Warming UP

0
124 views

Istilah warming up (pemanasan) sudah tak asing lagi di telinga kita. Warming up lebih popular di kalangan olahragawan sebagai gerakan persiapan untuk menghindari kram otot diantaranya, sehingga tujuan sehat bisa tercapai secara optimal karena dilakukan secara sistematis dengan tahapan yang benar. Namun demikian istilah itu tidak hanya penting dilakukan pada saat berolahraga saja.

Dalam tehnik komunikasi lisan atau tulisan contohnya, ada istilah yang semakna dengan warming up seperti pendahuluan, kata pengantar, dasar pemikiran dsb yang mengantarkan pembicaraan atau pembahasan ke isi/pokok pembahasannya. Dalam pergaulan kehidupan sehari-hari pun demikian. Ketika hendak menyampaikan pesan tentu lebih indah kalau ada “basa-basi” sehingga inti pembicaraan terasa halus menelusup sisi emosi pendengar beda dengan cara “to the point”.

Dalam surah al-Baqarah ayat 148 kita diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairaat. Kalau dikaitkan dengan ajang perlombaan maka Ramadhan adalah puncak perlombaan ibadah tersebut untuk meraih medali taqwa. Untuk selalu tune on dalam ibadah Ramadhan tidaklah mudah, Ramadhan bukan sehari dua hari dan kita diharapkan untuk meningkat terus tempo dan level ibadah kita hingga puncaknya di 10 hari terakhir.

Bisa dipastikan kita tidak akan sanggup untuk menyibukkan diri beribadah selama Ramadhan kalau tanpa pemanasan. Bisa dibayangkan mobil semewah apa pun dengan mesin kualitas super kalau tidak pernah dipakai dan sekalinya mau dipake langsung tancap gas pasti mogok. Belum lagi tantangan dan godaan dari luar. Karena bukan hanya Allah yang memberikan obral pahala tapi juga mall-mall, produsen barang-barang branded dsb. Belum lagi kegiatan khas ramadhan yang mencuri perhatian dan konsentrasi.

Ibadah Ramadhan akan terasa ringan kalau sudah dibiasakan jauh-jauh hari. Pemanasan itu penting dan semangat ibadah pada 1 ramadhan bisa dikatakan terlambat. Para ulama dan salafusshaleh terbiasa mempersiapkan Ramadhan dengan giat melakukan amalan ibadah di bulan Rajab dan Sya’ban. Memperbanyak dzikir doa, baca Quran, shalat malam, bersedekah, saling memaafkan, menjauhi syirik adalah diantara bentuk amalan persiapan yang harus dimulai sejak awal.

Dalam hal ini, Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan, “Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.”

Selain memperbanyak ibadah, di bulan Sya’ban Rasulullah Saw menganjurkan umatnya untuk membersihkan hati dari perbuatan syirik dan benih-benih kebencian kepada orang lain, “Sesungguhnya Allah muncul di malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin (bermusuhan).”

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita mulai giatkan amal ibadah kita, menjauhi segala bentuk kesyirikan dan permusuhan sehingga pada saat Ramadhan datang kita sudah dalam kondisi “on fire” siap jiwa raga sepenuh hati untuk mereguk indahnya khusyu dalam ibadah Ramadhan dan hati kita semakin peka dan peduli terhadap kesulitan yang orang lain rasakan karena sejatinya seorang muslim adalah yang seimbang antara hablun minallaah dan hablun minannaas. Alhasil, modal spiritual warming up sepanjang rajab dan syaban menjadi bekal warming up (pemanasan) yang sangat penting dalam menghadapi Ramadhan, bulan penggemblengan dan pelatihan untuk kembali menjadi manusia yang suci bersih. Wallahu Alam.

BAGI
Artikel SebelumnyaRamadhan Kita
Artikel BerikutnyaKomoditas Suci