Zabad

0
32 views

Kata Zabad dalam bahasa arab mengandung makna sesuatu yang menguap dan mengambang diatas permukaan air, baik karena air itu mendidih atau karena air itu bergerak karena adanya gelombang atau ombak seperti di lautan. Kata Zabad di dalam al-Qur’an terdapat dalam surat Ar-Ra’d ayat 17,

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Allah swt telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah swt membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.(QS. Ar-Ra’d [13]:17)

Terjemahan kata zabad pada ayat diatas adalah buih. Dalam kamus besar bahasa Indonesia buih mengandung makna gelembung-gelembung kecil pada permukaan barang cair.

Ahli tafsir dikalangan para sahabat yaitu Ibnnu Abbas berkata tentang surat Ar-Ra’d ayat 17 bahwa Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah swt menggambarkan kandungan hati manusia menurut kadar keyakinan dan keraguannya. Hati yang dipenuhi oleh keraguan (kepada Allah swt) tiada bermanfaat amal perbuatannya. Sedangkan hati yang dipenuhi dengan keyakinan, maka Allah swt memberikan manfaat kepada pemiliknya berkat keyakinannya itu. Sebagaimana perhiasan dilebur di dalam api untuk diambil kemurniannya dan dibuang kekotorannya di dalam api yang meleburnya, maka demikianlah Allah swt menerima hati yang yakin dan meninggalkan hati yang ragu.

Ibnu katsir dalam tafsirnya belaiu berkata: Ayat yang mulia ini mengandung dua perumpamaan, satu untuk menggambarkan kekokohan dan keabadian al-haq, dan satu untuk menggambarkan kebinasaan dan kefanaan al bathil.

Dalam ayat diatas juga Allah swt memperumpamakan ilmu dengan air yang turun dari langit. Karena dengan ilmu, hati akan hidup, sebagaimana badan akan hidup dengan air. Dan Allah swt memperumpamakan hati dengan lembah. Karena hati merupakan tempat ilmu, sebagaimana lembah merupakan tempat air. Maka, diantara hati (manusia), ada yang mampu menampung ilmu yang banyak, sebagaimana di antara lembah-lembah ada yang dapat menampung air yang banyak. Dan diantara hati (manusia), ada yang hanya mampu menampung sedikit ilmu, sebagaimana diantara lembah-lembah ada yang hanya dapat menampung sedikit air.

Sedangkan kata buih dalam hadis, Rasulullah saw menjelaskan kepada para sahabatnya tentang kondisi ummatnya suatu masa nanti yang secara jumlah banyak tapi kualitas ummatnya pada masa itu seperti buih di lautan, sebagaimana Rasulullah saw bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745

Dari ayat dan hadis Rasulullah saw diatas, kata buih dimaknai dan diumpakan dengan beberapa kalimat seperti kebatilan, kotoran sisa dari logam yang dipanaskan ketika hendak dibuat perhiasaan, dan dalam hadis kata buih Rasulullah saw umpamakan dengan kondisi ummatnya yang banyak secara jumlah tapi tidak berkualitas, semua itu akan hilang dan tidak akan bermanfaat.

Oleh karena itu mari tingkatkan kualitas diri kita dengan terus belajar agar bertambah ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut agar manusia yang lainnya bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang kita sampaikan dan ajarkan, semakin banyak diri kita bisa memberikan manfaat kepada orang lain maka semakin kekal kehidupan kita.

Referensi:

  1. Mu’jamul ma’ani
  2. Kamus besar bahasa Indonesia
  3. Ibnu Katsir, Tafsîrul Qur’ânil ‘Azhîm (4/447).
BAGI
Artikel SebelumnyaTakdir Ini
Artikel BerikutnyaDalil