Urgensi Al-Qur’an dan Al-Hadits Bagi Umat Manusia

0
19 views

Tujuh tahun sesudah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Abdurrahman baru masuk Islam. Karena itu, amat wajar bila ia merasa tertinggal menjadi muslim bila dibandingkan dengan para sahabat lainnya, apalagi sejarah mencatat bahwa Rasul wafat pada tahun ke sebelas hijrah sehingga efektifitas bersama Nabi tidak sampai empat tahun.

i160.photobucket.comUpaya yang dilakukan Abdurrahman untuk mengejar ketertinggalan dalam memahami AlQur’an dan AlHadits adalah belajar kepada Rasulullah saw secara langsung. Karenanya sebagian besar waktunya dihabiskan bersama beliau, kemana beliau pergi ia mengikutinya dan dimana Rasul berada ia ada di sisinya. Ini membuatnya cepat menguasai dua sumber ajaran Islam itu, bahkan melebihi sahabat-sahabat lain yang sudah lebih dahulu masuk Islam, apalagi kelebihannya adalah daya rekam atas apa yang disampaikan oleh Nabi yang membuatnya bisa menyampaikan lagi kepada sahabat yang lain.

Karena itu, sahabat Abdurrahman menjadi salah seorang yang paling banyak meriwayatkan hadits sehingga kita akan selalu menemui namanya ketika membaca kitab-kitab hadits, meskipun bukan nama Abdurrahman, tapi Abu Hurairah yang artinya bapak kucing karena ia punya kucing kesayangan yang selalu dibawanya kemana pergi dan bila ia tidak mau membawa kucing, justeru kucing itu yang mengikutinya.

Dari kisah di atas, dapat kita sadari betapa penting AlQur’an AlHadits dalam kehidupan kita. Kehidupan umat manusia di dunia ini disebut sebagai perjalanan, perjalanan menuju akhirat dan kelak bisa berjumpa dengan Allah swt. Sebagaimana umumnya perjalanan dalam kehidupan sehari-hari menuju daerah yang kita tuju, maka yang kita perlukan adalah petunjuk jalan agar kita tidak salah arah. Begitu pula dalam kehidupan kita du dunia yang sedang kita tempuh menuju akhirat.

AlQur’an merupakan kitab suci yang berisi petunjuk untuk kehidupan umat manusia di dunia ini. Dengan petunjuk AlQur’an, kehidupan manusia akan berjalan dengan baik, manakala mereka memiliki problema, maka problema itu dapat terpecahkan sehingga ibarat penyakit akan ditemukan obatnya. Sebaliknya, tanpa petunjuk AlQur’an kehidupan manusia menjadi semraut, problematika hidup yang selalu bermunculan tidak mampu dipecahkan dan diatasi oleh manusia, apalagi bila satu masalah belum terselesaikan sudah muncul lagi masalah yang lebih rumit. Akibatnya, begitu banyak manusia yang putus asa dalam menghadapi masalah dan ini tercermin pada sikap menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan hingga bunuh diri yang kasusnya semakin banyak.

Sebagai petunjuk, AlQur’an tidak selalu mengutarakan segala sesuatu secara detail, karenanya diperlukan penjelasan, baik dari AlQur’an itu sendiri maupun dengan hadits-hadits dari Rasulullah saw, Allah swt berfirman: (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (QS Al Baqarah/2:185).

Sebagai sumber hukum dan ajaran yang kedua, AlHadits amat dibutuhkan oleh kita semua, apalagi salah satu fungsinya adalah bayan (penjelas) atas AlQur’an sehingga apa-apa yang digariskan di dalam AlQur’an dapat kita laksanakan secara teknis dalam kehidupan sehari-hari.

Secara harfiyah, hadits adalah berita atau khabar. Karena itu dapat kita simpulkan bahwa hadits adalah informasi tentang perkataan, perbuatan dan diamnya Nabi. Istilah yang sering terkait dengan hadits adalah sunnah yang menurut bahasa adalah Tharîqah dan Sîrah yang berarti jalan, perjalanan hidup, atau jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak. Menurut M.T. Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik. Dalam konteks ilmu hadits, sunnah adalah kebiasaan Nabi, sedangkan hadits adalah informasi tentang kebiasaan atau prilaku nabi.

Kedudukan Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak perlu lagi dipersoalkan pentingnya, karenanya hingga hari ini sampai kiamat nanti kita amat memerlukannya sehingga menjadi kajian dan pelajaran yang selalu aktual sepanjang zaman, bahkan kalau Al-Qur’an dan Al-Hadits itu mau kita samakan dengan buku-buku lain dari sisi penjualan, maka keduanya adalah buku yang paling laris, bahkan di negara-negara barat dalam sepuluh tahun terakhir ini, Al-Qur’an menjadi “buku terlaris” yang tidak hanya dibeli oleh kalangan muslim tapi juga non muslim, inilah pusaka Nabi saw yang abadi sebagai sabdanya: Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepadanya, yaitu: kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah (HR. Muslim).

Dengan selalu berpedoman kepada keduanya, kita akan memahami halal dan haram yang merupakan salah satu warisan Nabi. Suatu ketika, Abu Hurairah datang ke pasar dan berkata: “Wahai penghuni pasar, betapa lemahnya kalian”. Mereka bertanya: “Apa maksudmu wahai Abu Hurairah?”. Abu Hurairah menjawab: “Itu warisan Rasulullah saw sedang dibagikan sementara kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana untuk mengambil jatah kalian darinya?”. Mereka bertanya: ”Di mana?”. Abu Hurairah menjawab: ”Di masjid”. Maka mereka keluar dengan cepat. Abu Hurairah berdiri menjaga barang mereka sampai mereka kembali. Abu Hurairah bertanya: ”Ada apa dengan kalian?”. Mereka menjawab: Wahai Abu Hurairah, kami telah datang ke masjid, kami masuk ke dalamnya tapi tidak ada yang dibagi”. Abu Hurairah bertanya: ”Apa kalian tidak melihat seseorang di masjid?”. Mereka menjawab: ”Kami melihat orang-orang yang shalat, membaca Al-Qur’an dan orang yang mempelajari halal dan haram”. Abu Hurairah berkata: ”Celaka kaliam, itulah warisan Muhammad saw” (HR. Thabrani). 

Menyadari betapa penting untuk selalu berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka kita akan selalu berinteraksi dengan memperkokoh keyakinan kepadanya, membaca, memahami hingga mengamalkan dan mendakwahkannya[]

By Drs. H. Ahmad Yani