https://nuansaislam.com/Menubuh

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Tubuh dipuja dan tubuh dicerca. Setiap kesucian seperti hendak melarikan diri dari tubuh atau kedagingan; atau paling tidak, ada yang menganggapnya seperti itu. Seperti di sana ada nista yang hendak menggerogoti yang kudus. Itulah mengapa tidak jarang praktik penyucian diri menabuh genderang perang melawan tubuh dan kedagingan. Mereka biasa menyebutnya materi, duniawi, ragawi, sensual, dan apapun itu. Itulah pula mengapa setiap ada tubuh dan kedagingan yang ketahuan dijajakan—apalagi tubuh dan kedagingan pesohor—maka setiap orang seperti hendak berkata: Maha Suci saya dari kenistaan tubuh-tubuh. Di situlah mulai lahir hipokrisi.

Pertanyaannya, mungkinkah melarikan diri dari tubuh itu dilakukan? Bukankah yang dipakai untuk lari dari tubuh adalah tubuh jua? Atau bukankah kehendak yang hendak melarikan diri dari tubuh adalah kehendak yang berdomisili di dalam tubuh dan kedagingan? Lalu bagiamana tubuh bisa lari dari tubuh dan daging kabur dari daging?

Para peninsta tubuh dan kedagingan sepertinya lupa bahwa tanpa tubuh dan kedagingan, mereka bukanlah siapa-siapa karena satu-satunya jalan untuk mereka mengenalkan diri mereka adalah dengan mengenalkan tubuh dan kedagingan, bukan yang lain. Bayangkan sesuatu yang mengenalkan dirinya dan dirinya bukanlah tubuh dan daging, maka para pemirsa pastilah akan lari tunggang langgang.

Karena itu, ada juga yang mencoba berdamai dengan tubuh sambil tetap mengidealkan kesucian. Dan karena mengingkari tubuh dan kedagingan adalah awal mula hipokrisi, maka berdamai dengannya adalah awal kejujuran. Tubuh bahkan dianggap sebagai sesuatu yang memiliki otonomi tersendiri yang terpisah dari kesadaran. Dalilnya, sangat banyak gerak tubuh yang benar-benar berada di luar kontrol kesadaran. Jantung dan keseluruhan perangkatnya, misalnya. Apakah kesadaran yang mengontrol gerak jantung? Sepertinya tidak.

Dalam banyak hal, kesadaran justeru menghambat potensi dan gerak tubuh. Semisal kita berjalan. Apabila gerakan kaki kiri dan kanan serta gerakan tangan kiri dan kanan sebagai penyeimbangnya hendak disadari dengan seksama saat berjalan, maka harus butuh waktu berapa lama bagi seseorang untuk bergerak meninggalkan rumahnya menuju toko kelontong tetangganya hanya untuk membeli sebungkus biskuit?

Berdamai dengan tubuh berarti mengambil posisi memberikan penghargaan kepada tubuh sebagaimana layaknya dan tidak menistakannya. Dalam banyak hal, pada tubuhlah kesadaran menemukan dirinya. Semisal, bagaimana kesadaran menyadari kehadiran sang waktu yang tidak kasat mata? Tubuhlah yang mengajarinya. Tubuh yang sebelumnya kekar, menjadi lemah dan lunglai, kulit menjadi kisut, punggung membungkuk, rambut memutih, langkah menjadi tertatih-tatih. Semua itu adalah bukti bahwa sang waktu itu ada dan kesadaran menyadarinya setelah memahami jejak sang waktu yang terpahat jelas di setiap batang tubuh-tubuh. Tubuh adalah kawan, bukan musuh.

Toh, tidak jarang mereka yang mengaku memusuhi tubuh justru adalah orang yang paling doyan padanya. Tersebutlah para pemuja kesucian yang katanya membenci tubuh setengah mati. Mereka, misalnya, mencaci segala bentuk penubuhan keyakinan berbeda dalam bentuk apapun, seperti topi santa, pohon cemara, bentuk palang, patung-patung, kembang api, lonceng, terompet, lilin, dan sebagainya. Namun mereka menawarkan penubuhan yang lain semisal jubah panjang, bendera hitam-putih, bulan-bintang, dan bahkan kaligrafi-kaligrafi yang adalah penubuhan sesuatu yang sesungguhnya tak bertubuh, namun ditubuhkan. Apa nama semua itu jika bukan pemujaan terhadap tubuh dan penubuhan? Semua itu hanya persoalan perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lainnya, bukan persoalan kesucian. Lalu mengapa mereka pusing dengan segala bentuk penubuhan dan simbol jika di kepala mereka tidak terdiri hanya atas tubuh, tubuh, dan tubuh?[]

Bahan Bacaan

Bre Redana, Memo Tentang Politik Tubuh: Guru Besar Persatuan Gerak Badan Bangau Putih Gunawan Rahardja, Jakarta: Kompas, 2016.

10 Januari 2019

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut