https://nuansaislam.com/Tarawih

Mulyana Sudarma, Lc

Tarawih adalah bentuk jama’ dari tarwihah. Kata tarawih berasal dari kata(رَاحَ – يَرُوْحُ  (, atinya istirahat, mengistirahatkan dan duduk istirahat yang disebut dengan jalsah (duduk). Maksud dari jalsah atau duduk ini adalah duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat raka’at pada shalat tarawih, itulah yang disebut tarwihah, karena dengan duduk itu, orang-orang bisa istirahat dari lamanya melaksanakan qiyam Ramadhan.

Dinamakan demikian karena biasanya dahulu para sahabat ketika shalat tarawih mereka memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya. Maka ketika sudah mengerjakan empat rakaat, mereka istirahat, kemudian mengerjakan empat rakaat lagi, kemudian istirahat, kemudian mengerjakan tiga rakaat witir (lihat Lisanul Arab, 2/462, Mishbahul Munir, 1/244, Syarhul Mumthi, 4/10).

Adapun asal mula istilah tarawih adalah perkataan Aisyah dalam sebuah hadis, yaitu kata yatarawwah,

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُصلي أربعَ ركعاتٍ في الليلِ ، ثم يتروَّحُ ، فأطال حتى رحمتُه ، فقلتُ : بأبي أنتَ وأمي يا رسولَ اللهِ قد غُفر لك ما تقدَّم مِنْ ذنبِك وما تأخَّر ، قال : أفلا أكونُ عبدًا شكورًا

Nabi Saw Melaksanakan shalat malam sebanyak empat rakaat, kemudian yatarawwah (istirahat), kemudian melanjutkan shalatnya lagi dengan rakaat yang panjang sampai aku merasa kasihan padanya (Nabi). Lalu aku berkata : Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Beliau menjawab : bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”(HR. Baihaki, Suanan al-kubro, 2/497)

Pada zaman Nabi Saw tidak ada istilah shalat tarawih, akan tetapi penamaan shalat yang dilakukan Nabi Saw pada malam hari di bulan Ramadhan itu dikenal dengan istilah qiyam Ramadhan. Dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Barang siapa yang menjalankan qiyam Ramadhan semata-mata beriman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt, maka dosa-dosanya (yang kecil) yang telah lalu akan diampuni”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan menurut istilah dalam agama Islam, shalat tarawih adalah “shalat sunnah malam hari yang dilakukan khusus pada bulan Ramadhan”.

Shalat tarawih adalah bagian dari shalat nafilah (tathawwu’). Mengerjakannya disunnahkan secara berjama’ah pada bulan Ramadhan.

Oleh karena itu maka hendaknya shalat tarawih dilaksanakan dengan tidak terburu-buru, tetapi dilaksankan dengan santai, khusyu’ dan ada jeda istirahat atau duduk sebentar setelah empat rakaat.

Referensi:

  1. Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, 2/462
  2. Shafiyurrahman Al-Mubarokfuri, Mishbahul Munir, 1/244
  3. Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, Syarhul Mumthi, 4/10
  4. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul bari, 4/250

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut