https://nuansaislam.com/Takdir

Oleh: Mas'ud Halimin

Takdir itu berarti batas atau ukuran. Takdir Tuhan atas manusia itu bisa diibaratkan dengan batas kecepatan yang tertera di speedometer sebuah mobil/motor yang sudah ditentukan oleh pabrikan sejak pembuatannya. Seorang pengendara bisa memilih mau memacu dengan kecepatan berapa pun sepanjang tidak melebihi batas kecepatan yang tertera di speedometer itu.

Tuhan sudah menentukan batas-batas -- katakanlah dari 0 sampai 10 -- segala sesuatu yang akan terjadi atas diri seseorang, bahkan atas semua ciptaan-Nya. Tetapi manusia bisa memilih batasnya sendiri antara 0 sampai 10 itu. Bisa saja 0-5, atau 0-7, dan sebagainya.

Dalam masalah takdir ini, setidaknya ada empat kata yang terkait sekaligus dan menentukan belakunya sebuah takdir. Keempat kata itu adalah Qadr (batas), iradah (keinginan), qudrah (kemampuan), dan Qadha' (keputusan). Dua merupakan wilayah Tuhan yaitu qadr dan qadha dan dua lagi wilayah manusia yaitu iradah dan qudrah. Sederhananya begini, Tuhan sejak awal sudah menentukan batas maksimal yang bisa dicapai dalam rentang takdir seseorang, lalu manusia membangun keinginan dan kemampuannya, dan atas dasar keinginan dan kemampuan tersebut Tuhan menetapkan keputusan-Nya yang berlaku atas seseorang. 

Jadi, berlakunya sebuah takdir Tuhan tidak lepas dari sikap kita atas takdir yang ditetapkan Tuhan. Jika seseorang lompat ke laut yang dalam padahal dia tahu bahwa dirinya tidak bisa berenang, maka -- kalau kita menghitung dari 0-10 -- kemungkinan dia tenggelam adalah 9, bahkan 10. Tetapi kalau dia pandai berenang lalu ke laut maka kemungkinannya selamat lebih besar dibanding yang tidak tahu berenang. Apalagi kalau dia pandai berenang sambil membawa pelampung, maka kemungkinan dia tenggelam tentu lebih kecil dibanding yang tidak pandai berenang atau yang pandai berenang tapi tidak bawa pelampung. Takdir Tuhan mengatakan si A tidak bisa berenang dan kalau dia lompat ke laut akan tenggelam dan mati. Itu batas maksimal. Tetapi si A bisa memilih untuk tidak tenggelam, dan itu adalah pilihan dia atas takdir Tuhan. Kita bisa mengelola takdir kita sendiri, dan pilihan-pilihan yang kita ambil akan memengaruhi bagaimana keputusan Tuhan. Itulah yang disebut takdir.

Kita harus yakin bahwa Tuhan tidak pernah menginginkan apalagi menetapkan sesuatu yang buruk atas hamba-Nya. Buruk atau tidaknya sesuatu yang terjadi atas diri kita sangat tergantung pada pilihan yang kita ambil. Takdir Tuhan selalu menghendaki kebaikan bagi siapa pun, tetapi tidak semua orang memilih untuk menerima takdir baik itu.

So, you are what you think about you are. Pikiran itu akan men-drive pemiliknya untuk melakukan dan mencapai apa yang ada dalam pikirannya. Potensi-potensi yang tertanam di dalam diri akan bergerak simetris dengan pikiran. Dan itulah yang coba diyakinkan Tuhan pada kita bahwa siapa pun yang mampu mengembangkan potensi dirinya, ia akan beruntung; sebaliknya mereka yang gagal mengembangkan apalagi mengabaikan potensinya, ia akan merugi (QS. asy-Syams/91: 7-10). Wallahu a'lam.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut