Wukuf

0
72 views

Kata wukuf dalam Bahasa Arab berasal dari kata waqafa yaqifu yang mengandung makna berdiri, berhenti, sedangkan secara istilah adalah berdiam diri di padang Arafah sejak mulai tergelincirnya matahari pada tanggal 9 Zulhijjah sampai terbitnya fajar pada tanggal 10 Zulhijjah, ini adalah waktu yang disepakati ulama. Wukuf dalam ibadah haji adalah rukun yang harus dilakukan oleh kaum muslimin yang sedang melaksanakan ibadah haji, dan jika tidak melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah maka tidak sah ibadah hajinya karena tidak bisa diganti dengan Dam dan kafarat yang lainnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِعَرَفَةَ فَسَأَلُوهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى الْحَجُّ عَرَفَةُ مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ  الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ (رواه ابو داود )

Dari Abdurahman bin Yamar ra, bahwa: Manusia dari pendududuk Najed datang kepada Rasulullah saw di Arafah, bertanya kepadanya. Lalu Rasulullah saw menyuruh seseorang berseru: Haji adalah Arafah. barang siapa datang (di Arafah) di malam jama’ (Muzdalifah) sebelum terbit fajar maka ia memperoleh haji.” (HR Abu Dawud).

Hakekat wukuf dalam kehidupan

Wukuf di Arafah adalah sebuah bentuk gambaran ketika manusia berkumpul di Padang Mahsyar nanti, ketika manusia dibangkitkan kembali dari kematian dan berwukuf dihandapan-Nya. Dimana pada saat itu, semua manusia berada dalam kedudukan yang sama di mata Allah swt. Tidak ada perbedaan ras dan kedudukan, yang membedakan hanyalah kualitas dari ketaqwaannya kepada Allah swt.

Perjalanan haji adalah perjalanan menuju Allah swt dan merupakan gerakan abadi yang tidak pernah berhenti. Perjalanan kembali kepada Allah swt terbagi menjadi tiga tahap yaitu Arafah, Masy’ar (Muzdalifah) dan Mina. Arafah berarti pengetahuan dan sains, Masy’ar berarti kesadaran dan pengertian, serta Mina berarti cinta dan keyakinan. Arafah melambangkan awal penciptaan manusia. Adam turun ke bumi karena mengingkari perintah Allah swt dan bertemu dengan Hawa di Jabal Rahmah Arafah. Adam (manusia) memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan, termasuk yang bertentangan dengan kehendak Allah swt, namun bersamaan dengan kebebasan itu memiliki rasa tanggung jawab dan kesadaran. Akibat Surga Adam penuh dengan kepuasan, kenikmatan dan kesenangan dan digantikan dengan dunia yang penuh dengan kebutuhan, ketamakan dan penderitaan. Peralihan “Adam yang berada di surga” menjadi “Adam yang berada di dunia” merupakan pencerminan dari karakter dan tingkah laku manusia bersamaan. Percikan cinta yang pertama kali dalam pertemuan Adam dan hawa menyebabkan mareka saling memahami. Itu pertanda dari pengetahuan pertama tentang jenis kelamin.

Ketika melakukan haji itu gerakan yang pertama bermula di Arafah. Berhenti (wukuf) di Arafah ketika matahari sedang terik-teriknya dimaksudkan agar kita memperoleh kesadaran, wawasan, kemerdekaan, pengetahuan dan cinta di siang hari. Begitu matahari terbenam, maka wukuf di Arafah itupun berakhirlah. Tak sesuatupun dapat terlihat dalam gelap, akibatnya dalam kegelapan tak ada perkenalan dan pengetahuan. Wukuf menggambarkan kehidupan manusia hanya sebentar. Dan kita melanjutkan perjalanan sampai ke Masy’ar atau negeri “kesadaran” lalu berhenti.

Tata cara pelaksanaan wukuf di Arafah

Pertama, jamaah haji hendaknya sudah berada di tempat wukuf yaitu Arafah sejak tergelincirnya matahari atau waktu zuhur kemudian melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar dijama’ kemudian menghadap kiblat, memperbanyak istighfar, berdzikir dan berdo’a baik untuk diri pribadi maupun orang lain, mengenai kepentingan agama atau dunia disertai taqwa dan perhatian penuh, sambil mengangkat kedua tangan. Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : ثُمَّ رَكِبَ حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إلَى الصَّخَرَاتِ، وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ (رواه مسلم)

Dari Jabir ra: Kemudian beliau tiba di tempat wukuf maka perut untanya (al-Qaswa) telah berada ke arah shakharat menghadap kiblat (HR Muslim).”

Al-Shakhrat adalah satu tempat berada di bawah Jabal Rahmah di padang Arafah.

Dan sabdanya pula,

لِمَا رُوِىَ أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (وراه الترمذي

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari ‘Arafah dan sebaik-baik apa yang aku dan para Nabi sebelumku katakan adalah: Tiada Tuhan melainkan Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya lah segala kerajaan dan pujian dan Dialah Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu” (HR. Tirmidzi).

Kedua, Setelah Maghrib, lalu perlahan-lahan meninggalkan padang Arafah menuju ke Muzdalifah dengan tenang dan tentram. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

عن علِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَقَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ فَقَالَ هَذَا الْمَوْقِفُ وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ وَأَفَاضَ حِينَ غَابَتْ الشَّمْسُ (صحيح الترمذي

Dari Ali Bin Abu Thalib ra, Rasulullah saw wuquf di Arafah lalu bersabda: “Ini adalah tempat wuquf, dan semua Arafah adalah tempat wuquf”. Lalu beliau bertolak (meninggalkan Arafah) ketika matahari terbenam (HR. Tirmidzi)

Referensi:

  1. Ibnu Manzhur, Lisanul’arab
  2. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Haji
  3. Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud
  4. Imam Muslim, Shahih Muslim
  5. Muhammad bin Abdul Aziz, Fatwa-fatwa haji dan umroh
BAGI
Artikel SebelumnyaMiqat
Artikel BerikutnyaMereka Tak Merdeka