Waktu, Kehidupan, dan Kesempatan

0
32 views

Oleh Ikah Rohilah, M. Si.

“Hari ini adalah awal yang baru.
Tuhan telah memberi saya hari ini untuk saya gunakan sebaik mungkin.
Saya bisa menyia-nyiakan waktu saya atau menggunakannya untuk kebaikan.
Apa yang saya lakukan hari ini penting karena saya menukarkan 1 hari hidup saya untuk hal tersebut.
Jika esok tiba, hari ini akan hilang selamanya, meninggalkan sesuatu di dalamnya sesuatu yang telah saya lakukan.
Saya ingin meraih sesuatu pada hari itu, bukan kehilangan sesuatu; kebaikan bukan keburukan; kesuksesan bukan kegagalan; agar saya tidak menyesali harga yang saya bayar untuk memperolehnya.”

Manusia hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Ruang, tempat dimana ia berada; waktu, saat kapan ia berada. Bernilai tidaknya kehidupan manusia bukan tergantung pada kapan dan dimana ia berada, tapi sedang apa ia pada saat itu di suatu tempat tertentu. Setiap hari manusia menghabiskan waktu yang sama, 24 jam sehari semalam, tapi pada nyatanya manusia melakukan beragam aktifitas yang berbeda. Ada yang mengisi waktunya dengan bermain berhura-hura tanpa tujuan tertentu seperti anak-anak; Atau  melengahkan  sesuatu  yang lebih  penting  seperti  sebagian  remaja;  sekadar mengisinya dengan bersolek seperti sementara wanita; atau menumpuk  harta benda dengan menghabiskan waktunya untuk bekerja mencari nafkah pergi pagi pulang malam dan memperbanyak  anak  dengan tujuan berbangga-bangga seperti halnya dilakukan banyak orangtua.

Hidup adalah pilihan. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang berakal akan diminta pertanggungjawaban atas pilihannya tersebut. “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari). Kegiatan hari ini mementukan kualitas hidup manusia esok hari. Dalam kamus sejarah, tidak ada orang hebat yang melewati hari-harinya tanpa perjuangan, keuletan dan kegigihan.  Pengorbanan yang kadang memeras peluh, menguras air mata atau bahkan membahayakan keselamatan dirinya. Tak ada gelar pahlawan yang disematkan pada orang yang leha-leha, apatis, dan suka hura-hura. Demi kebahagiaan dan kesuksesan anaknya, seorang ibu rela menunda kata ‘lelah’, ia selalu berusaha bekerja keras membanting tulang demi anaknya tercinta, rela tidak makan asal anaknya makan, sanggup menahan rasa kantuknya untuk bekerja sampai larut malam atau berdoa dalam kekhusyuan shalat malam demi keselamatan, kebahagiaan dan kesuksesan sang buah hati. Semuanya dia lakukan karena dia mempunyai tujuan hidup yang harus diperjuangkan. Ulama besar masa silam pasti dikenal selama hidupnya ia selalu mengisi harinya dengan semangat berkarya dan beribadah, dan hanya punya sedikit waktu untuk makan, tidur, dan bersenang-senang.

Kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya tapi merupakan buah kerja keras dan usaha yang konsisten. Semangat yang tinggi biasanya lahir dari orang yang mempunyai target dan tujuan hidup yang jelas, mempunyai keasadaran tentang arti kehidupannya; bahwa hidup ini sementara, hidup ini ibadah, hidup ini ladang amal, dsb.

Hidup ini misteri dan penuh rahasia. Pengetahuan manusia sangat terbatas akan hal-hal yang bisa ditangkap oleh indra. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang; berapa banyak rejeki yang akan kita peroleh; siapa pasangan hidup kita; apa yang ada dalam janin seorang ibu, dokter bisa memprediksi tapi hakikat sebenarnya hanya Allah yang tahu; berapa lama kita akan hidup, di mana akan mati, dalam keadaan dan dengan cara apa kita akan meninggalkan dunia fana ini, tidak ada seorang pun yang tahu.

Lalu apa sebenarnya arti hidup itu sendiri? Sebagian manusia menyangka bahwa hidup ini hanya satu kali dan setelah itu mati ditelan bumi. Mereka meragukan dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kembali setelah mati (QS An-Naml: 67). Dalam Islam diyakini bahwa manusia mengalami hidup dua kali dan mati dua kali, sebagaimana firman Allah Swt.: \”Mereka menjawab: \”Ya Tuhan Kami Engkau telah mematikan Kami dua kali dan telah menghidupkan Kami dua kali (pula), lalu Kami mengakui dosa-dosa kami. Maka Adakah sesuatu jalan (bagi Kami) untuk keluar (dari neraka)?\” (QS. al-Mu\’min: 11). Adh Dhahak berkata dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya : اثْنَتَيْنِوَأَحْيَيْتَنَااثْنَتَيْنِأَمَتَّنَارَبَّنَا, dia (Ibnu Abbas) berkata, ”Kalian hanyalah tanah sebelum Allah swt menciptakan kalian, ini adalah kematian lalu Allah Swt menghidupkan dan menciptakan kalian maka ini adalah kehidupan lalu Allah Swt mematikan kalian maka kalian kembali ke kuburan maka ini adalah kematian yang lainnya lalu Allah Swt membangkitkan kalian pada hari kiamat maka inilah kehidupan yang lain. Sehingga kematiannya dua kali dan kehidupannya dua kali.”

Jadi dalam Islam yang namanya hidup bukan hanya secara fisik masih ada tanda-tanda kehidupan: bernafas, jantung berdetak, urat nadi berdenyut, angota tubuh bergerak, darah mengalir dsb. Tetapi juga menjelaskan makna hidup yang hakiki melalui perbandingan dua ayat yang sangat kontras, seperti dicontohkan di dalam al-Quran.

Pertama, Seorang yang telah mati menurut mata lahir kita, bahkan telah terkubur ribuan tahun, jasadnya telah habis dimakan cacing dan belatung lalu kembali menjadi tanah, namanya sudah hampir dilupakan orang. Tetapi yang mengherankan, Allah Swt memandangnya masih hidup dan mendapat rezeki di sisi-Nya serta melarang kepada kita menyebut mati kepada orang tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam (QS. Ali-Imran: 169). \”Janganlah kalian menyangka orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati, bahkan mereka itu hidup dan mendapat rezeki di sisi Allah.\”

Kedua, Sebaliknya ada orang yang masih hidup menurut mata lahir kita, masih segar-bugar, masih bernapas, jantungnya masih berdetak, darahnya masih mengalir, matanya masih berkedip, tetapi justru Allah menganggapnya tidak ada dan telah mati, seperti disebutkan dalam firmannya \”Tidak sama orang yang hidup dengan orang yang sudah mati. Sesungguhnya Allah SWT mendengar orang yang dikehendaki-Nya, sedangkan kamu tidak bisa menjadikan orang-orang yang di dalam kubur bisa mendengar,\” (QS. al-Fathir: 22). Pada awal ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang hatinya hidup karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengetahui al-Qur’an dan isinya, tiada sama dengan orang yang mati hatinya, akibat kekafiran yang menutupi hatinya, sehingga tidak mau mengetahui perintah dan larangan Allah, tidak dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan.

Itu adalah perumpamaan bagi orang-orang mukmin dan bagi orang-orang kafir. Maksud ayat ini menjelaskan Nabi Muhammad tidak bisa memberi petunjuk kepada orang-orang musyrikin yang telah mati hatinya. Jadi orang musyrik yang mati hatinya sama dengan orang mati meskipun masih hidup. Faktor keimanan juga berperan dalam kebermaknaan hidup seseorang, tanpanya hidupnya sia-sia belaka.

Tentunya kita tidak ingin hidup kita yang hanya sekali sia-sia bukan? Kita tidak mengharapkan kehidupan kita tak berarti dan hanya menjadi debu yang akan hilang ditelan angin sejarah. Apalagi disebut sudah mati padahal masih berperan sebagai salah satu aktor panggung sandiwara ini, naudzubillah….Tetaplah BERTAQWA dan SELAMAT BERKARYA!

BAGI
Artikel SebelumnyaSebab Azab Kubur
Artikel BerikutnyaBohong