Yatim

0
29 views

Secara bahasa yatim berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madhi yatama mudlori’ yaitamu  dan mashdarnya  yatmu yang berarti : sedih atau bermakana : sendiri. Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh. Adapun batasan usia yang masih bisa dikatakan yatim adalah baligh dan dewasa, hal itu berdasarkan firman Allah swt,

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ

Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. (Qs. alAnAm [6]: 152).

Imam Malik dan yang lainnya berkata: Firman Allah swt :” Hingga sampai dewasa” (Qs. alAnAm [6]: 152), maksudnya adalah: Cukup umur dan hilangnya kebodohan serta baligh.

Diperkuat pula oleh sebuah hadis yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seorang disebut yatim, Ibnu Abbas menjawab:

وَكَتَبْتَ تَسْألُنِىْ عَنْ اليَتِيْم مَتَى يَنْقَطِع عَنْهُ اسْمُ اليَتم ، وَإنَّهُ لا يَنْقَطِع عَنْهُ اسْمُ اليَتم حَتَى يَبْلُغَ وَيُؤْنس مِنْهُ رُشْد (رواه مسلم)

Dan kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa (HR. Muslim)

Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Ibunya, dan anak yatim-piatu: anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Kata Yatim didalam al-Qur’an terdapat 23 kata, terdiri dari 8 kata bentuk tunggal/mufrad (Yatim), 1 kata bentuk tasniyah (yatimaini) dan 14 kata bentuk jama’ (yatâmâ). Mengapa Allah swt sering menyebut kata yatim di dalam al-Qur’an? Karena besarnya perhatian Allah swt terhadap anak yatim. Dan hal ini pula, Allah swt memerintahkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa peduli terhadap anak yatim.

Perhatian Islam terhadap anak Yatim

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah menjadi garda terdepan dalam memberikan perhatian, pengurusan dan pengayoman kepada mereka, hal itu tiada lain adalah demi dan untuk kemaslahatan mereka, banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an atau hadis yang mengangkat dan mengupas tema diatas secara mendetail dari mulai balita hingga dewasa, keutamaan mengurus mereka, hak dan kewajiban, tanggung jawab pribadi, masyarakat bahkan Negara.   

Dalam surat al-Ma’un misalnya, Allah swt berfirman:

أَرَأيْتَ الّذِيْ يُكَذِبُ بِالدِّيْن ، فَذَلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْم ، وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْن

“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin(QS. al-Ma’un[107]: 1-3).

Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka
Dalam ayat lain, Allah
swt juga berfirman :

فَأَمَّا الْيَتِيْمَ فَلا تَقْهَر ، وَأمَّا السَّا ئِـلَ فَلا تَنْهَر

“Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap   pengemis janganlah menghardik”.(QS. ad-Dhuha [93]: 9–10).

Sedangkan hadis-hadis Nabi saw yang menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim diantaranya sabda beliau :

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْم فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرج بَيْنَهُمَا شَيْئًا (رواه البخاري)

Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merengganggangkan kedua jarinya. (HR. Bukhari).

Dan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda :

عَنْ ابنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ ” مَنْ قَبَضَ يَتِيْمًا مِنْ بَيْن الْمُسْلِمِيْن إِلَى طَعَامِهِ وَشرَابه أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّة إلا أنْ يَعْمَلَ ذَنْبًا لا يَغْفِرُ لَهُ (سنن الترمذي)

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah swt akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.(HR. Tirmidzi).

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. hadis yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة أنَّ رَجُلا شَكَا إلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَسْوَةَ قَلْبِه فَقَالَ إِمْسَح رَأسَ الْيَتِيْمِ وَأَطْعِم الْمِسْكِيْن (رواه أحمد)

Dari Abu Hurairah, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi saw akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata: usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.    (HR. Ahmad).

Dan hadis dari Abu Umamah yang berbunyi:


عَنْ أبِىْ أُمَامَة عَن النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأسَ يَتِيْم أوْ يَتِيْمَة لَمْ يَمْسَحْهُ إلا لله كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَة مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُه حَسَنَات وَمَنْ أَحْسَنَ إلَى يَتِيْمَة أوْ يَتِيْم عِنْدَهُ كُنْتُ أنَا وَهُوَ فِى الْجَنَّة كَهَاتَيْنِ وَقَرَنَ بَيْنَ أَصبِعَيْهِ (رواه أحمد (

Dari Abu Umamah dari Nabi saw berkata: barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah swt, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan  tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia disurga seperti ini, beliau mensejajarkan dua jari-nya.(HR. Ahmad).

Demikianlah, ajaran Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan kaum muslimin untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. . Kemudian memberi balasan pahala yang besar bagi yang benar-benar menjalankannya, disamping mengancam orang-orang yang apatis akan nasib meraka apalagi semena-mena terhadap harta mereka. Ajaran yang mempunyai nilai sosial tinggi ini, hanya ada didalam Islam. Bukan hanya slogan dan isapan jempol belaka, tapi dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi dan kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan pada jaman Nabi saw dan para Sahabatnya, anak-anak yatim diperlakukan sangat istimewa, kepentingan mereka diutamakan dari pada kepentingan pribadi atau keluarga sendiri. Gambaran tentang hal ini, diantaranya dapat kita lihat dari hadis berikut ini:

عَنْ ابن عَبَّاس قَال لَمَّا أنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَلا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْم إلا بِالتِى هِيَ أحْسَن ) و (إنَّ الذِيْنَ يَأكُلُوْنَ أمْوَالَ اليَتَامَى ظُلْمًا) الأية انْطَلَقَ مَنْ كَانَ عِنْدَه يَتِيْم فَعَزَلَ طَعَامَهُ مِنْ طَعَامِه وَشَرَابَه مِنْ شَرَابِهِ فَجَعَلَ يفضل من طعامه فيحبس له حتى يَأكُلَه أو يُفْسِد فَاشْتَدَّ ذلكَ عَليْهِمْ فَذَكَرُوا ذَلكَ لِرَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فأنزل الله عز وجل (وَيَسْألُوْنَكَ عَنْ اليَتَامَى قل إصْلا حٌ لَهُمْ خَيْر وَإنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَإخْوَانُكُمْ) فَخَلَطُوْا طَعَامَهُمْ بِطَعَامِهِ وَشَرَابَهُمْ بِشَرَابِهِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : ketika Allah swt menurunkan ayat “janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang hak” dan “sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan dzolim” ayat ini berangkat dari keadaan orang-orang yang mengasuh anak yatim, dimana mereka memisahkan makanan mereka dan makanan anak itu, minuman mereka dan minuman anak itu, mereka  mengutamakan makanan anak itu dari pada diri mereka, makanan anak itu diasingkan disuatu tempat sampai dimakannya atau menjadi basi, hal itu sangat berat bagi mereka kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah saw. Lalu Allah swt menurunkan ayat “dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. katakanlah berbuat baik kepada mereka adalah lebih baik, dan jika kalian bercampur dengan mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu” kemudian orang-orang itu menyatukan makanan mereka dengan anak yatim.

Hak-hak anak yatim

Ada beberapa hak anak yatim yang harus kita perhatikan dan penuhi diantaranya:

Pertama, Mengurusi dan menggauli mereka dengan baik, Allah swt berfirman:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ

 

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik dan jika kalian menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu”. (QS. alBaqarah [2]: 220).

Kedua, Menjaga harta mereka hingga baligh, kemudian menyerahkannya ketika mereka sudah mencapai usia nikah atau baligh. Imam Malik dan yang lainnya berkata: Allah swt berfirman:

 

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya, dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan (dan janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara pemelihara itu mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka, dan cukuplah Allah sebagai pengawas (atas persaksian itu)”. (QS. anNisa [4]: 6)

Ancaman bagi orang yang mengabaikan hak-hak anak yatim

Ada beberapa ancaman terhadap mereka yang mengabaikan hak-hak anak Yatim, diantaranya:

Pertama, Orang yang mengabaikan hak-hak anak yatim baik dengan cara menzaliminya atau tidak mengurusinya adalah pendusta terhadap agama, Allah swt berfirman:

 

أرَأيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْن, فَذَلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْم

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim”.(QS. alMaa’un [107]: 1-2).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Menghardik anak yatim adalah dengan cara, memaksanya, menzalimi haknya, tidak memberi makanan dan tidak berbuat baik kepadanya.

Kedua, Orang yang memakan harta anak yatim secara zalim termasuk salah satu dosa besar, Rasulullah saw bersabda:

 

اِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ الْمُوْبِقَات قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ الله وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ, وَالسِّحْرُ, وَقَتْلِ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إلا بِالْحَقِّ, وَأَكْل الرِّبَا, وَأكْل مَال اليَتِيْم, وَالتَوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ, وَقَذْفِ الْمُحْصَنَات الغَافِلات المُؤْمِنَات(رواه البخاري ومسلم)

 “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang menghancurkan (amal sholeh), mereka bertanya: Wahai Rasulullah dosa apakah itu? Beliau menjawab: Mempersekutukan Allah swt, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah swt kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuding zina perempuan mukmin yang terjaga”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zalim adalah bagaikan orang yang menelan api dan Allah swt akan memasukkannya ke dalam neraka, Allah swt berfirman:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

 

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk kedalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. anNisa [4]: 10).