https://nuansaislam.com/Syawwal

Syawwal dalam bahasa arab berasal dari kata syaala-yasyulu-syaulan wa syawalan yang mengandung makna naik, ringan dan membawa. Syawwal juga adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriyah.

Ibnul Mandzur berkata “Syawwal adalah salah satu nama bulan yang sudah ma'ruf, yakni nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal dari bulan-bulan haji.”
Ada juga yang berpendapat, jika dikatakan Tasywiil Labnil Ibil (syawwalnya susu unta), berarti susu unta yang tinggal sedikit atau berkurang.
Ibnul 'Allan asy-Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya unta itu mengangkat atau menegakkan ekornya.

Syawwal dimaknai demikian, karena dulu oang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” (Dalil al Falihin li Syarh iyadh al Shalihin)

Ada juga yang mengatakan, dinamakan bulan Syawal dari kata syalat an-Naqah bi Dzanabiha, artinya unta betina menaikkan ekornya (Lisan Al-Arab, 11/374). Bulan Syawal adalah masa di mana seekor unta betina tidak mau dikawini para pejantan. Ketika didekati pejantan, unta betina mengangkat ekornya. Keadaan ini menyebabkan munculnya keyakinan sial di tengah masyarakat jahiliyah terhadap bulan Syawwwal. Sehingga mereka menjadikan bulan Syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Ketika Islam datang, Rasulullah saw justru menikahi istri beliau di bulan Syawal untuk membantah anggapan sial masyarakat jahiliyah.
A'isyah radiallahu 'anhu mengatakan, “Nabi saw menikahiku di bulan Syawwal, dan beliau tinggal satu rumah denganku juga di bulan Syawal. Siapakah di antara istri beliau yang lebih beruntung dari pada aku?” (HR. Ahmad dan Muslim).

An-Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikah dan membangun rumah tangga (campur) di bulan Syawal. Para ulama madzhab kami (syafi'iyah) menegaskan anjuran hal ini. Mereka berdalil dengan hadits ini.”
Bulan Syawwal banyak sekali memiliki keutamaan salah satunya akan mendapatkan pahala setahun bagi orang yang berpuasa enam hari di bulan tersebut. Dari Abu Ayyub radiallahu'anhu, bahwa Nabi saw bersabda; “Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa 6 (enam) hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Referensi:

  1. Kamus munawwir
  2. Ibnu Mandzur, Lisanul’arab
  3. Dalil al Falihin li Syarh riyadh al Shalihin

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut