Wasior dan Palestina

0
10 views

Hari itu awal bulan Juni tahun 1967 pagi hari, langit Mesir dipenuhi deru pesawat perang Israel. Sebuah serangan pagi hari yang mengejutkan. Dengan strategi serangan campuran, pesawat-pesawat Israel mengebom dan memuntahkan tembakan bertubi-tubi ke titik-titik lemah pasukan Mesir. Israel paham betul Angkatan Udara Mesir adalah pasukan termodern dan terbesar di antara Angkatan Udara Arab. Karena itu, pagi-pagi sekali Israel telah melancarkan serangan dengan harapan, Angkata Udara Mesir belum cukup siap. Dan benar. Hanya dalam hitungan hari, lebih dari 300 pesawat Mesir hancur dan sekitar 100 pilot tewas.

Hari yang naas, menyedihkan, memalukan. Wacana pun berubah. Sejak Israel mendirikan negara di tahun 1948, dunia Arab terus terlibat perseteruan dengan Israel. Namun sejak Perang Enam Hari itu, Israel mendapatkan musuh baru, Islam. Ya, Perang Enam hari mengubah segala yang Israel versus Arab menjadi Israel versus Islam. Semua itu terutama karena Masjid Al-Aqsa jatuh ke dalam genggaman Israel. Kalutnya hari-hari itu bahkan sempat memaksa sebagian umat Islam bertanya: “Apakah Tuhan kini sudah lupa pada kita dan lebih mendukung orang-orang Yahudi?”

Kini, tidak terhitung umat Islam di seluruh dunia yang merasa tergerak hatinya jika jerit Palestina memanggil, bukan sekadar itu adalah jeritan kemanusiaan, apalagi bukan karena Arab sedang meradang di hadapan Israel, tetapi karena ini adalah masalah Islam dan umat Islam. Mengapa umat Islam? Dan isteri seorang dai kondang pun berangkat ke sana, karena alasan kemanusiaan dan karena alasan Islam, mungkin juga karena alasan Arab. Atau apapun namanya, yang pasti, suci.

Di sudut dunia yang berbeda, di Wasior, Papua. Tidak terlalu jauh dari Ambon atau Sulawesi. Masih di Indonesia. Bencana kemanusiaan mengamuk. Banjir bandang menerjang. Sebagaimana Perang Enam Hari, banjir bandang itu juga datang diam-diam tapi mematikan di pagi hari saat semua masih lengah dan baru terjaga dari tidur malam. Apakah Wasior juga wilayah jihad? Tentu bukan, mayoritas penduduknya pun—hampir pasti—bukan orang-orang Muslim. Jerit mereka teredam dinding-dinding kedap suara bernama iman, Islam, Muslim, ukhuwwah. Dan karena itu, Waisor tidak penting dibanding Palestina, Israel, dan Yarussalem.

Di sebuah masjid besar di Jakarta, di kawasan Thamrin, di kompleks perkantoran sebuah bank raksasa, seorang khatib Jumat pernah berteriak: “Tidakkah kita pernah sadar bahwa bencana-bencana yang sering terjadi di Indonesia, negara yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam, adalah karena kita tidak cukup memperhatikan nasib saudara-saudara kita di Palestina?”

Wow, ada Palestina di bencana-bencana Indonesia. Karena yang berteriak adalah seorang khatib terkenal, dengan penampilan khas orang-orang shalih, dan berbicara atas nama ayat-ayat suci, maka mungkin saja dia benar. Tapi, Wasior bagaimana? Adakah dia tumbal bagi kecuekan sebagian Muslim Indonesia atas persoalan Palestina?

Wasior bagaimana? Bagaimana iman, jihad, dan kemanusiaan berbicara tentangnya? Iman sering tuli pada urusan-urusan tertentu dan sering sangat peka dengar untuk urusan-urusan tertentu.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi