Warisan Nabi

0
53 views

nabimuhammad.infoKetika disebut kata warisan, bayangan di benak manusia pada umumnya adalah harta berlimpah yang akan diperolehnya, padahal tidak selalu demikian. Ada warisan yang lebih penting dan abadi untuk kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Dalam suatu hadis, sahabat Abu Hurairah ra menyebutkan warisan Nabi saw yang amat penting  untuk kita simak.

 

أَنَّهُ مَرَّ بسُوْقِ الْمَدِيْنَةِ فَوَقَفَ عَلَيْهَا فَقَالَ: يَا أَهْلَ السُّوْقِ! مَا أَعْجَزَكُمْ! قَالُوْا: وَمَا ذَاكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟. قَالَ: ذَاكَ مِيْرَاثُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْسَمُ, وَأَنْتُمْ هَاهُنَا, أَلاَّ تَذْهَبُوْنَ فَتَأْخُذُوْنَ نَصِيْبَكُمْ مِنْهُ؟. قَالُوْا: وَأَيْنَ هُوَ؟. قَالَ: فِى الْمَسْجِدِ, فَخَرَجُوْا سِرَاعًا, وَوَقَفَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ لَهُمْ حَتَّى رَجَعُوْا, فَقَالَ لَهُمْ, مَا لَكُمْ؟  فَقَالُوْا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَدْ أَتَيْنَا الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فِيْهِ فَلَمْ نَرَ فِيْهِ شَيْئًا يُقْسَمُ! فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةُ: وَمَا رَأَيْتُمْ فِى الْمَسْجِدِ أَحَدًا؟. قَالُوْا: بَلَى رَأَيْنَا قَوْمًا يُصَلُّوْنَ وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنُ وَ قَوْمًا يَتَذَاكَرُوْنَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ, فَقَالَ لَهُمْ أَبُوْ هُرَيْرَةُ: وَيَحْكُمْ, فَذَاكَ مِيْرَاثُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.       

Bahwa dia melewati pasar Madinah, lalu dia berhenti disana dan berkata: ‘Wahai penghuni pasar, betapa lemahnya kalian”. Mereka bertanya: “apa maksudmu wahai Abu Hurairah?”. Abu Hurairah menjawab: “itu warisan Rasulullah saw sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian darinya?”. Mereka bertanya: ”dimana?”. Abu Hurairah menjawab: ”di masjid”. Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Abu Hurairah bertanya: ”Ada apa dengan kalian?”. Mereka menjawab: Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi”. Abu Hurairah bertanya: ”Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?”. Mereka menjawab: ”Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an dan orang yang mempelajari halal dan haram”. Abu Hurairah berkata: ”Celaka kalian, itulah warisan Muhammad saw” (HR. Thabrani). 

Dari hadis di atas, ada tiga warisan Nabi untuk kita sebagai umatnya yang bila kita pelihara, niscaya akan bahagia kehidupan kita di dunia dan akhirat.

1.    Shalat.

Salah satu ibadah yang pokok bagi setiap hamba Allah swt adalah shalat, karena itu ibadah ini tidak hanya ada pada syariat Nabi Muhammad saw, tapi pada Nabi-Nabi sebelum beliau juga sudah ada perintah shalat, ini menunjukkan betapa pentingnya shalat bagi manusia. Itu pula sebabnya tidak ada alasan bagi setiap muslim untuk tidak melaksanakannya, karena memang tata cara shalat sudah diatur sedemikian rupa untuk berbagai situasi dan kondisi yang dialami manusia, baik dalam situasi normal maupun tidak, sehat maupun sakit. Oleh karena itu, shalat sering disebut sebagai tiang agama yang bila seseorang meninggalkan shalat, maka runtuhlah keagamaan dirinya, bukan Islam jadi runtuh karena kita tidak shalat, tapi keislaman kita yang runtuh bila kita tidak melaksanakannya, inilah warisan Nabi yang tidak boleh diabaikan.

