https://nuansaislam.com/Ketakbercacatan

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Ilmu pengetahuan yang angkuh pernah meramalkan bahwa segala yang sesuatu yang didasarkan pada keyakinan semata akan lucut dari panggung peradaban manusia, termasuk dan terutama agama. Namun ramalan itu tidak terbukti. Agama tetap pagan berdiri.

Ilmu pengetahuan memang membuat agama cukup kerepotan. Di tengah kencederungan untuk menerima hanya yang rasional dan empiris, agama lalu mencoba bermain mata dengan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, agama mencari dasar keabsahannya lewat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pun memberi ruang bagi agama.

Peroblemnya, hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama sepertinya bagai minyak dan air, rumpil untuk diintegrasikan. Setiap upaya integrasi melahirkan hasil yang aneh-aneh. Upaya yang paling mentak adalah mendudukkan posisi keduanya secara proporsional.

Penghalang bagi integrasi keduanya adalah asumsi finalitas pada agama dan asumsi non finalitas pada ilmu pengetahuan. Finalitas senantiasa mengandaikan ketakbercacatan pada dirinya dan sekaligus kecacatan pada selain dirinya, sedangkan asumsi non finalitas senantiasa mengandaikan adanya kebercacatan ada dirinya, dan hanya berfikir tentang dirinya.

Asumsi ketakbercacatan pada agama membuatnya merasa, membahas segala hal, mengetahui segala hal. Karenanya, adalah hal yang lumrah jika ada kitab suci yang menyampaikan klaim bahwa tidak ada setitikpun yang luput dari jangkauannya. Kalaupun ada yang luput darinya, maka pastilah itu sesuatu yang remeh-cemeh. Karenanya, tidak ada dinamika dalam agama. Semuanya ajek, konstan, dan terprediksi. Bahkan dinamika cenderung dimusuhi di dalam agama. Bisa dianggap sempalan, bidah, atau serong.

Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang sedari semula menegaskan kebercacatan dirinya dan bahkan bergerak dinamis di atas asas kebercacatan tersebut. Bagi ilmu pengetahuan, selalu banyak hal yang berada di luar jangkauannya. Karenanya, dia terus bergerak untuk sampai ke sana dan berusaha menjangkau. Dan setelah sampai di sana, dia kembali menemukan bahwa selalu masih ada yang berada di luar jangkauannya. Dia pun kembali beringsut. Kebercacatan membuatnya terus menggeremet.

Bagaimana jika setiap ilmu dan pengetahuan manusia tentang apapun di dalam agama digolongkan ke dalam ilmu pengetahuan semata-mata, bukan agama itu sendiri? Konsekuensinya, ilmu dan pengetahuan manusia tentang apapun di dalam agama penuh kebercacatan dan ilmu pengetahuan agama pun menjadi dinamis dan selalu ada sesuatu yang baru dalam agama.

Namun tidak banyak yang bersedia menggolongkan ilmu dan pengetahuan agamanya sebagai ilmu pengetahuan dan bukan agama. Finalitas agama memberikannya kekuatan kepastian yang tidak bisa diberikan oleh ilmu pengetahuan. Di dalam payung kepastian itulah penganut agama berlindung dari segala cemar yang berasal dari luar. Barangkali bukan berlindung, tapi bersembunyi.

Mereka yang merasa telah memahami benar jalan pikiran Tuhan sebagaimana termaktub di dalam Kitab Suci biasanya ketularan ketakbercacatan agama. Pemahaman mereka tentang agama adalah agama itu sendiri, Kitab Suci itu sendiri, bahkan Tuhan itu sendiri. Kepada mereka mustahil berharap ada rasa bersalah. Bukahkah mustahil agama, Kitab Suci, dan Tuhan bersalah?[]

Bahan Bacaan

Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta: KPG, 2018.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut