Wahyu

0
51 views

Secara etimologi wahyu merupakan bentuk mashdar yang berasal dari akar kata wâw, hâ’ dan yâ’. Makna awal dari kata wahy adalah “isyarat yang cepat”, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Menurut para ulama seperti Ar-Raghib menuliskan, “Wahyu adalah sebuah petunjuk yang sangat cepat. Wahyu terkadang dengan perkataan simbolik, terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah sebagian anggota badan, dan terkadang dengan tulisan.” Menurut Ibnu Atsir, “Kata wahyu dalam hadis sering dimaknakan sebagai tulisan, isyarat, risalah, ilham dan bisikan.” Sedangkan menurut Thaba-thabai, “Wahyu ialah suatu isyarat dan petunjuk yang cepat.” Dan penulis tafsir Ruhul al-Bayan mengatakan, “Makna inti wahyu ialah isyarat yang cepat, sesuatu dikatakan sebagai wahyu karena terlaksana dengan cepat, wahyu adalah pemahaman itu sendiri, memahamkan itu sendiri, dan yang dipahami itu sendiri.”

Secara istilah, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah swt kepada para nabi-Nya dan para rasul-Nya tentang syari’at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka, baik dengan perantara atau tanpa perantara. Wahyu secara istilah ini jelas lebih khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau dari sumbernya, sasarannya maupun isinya.
Wahyu dalam Al-Quran

Kata Wahyu dan derivasinya disebutkan 78 kali dalam al-Quran dan seluruhnya memiliki makna yang berbeda-beda, sebagai berikut:

Pertama, Insting dan fitrah

Allah swt berfirman,

قال تعالى:   وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ  

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon dan tempa-tempat yang dibuat manusia.”(QS. An-Nahl: [16] 68).  

Kedua, Sunnatullah dan Hukum Alam

Allah berfirman,

 

قال تعالى:   ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعاً أَوْ كَرْهاً قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (11) فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (12)

“Kemudian Dia menuju pada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ” datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “kami datang dengan suka hati.” Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.(QS. Fushilat:[41] 11-12).

Tuhan menciptakan bumi, langit, dan alam materi sesuai dengan  “sunnah” dan hukum sebab-akibat (kausalitas). Dan alam semesta tersebut berjalan sesusai dengan “sunnah”. Alam semesta memiliki hukum dan “sunnah” tersendiri dan diatur sesuai dengan “sunnah” tersebut. “Sunnah” tersebut berasal dari Tuhan dan berjalan sesuai dengan perintah-Nya. Jadi yang dimaksud dengan wahyu Ilahi dalam ayat tersebut yaitu sunnatullah dan hukum alam.

Ketiga, Ilham, bisikan, dan  inspirasi ke dalam hati

Al-Quran dalam masalah ibu Nabi Musa As mengatakan,

 

قال تعالى:   إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى ( 38 ) أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي ( 39 )

“Yaitu ketika kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan yaitu letakkanlah ia (Musa) di dalam peti kemudian lemparkanlah ia kesungai Nil maka pasti sungai itu membawanya ke tepi supaya di ambil oleh musuh-Ku.”(QS. Thaha:[20] 38-39).

Dalam ayat lain dikatakan,

 

قال تعالى:   وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخَافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ” susukanlah dia apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai Nil dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati karena sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.”(QS. Qashash:[28] 7).

Penerima wahyu pada kedua ayat tersebut adalah ibu nabi Musa as, dan sudah tak bisa dipungkir bahwa wahyu tersebut bukanlah wahyu yang diterima para nabi as tetapi satu bentuk pemberian pemahaman secara sembunyi, ilham, inspirasi dan bisikan ke dalam hati baik dalam tidur maupun ketika terjaga.

Keempat, Isyarah

Allah swt berfirman,

 

قال تعالى:   قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزًا وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيراً وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإِبْكَارِ  

“Zakaria berkata: ya Tuhanku berilah aku suatu tanda Allah berfirman  tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapaat bercakap-ccakap dengan manusia selama tiga malam padahal kamu sehat. maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu ia memberi isyaraat kepadamereka hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam:[19] 10-11).

Kelima, Wahyu kepada hawariyyun (pengikut khusus Nabi Isa as)

Allah swt berfirman,

 

قال تعالى:   وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ ﴿١١١﴾

“Dan ingatlah ketika Aku ilhamkan kepada pengikut nabi isa as yang setia: ” berimanlah kamu kepada-KU dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab : ” kami telah beriman dan saksikanlah wahai rasul bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” (QS. al-Maidah:[5]111).

