Wasiat Nabi

0
24 views

Nasihat, pesan, wejangan, bahkan wasiat dari orang yang baik merupakan sesuatu yang amat kita butuhkan agar perjalanan hidup yang kita lalui berlangsung dengan baik, memberi makna yang positif sehingga orang lain merasakan manfaat dari keberadaan kita. Karena para sahabat seringsekali meminta nasihat kepada Rasulullah saw, salah satunya tergambar dalam hadits berikut:

 

وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ,   فَقُلَنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةٌ مَوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا.قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ  

Rasulullah saw memberikan wejangan kepada kami dengan wejangan yang membuat hati menjadi takut dan mata menangis. Maka kami berkata: “Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, maka berwasiatlah kepada kami”. Beliau bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati walaupun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa diantara kalian berumur panjang maka dia akan melihat banyak perselisihan, maka berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah ajaran agama yang dibuat-buat karena semua bid’ah adalah kesesatan” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Dari hadits di atas, terdapat empat wasiat penting dari Rasulullah saw untuk kita laksanakan dengan sebaik-baiknya dalam sisa kehidupan kita di dunia ini.

1.    Bertaqwa Kepada Allah

www.travelswithsheila.comSecara harfiyah, taqwa artinya memelihara diri. Orang yang bertaqwa adalah orang yang memelihara dirinya dari hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah swt. Karena itu, para ulama memberikan ta’rif atau pengertian taqwa, yakni: melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya baik dalam keadaan sunyi maupun ramai. Ini berarti bertaqwa itu bukan hanya melaksanakan perintah Allah tanpa meninggalkan larangan-Nya, juga bukan hanya meninggalkan larangan-Nya tanpa melaksanakan perintah-Nya serta harus kita tunjukkan dimanapun kita berada dan dalam keadaan bagaimanapun situasi serta kondisinya.

Kehidupan umat manusia baru terwujud menjadi kehidupan yang baik, yakni kehidupan yang bermartabat, meskipun secara teknologi sangat sederhana  manakala manusia bertaqwa kepada Allah swt. Namun, meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi canggih telah dicapai oleh manusia, kehidupan dengan martabat yang rendah bahkan lebih rendah dari binatang ternak akan kita alami bila tidak bertaqwa kepada Allah swt. Oleh karena itu, ketaqwaan kepada Allah swt menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga para khatib di hari Jum’at selalu membacakan ayat: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah (QS Ali Imran/3:102).

Apabila seseorang sudah bertaqwa dengan sebenar-benarnya, maka Allah swt menyediakan surga untuk tempat tinggal mereka sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Ali Imran/3:133).

Oleh karena begitu penting taqwa, maka Rasulullah saw menjadikannya sebagai salah satu wasiat penting yang harus kita wujudkan dalam kehidupan kita masing-masing.

2.    Mentaati Pemimpin Yang Benar

Pemimpin amat kita butuhkan dalam kehidupan bersama, ketika seseorang melakukan perjalanan bersama orang lain, maka harus ditetapkan siapa yang menjadi pemimpin dalam perjalanan. Selain itu, meskipun orang sudah berkumpul dalam masjid untuk shalat berjamaah, mereka tidak bisa disebut shalat berjamaah bila tidak ada yang berperan sebagai imam. Namun yang kita dambakan adalah pemimpin sejati yakni pemimpin yang memiliki komitmen keimanan yang kuat, memiliki tauhid yang mantap kepada Allah swt sehingga ia memimpin untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan. Pemimpin seperti inilah yang harus kita taati meskipun secara fisik tidak tampan, hal ini diterangkan  dalam satu hadits yang berbunyi:

اِسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَهُ

Dengarkan dan patuhilah (pemimpinmu) meskipun yang memerintah itu seorang budak bangsa Habsyi yang kepalanya seperti anggur kering (selama ia menegakkan kitabullah) (HR. Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah).

Namun bila pemimpin yang kita anggap baik ternyata memerintahkan kemaksiatan, tidak ada keharusan bagi umat untuk mentaatinya, bahkan harus ditentang karena setiap kemaksiatan atau kemunkaran harus diberantas. Rasul saw bersabda:

عَلَى الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا اَحَبَّ وَكَرِهَ اِلاَّ اَنْ يُّؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَاِنْ اُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَسَمْعَ وَلاَطَاعَةَ

Kewajiban taat dan patuh bagi seorang muslim (terhadap pemimpinnya) itu dalam hal yang disukai maupun yang tidak disukai selama tidak diperintah berbuat maksiat. Jika ia disuruh berbuat maksiat, maka ia tidak perlu mendengar dan tidak perlu taat (HR. Muslim).

3.    Berpegang Kepada Sunnah

Kepada umatnya, Rasulullah saw tidak mewariskan harta yang banyak, tapi yang beliau wariskan adalah Al-Qur’an dan sunnah. Karena itu, kaum muslimin yang berakhlak baik kepadanya akan selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah agar tidak sesat dan waspada terhadap kemungkinan dilakukannya bid’ah atau sesuatu yang diada-adakan dalam perkara ubudiyah padahal pada masa Rasul tidak ada, beliau bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ تَمَسَّكُوْبِهَاوَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ    

Sesungguhnya siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu, kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

Di dalam hadits yang lain, beliau juga bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى (رواه أبو داود)

Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengannya, yaitu: kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnahku (HR. Hakim).

4.    Meninggalkan Bid’ah

Secara harfiyah, bid’ah adalah suatu hal baru yang diciptakan tanpa ada contohnya. Ini berarti dari segi bahasa, segala hal yang bersifat atau model baru dan tidak ada contoh sebelumnya disebut dengan bid’ah. Perbuatan memprodukdi televisi, radio, telpon, pesawat terbang, pengeras suara dan sebagainya disebut dengan bid’ah dari sisi bahasa.

Dalam tinjauan syariat (agama) Islam, bid’ah adalah segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama tanpa ada dasar syari’atnya, yakni tanpa dasar Al-Qur’an dan Al Hadits (Sunnah). Karena itu dalam perkaran peribadatan yang tidak ada landasannya, maka hal itu adalah bid’ah yang harus dijauhi, namun perkara tradisi yang bukan ibadat meskipun ada hubungannya dengan ibadat maka hal itu tidak termasuk bid’ah seperti khutbah Jumat berbahasa selain Arab, adzan menggunakan pengeras suara, ceramah sebelum atau sesudah tarawih dll.  Perbuatan yang tidak ada landasannya harus kita jauhi karena memang hal itu tidak diterima oleh Allah swt sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah saw:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang perbuatan kami tidak begitu, maka ia tertolak (HR. Muslim).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa setiap pesan dan wasiat Rasulullah saw memang amat penting bagi kita, karenanya harus kita kaji lagi wasiat-wasiat beliau lainnya.

By Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaLupa dan Melupakan
Artikel BerikutnyaYang Dibenci