Apabila seorang muslim telah melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya dalam arti shalat dengan ketentuan hukum dan sedapat mungkin dilakukan dengan konsentrasi hati dan pikiran yang penuh, maka dia akan menjadi orang yang memperoleh ampunan dari Allah swt, Rasulullah saw bersabda:

 

 إِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَغَ قَلْبَهُ ِللهِ إِلاَّ انْصَرَفَ مِنْ خَطِيْئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ ولَدَتْهُ أُمُّهُ.

“Jika ia berdiri untuk melakukan shalat, bertahmid kepada Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, dengan yang paling layak untuk-Nya, mengosongkan hati hanya untuk Allah semata, maka seluruh dosanya akan keluar seperti hari pertama kali ia dilahirkan dari rahim ibunya” (Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).

Antusias seorang muslim untuk melaksanakan shalat membuatnya berusaha untuk menunggu waktu shalat sehingga ia tidak tertinggal dalam shalat berjamaah. Karenanya menunggu shalat memiliki nilai keutamaan yang besar dengan dihitung sebagai shalat sehingga bila shalat dilakukan selama 7 menit dan menunggunya selama 13 menit, maka ia dianggap shalat selama 20 menit. Rasulullah saw bersabda:

 

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَادَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ

Selalu seseorang teranggap dalam shalat selama tertahan oleh menantikan shalat, tiada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya hanya semata-mata karena menantikan shalat (HR. Bukhari dan Muslim).

2.    Membaca Al-Qur’an.

AlQur’an merupakan petunjuk hidup bagi manusia, karenanya sadar atau tidak, manusia sangat membutuhkan kitab yang suci itu. Untuk itu, manusia harus memahami Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Manakala manusia mau belajar dan mengajar Al-Qur’an, hal ini merupakan suatu keberuntungan yang besar, karena dari proses belajar mengajar Al-Qur’an itulah manusia dapat memahami Al-Qur’an untuk selanjutnya bisa hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Disamping harus mempelajari kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, belajar Al-Qur’an juga berarti mempelajari makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Manakala seorang muslim sudah mempelajari Al-Qur’an dengan berbagai pendekatan di atas dan ia berusaha mengamalkan pesan-pesan dan petunjuk yang terdapat di dalamnya, maka selanjutnya ia juga harus harus mengajarkannya kepada orang lain, maka iapun menjadi manusia yang terbaik dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah Saw bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu, membaca dan mengkaji Al-Qur’an serta menjadikannya sebagai pedoman yang harus dipegang teguh menjadi warisan Nabi agar manusia tidak tersesat dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dalam hadits lain, beliau bersabda:

 

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِى

Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh dengannya, yaitu: kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnahku (HR. Hakim).

3.    Memahami Halal dan Haram.   

Halal dan haram merupakan salah satu prinsip hukum yang amat penting dan mendasar bagi kaum muslimin. Oleh karena itu siapapun tidak boleh mengubah-ubah hukum agar yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal, termasuk Nabi Muhammad saw. Karena itu, Rasulullah saw pernah ditegur dengan keras oleh Allah swt ketika bermaksud mengharamkan madu hanya karena tidak ingin mengecewakan isterinya yang bernama Hafsah, hal ini dinyatakan dalam firman Allah swt: Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS At Tahrim [66]:1).

Manakala seorang muslim telah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram serta tunduk pada ketentuan itu dalam menjalani kehidupannya, maka ia dijamin bisa masuk surga, hal ini ditegaskan dalam satu hadits:

 

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوْبَاتِ وَصُمْتُ رَمَضَانَ وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا أَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: نَعَمْ

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah saw seraya berkata: ”Bagaimana penilaianmu jika aku telah mengerjakan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya dengan sesuatupun, adakah aku bisa masuk surga?”. Jawab beliau: ”Ya” (HR. Muslim).

Dengan demikian, bila warisan berupa harta kita berusaha memperoleh bahkan memperebutkannya, padahal jumlahnya tidak seberapa banyak, maka warisan Nabi berupa mendirikan shalat, mengkaji Al-Qur’an dan tidak mengabaikan halal dan haram semestinya lebih besar perhatian kita kepadanya.

BAGI
Artikel SebelumnyaKeperawanan dan Keikhlasan
Artikel BerikutnyaNuansa Ibadah Haji