Keenam, Wahyu kepada Malaikat

Allah swt berfirman,

قال تعالى:   إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلآئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرَّعْبَ فَاضْرِبُواْ فَوْقَ الأَعْنَاقِ وَاضْرِبُواْ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ  

“Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman”.  kelak akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir maka penggallah kepala mereka dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS. al-Anfal:[8]12).

Ketujuh, Wahyu dari Setan

Allah swt berfirman,

قال تعالى:   وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ  

, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am: [6]121)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman,

 

قال تعالى:   وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ  

“Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin sebagian dari mereka membisikkan atas sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu, jikalau Allahmu menghendaki niscaya mereka tidak megerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: [6]112).

Kedelapan, Wahyu kepada Para Nabi

Sekalipun dalam al-Quran kata wahyu digunakan untuk selain para nabi sebagaimana telah kami sebutkan, akan tetapi mayoritas kata wahyu tersebut digunakan untuk para nabi. Sebagai contoh, Allah swt berfirman,

قال تعالى:   إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (163)

“Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah berikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah berikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-anak cucunya. Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. an-Nisa:[4]163).

Dan dalam surah Yusuf Allah swt berfirman,

قال تعالى:   نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ القَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا القُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الغَافِلِينَ  

“Dan kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al quran kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukannya) adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”(QS. Yusuf:[12] 3).

Macam-macam dan bentuk wahyu
Pertama,
Taklimullah (Allah swt berbicara langsung) kepada Nabi-Nya dari belakang hijab. Yaitu Allah swt menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur.
Sebagai contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah swt berbicara langsung dengan Musa as, dan juga dengan Nabi Muhammad saw pada peristiwa isra’ dan mi’raj. Allah swt berfirman tentang nabi Musa:


قال تعالى:   ….. وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  

” …Dan Allah swt telah berbicara kepada Musa dengan langsung“(QS. An-Nisaa`:[4] 164).
Adapun contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadis dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabal. Rasulullah saw bersabda :

أَتَانِي رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ رَبِّ لَا أَدْرِي فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ فَوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَعَلِمْتُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ …


“Aku didatangi (dalam mimpi) oleh Rabb-ku dalam bentuk terbaik, lalu Dia berfirman: “Wahai, Muhammad!” Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika.”
Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?” Aku menjawab,”Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu,” lalu Dia meletakkan tangan-Nya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di dadaku. Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan barat. Allah swt berfirman,”Wahai, Muhammad!” Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika!” Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?” Aku menjawab,”………”.

Dalam hal wahyu ini, para ulama salaf, Ahli Sunnah wal Jama’ah memegangi pendapat, bahwa Nabi Musa as dan Nabi Muhammad saw, keduanya pernah mendengar kalamullah al azaliy al qadim, yang merupakan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah swt.
Kedua, Allah swt menyampaikan risalah-Nya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara, yaitu:

Pertama, Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali. Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al ‘Alaq diturunkan, lalu Nabi saw tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah saw melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah saw dimi’rajkan.
Kedua, Malaikat Jibril as terkadang datang kepada Nabi saw dalam wujud seorang lelaki. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Ketiga, Malaikat Jibril mendatangi Nabi saw, namun ia tidak terlihat. Nabi saw mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah saw, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah saw berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau saw bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah saw berubah secara mendadak.
Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit ra, dia berkata : “Allah swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw, sementara itu paha beliau saw sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau saw menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur”.(HR. Bukhari).
Ketiga, Wahyu disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu.
Yaitu Allah swt atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi saw disertai pemberitahuan bahwa, ini merupakan dari Allah swt. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al Qana’ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah saw bersabda :


إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي : لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُنَالُ مَاعِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : “Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah swt menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah swt. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah swt tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaati-Nya”.
Keempat,
Wahyu diberikan Allah swt dalam bentuk ilham.
Yaitu Allah swt memberikan ilmu kepada Nabi saw, saat beliau berijtihad pada suatu masalah.
Kelima, Wahyu diturunkan melalui mimpi.
Yaitu Allah swt terkadang memberikan wahyu kepada para nabi-Nya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim as agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diceritakan oleh Allah swt:

قال تعالى:   فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ  

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. ash Shaffat: [37] 102).
Demikian cara-cara penerimaan wahyu Allah swt yang diberikan kepada Rasulullah saw. Semua jenis wahyu ini dibarengi dengan keyakinan dari si penerima wahyu, bahwa apa yang diterima tersebut benar-benar datang dari Allah swt, bukan bisikan jiwa, apalagi tipu daya setan.

 

Referensi :

  1. An-Nihayah, jilid 5, hal. 143.
  2. Tashhihul ‘Itiqad, hal. 120.
  3. Al-Mizan, jilid 18, 76.
  4. Ruhul Bayan, jilid 8, hal. 344.