https://nuansaislam.com/Tiga Kepastian

TIGA KEPASTIAN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Dept. Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia), Ketua LPPD Khairu Ummah, Bidang Dakwah KODI DKI Jakarta.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

            Malaikat Jibril as sebenarnya bertugas menyampaikan wahyu dari Allah swt, namun saat datang kepada Rasulullah saw ternyata tidak hanya wahyu yang disampaikannya, tapi juga ada pesan-pesan khusus darinya yang disampaikan kepada Nabi, ini menunjukkan betapa penting pesan-pesan yang disampaikannya. Meskipun demikian, pesan-pesannya yang baik itu tidak hanya ditujukan kepada Nabi, tapi sebenarnya kepada kita semua. Karenanya kitapun harus memahaminya dengan baik agar dapat kita jalani untuk kebaikan dalam hidup kita di dunia dan akhirat yang bahagia. Diantara sekian banyak pesan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw adalah tentang tiga kepastian yang harus mendapat perhatian kita semua, hadits ini diriwayatkan oleh Baihaqi..

            Pertama, kepastian adanya kematian, malaikat Jibril menegaskan:

عِشْ مَاشِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ

Hiduplah engkau seberapapun lamanya, namun engkau pasti akan mati.

Sepanjang adanya kehidupan telah ada kematian. Karena itu manusia boleh saja menginginkan hidup lama bahkan seberapapun lamanya tapi ia tidak bisa mencegah dirinya dari kematian bila saatnya sudah tiba, sehebat dan sekuat apapun dirinya. Fir’aun sang raja yang kuat dan ditakuti orang sudah lama mati dan menjadi catatan sejarah, Qarun yang kaya raya juga sudah lama mati dan menjadi bukti sejarah betapa orang kaya tidak boleh sombong, para Nabi juga sudah mati dan kematian itu berkeliling dunia untuk menjemput manusia satu demi satu kembali ke kampung akhirat. Meskipun manusia berusaha menghindari kematian, tetap saja ia akan datang menemui siapapun bila memang sudah tiba saatnya, Allah swt berfirman:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS Al Jumuah [62]:8).

            Bahkan manusia juga tidak bisa menghindari kematian bila memang sudah tiba saatnya meskipun ia berada di benteng pertahanan yang tinggi lagi kokoh, hal ini ditegaskan dalam firman Allah swt:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh (QS An Nisa [4]:78)

            Karena mati merupakan suatu kepastian, satu hal yang harus kita sadari bahwa ternyata mati itu bukanlah akhir dari kehidupan manusia, tapi sebenarnya awal dari fase kehidupan yang baru, yaitu kehidupan akhirat yang enak atau tidaknya sangat tergantung pada bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia ini. Bila kita sudah menyadari kepastian adanya kematian, maka kita tidak akan mensia-siakan kehidupan di dunia yang tidak lama. Kita akan berusaha mengefektifkan perjalanan hidup di dunia ini untuk melakukan sesuatu yang bisa memberikan nilai positif, tidak hanya dalam kehidupan di dunia tapi juga di akhirat karena kehidupan dunia merupakan saat mengumpulkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk kebahagiaan akhirat., karena kematian pada hakikatnya adalah perjumpaan dengan Allah swt yang tentu saja harus dengan bekal amal shaleh yang sebanyak-banyaknya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" (QS Al Kahfi [18]:110).

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

            Kepastian kedua yang akan terjadi pada kita adalah berpisah dengan orang yang kita cintai.

وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ

Cintailah siapa saja yang engkau sukai, namun engkau pasti akan berpisah dengannya.

Manusia boleh saling mencintai antara satu dengan lainnya, suami pada isteri atau sebaliknya, orang tua pada anak atau sebaliknya, rakyat terhadap pemimpin atau sebaliknya, sahabat dengan sahabat dan sebagainya. Namun kecintaan kepada manusia tidaklah abadi, karenanya jangan sampai kita mencintai manusia secara berlebihan karena pasti kita akan berpisah dengan orang yang kita cintai, adakalanya kita lebih dahulu meninggalkannya atau kita yang ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Tidak selalu berpisah dalam arti mati, tapi bisa jadi sudah tidak sejalan. Dalam politik kita sering mendengar ungkapan *Tidak Ada Teman Yang Abadi, Yang Ada Adalah Kepentingan Yang Abadi.”

Karena itu malaikat Jibril mengingatkan kita semua bahwa kita pasti berpisah dengan orang yang sangat kita cintai sekalipun, sehingga agar tidak terlalu berat dalam perpisahan, kita harus mencintai manusia sekadarnya, sedangkan yang harus paling kita cintai adalah Allah swt dan Rasul-Nya, Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(QS At Taubah [9]:24).

            Meskipun sudah diingatkan, ternyata banyak sekali manusia yang mencintai sesuatu sangat dalam cintanya sehingga pada saatnya berpisah dengan yang dicintainya itu tidak memiliki kesiapan mental yang memadai, saat keluarga atau orang yang dicintainya harus pergi ke wilayah yang jauh untuk sesuatu yang penting, maka ia tidak rela melepaskannya, apalagi sampai meninggal dunia yang mengakibatkan duka yang terlalu dalam sampai terjadinya goncangan jiwa atau gangguan mental sehingga kehidupan tidak bisa dijalaninya dengan baik, bahkan tidak memiliki gairah hidup.

Saudaraku Yang Dirahmati Allah swt.

            Kepastian ketiga yang akan dialami oleh manusia adalah balasan atas amal yang dilakukannya di dunia ini. Malaikat Jibril menyatakan:

وَاعْمَلْ مَاشِئْتَ مَجْزِيُّ بِهِ

Beramallah semaumu, namun engkau pasti akan mendapat balasannya.

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak manusia yang beramal shaleh, namun banyak pula yang beramal salah. Allah swt memberikan kebebasan kepada manusia tentang amal apa yang mau mereka lakukan, karena hasilnya terpulang kepada manusia itu sendiri. Amal shaleh akan membuat pelakunya merasakan kenikmatan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat, sedangkan amal salah akan membuat pelakunya mengalami penderitaan dan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, apa yang hendak kita lakukan harus dipertimbangkan secara matang, jangan asal melakukan apalagi sekadar ikut-ikutan dengan orang lain karena apapun yang kita lakukan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah swt sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra [17]:36).

            Dengan demikian, manusia bebas melakukan apapun sekehendak hatinya, namun ia sendiri yang mendapatkan hasilnya, seberengsek apapun manusia dengan kejelekan amalnya, ia harus siap menanggung akibatnya, bahkan syaitan yang telah menjerumuskannya pada amal yang jelek dan nista tidak mau disalahkan dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini diceritakan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ اْلأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih (QS Ibrahim [14]:22).

            Dari ini menjadi amat jelas bagi kita betapa kehidupan yang sementara di dunia ini harus kita jalani dengan sebaik-baiknya agar hasil baik di dunia dan di akhirat nanti bisa kita peroleh.

            Demikian khutbah Jumat kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amien.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut