perbaiki kehidupan kita sebagaimana yang diinginkan oleh Allah swt, lalu perbanyak amal shaleh sebagai bekal kembali kepada-Nya.

Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut