Yang Terpilih

0
76 views

Setiap makhluk yang hidup di dunia ini tidak terlepas dari yang namanya “Seleksi Alam”. Di setiap spesies terdapat persaingan atau kompetisi-kompetisi tersendiri untuk memenangkan ‘sesuatu’ yang direbutkan dalam kompetisi tersebut. Demikian halnya dengan manusia. Setiap manusia apalagi yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini tentu tidak akan lepas dari yang namanya kompetisi.

Kompetisi manusia sebenarnya sudah dimulai sejak kita masih berbentuk sel sperma. Bayangkan dari ribuan atau bahkan jutaan sel sperma yang berkompetisi, hanya ada satu yang bisa memenangkan kompetisi tersebut dan bisa terus tumbuh hingga nantinya menjadi seorang bayi yang lahir dari rahim seorang manusia. Jadi patutnya kita yang sudah terlahir didunia ini bangga dan bersyukur karena telah berhasil melewati salah satu tahap seleksi alam.

Allah mencipta dan memilih yang termulia diantara ciptaan-Nya sekehendak-Nya. Allah Ta’ala berfirman, وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, . .” (QS.Al-Qashash:68). Allah menciptakan manusia, dan memilih para Nabi dan Rasul sebagai manusia termulia. Lalu dari seluruh Nabi dan Rasul yang diutus-Nya, Allah memilih para rasul Ulul Azmi sebagai yang paling mulia. Dari semua nabi dan Rasul Ulul Azmi, Allah pilih nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan Rasul yang paling mulia. Allah juga menciptakan hari-hari sejumlah tujuh hari dalam sepekan. Dari ketujuh hari tersebut Dia memilih Jum’at sebagai hari paling mulia yang merupakan sayyidul ayyam. Demikian pula dengan jumlah bulan dalam setahun ada 12 bulan yang bermula dari Muharram dan berakhir di Dzulhijjah. Dari keduabelas bulan tersebut Allah memilih Asyhurul Hurum dan bulan Ramadhan sebagai bulan termulia.

Dalam Islam kompetisi (dalam bingkai ketaatan kepada Allah Swt) merupakan anjuran dan semangat yang harus terus dijaga dan dipelihara di setiap sisi kehidupan. Fastabiqul khairaat (Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan, al-Baqarah: 148), begitu firman-Nya.

Fastabiqul khairat adalah semangat yang dimiliki orang-orang yang terpilih. Dalam surah Fatir ayat 32, Allah menggambarkan manusia menjadi tiga jenis. “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang mendzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

Karena budaya fastabiqul khairat inilah para sahabat Nabi pantas dikatakan “khairu ummah” atau generasi yang terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan momentum untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Tak rela melepaskan kesempatan untuk mengisi setiap desahan nafas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah bukakan.

Lantas bagaimana dengan kita? Masihkah semangat berkompetisi dalam kebaikan melekat kuat dalam jiwa kita? Apakah perilaku kita mencerminkan keinginan untuk terus melangkah maju meski aral rintangan terus menghadang? Bukankah hadis Nabi mengingatkan bahwa barangsiapa yang hari ini sama kualitasnya dengan hari kemarin termasuk rugi? Apalagi lebih buruk?

Kenyataannya, seringkali kita keasikan berada di zona nyaman, enggan bersusah-susah berhadapan dengan tantangan yang lebih berat. Padahal kalau kita mau berpikir dan bertindak di luar kebiasaan, out of the box, pasti ada solusi yang bisa kita raih. Dengan pengalaman dari tantangan yang lebih berat akan semakin membuat kita tangguh dan cerdas dalam menghadapi problema hidup yang pasti datang dan kian meradang. Terkait ini ada ungkapan menarik, “kalau kita tidak mungkin tertawa dengan lelucon yang sama, apakah kita akan menangis dengan luka yang serupa.”

Seringkali kita merasa baik-baik saja berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan komentator, pengkritik perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Ketika orang lain mengenakan hijab secara sempurna, kita sering mengomentari mereka “Terlalu ekstrimlah, kampunganlah, belum tentu kelakuannya baik” dan sebagainya. Ataupun di saat yang lain rajin shalat berjamaah di masjid, kita berpikir mereka hanya ingin dibilang shaleh padahal belum tentu shalatnya khusyu. Melihat orang lain gemar sedekah, hanya bisa menilai mereka mungkin mencari muka atau ingin dibilang pemurah. Dan di saat yang lain memanjangkan sujudnya, terbersit di hati, mereka hanya ingin dikatakan khusyu’ saja.

Terkadang kita memposisikan diri sebagai komentator dan kritikus tanpa terlibat dalam perlombaan meraih rida Allah. Sebuah peran yang teramat melelahkan, membuang-buang waktu. Padahal sungguh merupakan musibah jika kita kehilangan kesempatan dalam ketaatan kepada Allah, lantas kita tenang-tenang saja. Maka Jangan hanya jadi penonton, mari membangun budaya yang telah lama tertinggal. Budaya fastabiqul khairat. Ibda binafsik, mulailah dari dirimu untuk berbuat baik, saat ini juga. Wallahu a’lam.