Undangan Umrah

0
41 views

Kamis, 4-14 Juni 2015 saya berangkat umrah atas undangan Kedutaan Saudi Arabia di Jakarta. Kumpul di Kedutaan Saudi Arabia di Jl. Rasuna Said Jakarta untuk selanjutnya terbang dengan Pesawat Saudia sekitar jam 15.30 WIB. Pemerintah saudi mengundang tokoh dari berbagai kalangan di Tanah Air untuk umrah. Saya sendiri dihubungi sekitar dua pekan sebelumnya oleh Sekjen PP DMI (Dewan Masjid Indonesia). Setelah kumpul jam 10 untuk registrasi dan pengarahan, ternyata rombongan terdiri dari 70 orang tokoh dari berbagai kalangan mulai dari Lembaga Pemerintah, ormas Islam, perguruan tinggi, Pesantren dan ulama/ustadz dari beberapa daerah hingga ada kepala suku dari Fakfak, Wamena dan Raja Ampat Papua. Duta Besar Arab Saudi Syaikh Mustafa Ibrahim Al Mubarak mengabsen semua jamaah dan berkenalan. Beliau mengatakan sejak dari sini anda telah menjadi tamu Khadimul Haramain, baru sekarang ada tamu kerajaan untuk umrah untuk 1000 orang dari berbagai negara, karena selama ini tamu untuk haji. Berikut beberapa catatan saya untuk anda.

1.  Dekat Masjid

Setelah menempuh penerbangan sekitar 9 jam, tepat pukul 22.30 waktu Saudi, pesawat mendarat dengan selamat di Bandara King Abdul Aziz Madinah. Suhu udara malam itu dikabarkan mencapai 40 derajat. Setelah proses imigrasi dan pengambilan bagasi, jamaah dipersilahkan naik dua bus no 5 dan 6. Setiba di Hotel Grand Mercure yang berjarak 50 m dari Pagar Masjid Nabawi, kami disambut ramah oleh panitia dengan pakaian resmi gamis warna putih dan sorban merah. Teh, kopi dan kurma telah disediakan untuk menyambut tamu kerajaan di loby hotel.

Setelah melewati tiga hari di Madinah, rombongan kami berangkat untuk melaksanakan ibadah umrah ke Makkah dan tiba di Makkah, penyambutan yang sama dilakukan oleh panitia di Hotel Anjum yang berjarak sekitar 100 meter dari pintu masjid Al Haram, bahkan bila pembangunan masjid Al Haram sudah selesai, jarak hotel ini lebih dengan lagi karena hanya melewati jalan raya.

Para jamaah, khususnya dari Asia Tenggara bertemu di dua hotel ini di Madinah dan Makkah, selain pengarahan dari panitia, ceramah disampaikan juga oleh Imam Masjid Nabawi dan Imam Masjid Al Haram. Di Aula Masjid Nabawi, rombongan juga diberi penjelasan tentang masjid Nabawi dan mengunjungi ruang museumnya. Selain itu, beberapa tempat ziarah kami kunjungi seperti tempat pencetakan Al Quran yang sejak berdirinya telah menerbitkan 150 juta eksamplar yang dibagikan secara gratis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Termasuk yang dicetak adalah Al Quran Braille untuk tunanetra. Tempat lain adalah Gunung dan Makam syuhada Uhud serta masjid Quba, masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah saw.

2.  PAHALA YG BERAT:

Pahala shalat di Masjid Nabawi berlipat hingga 1000 kali bila dibanding di masjid lain. Sedangkan di masjid Al Haram hingga 100.000 kali, begitu disebutkan dalam hadits Rasulullah saw. Sehabis shalat dari subuh sampai isya, ada saja pelaksanaan shalat jenazah. Pahala shalat jenazah sebesar gunung uhud, gunung batu yang tentu saja berat bila ditimbang, apalagi seorang Ustadz di Masjid Nabawi menyebutkan bahwa gunung uhud itu panjangnya 8 km dan lebarnya 3 km dan tingginya 1,5 km. Itu artinya 5 kali shalat bila diikuti shalat jenazah akan diperoleh lima ribu pahala sebesar gunung uhud. Di masjid Al Haram masih dikali 100.000. Ini adalah salah satu keutamaan yang harus diraih bila ke Makkah dan Madinah. Tapi, meski begitu banyak dan besar, dalam urusan pahala, tetap saja kita tidak boleh merasa sudah banyak, karena memang kita harus terus memperbanyaknya.

3.  Bagai Api Unggun

Panas terik yang menyengat kulit terasa betul di Makkah, apalagi bila pergi ke Masjid Al Haram dan pulang ke hotel saat zuhr, panasnya antara 47 sampai 51 derajat. Jangankan zuhr, ashar saja masih terasa begitu panas. Malampun 36 derajat. Tempat kami menginap di Hotel Anjum yang sekitar 100 m dari pintu masjid membuat kami cepat sampai dengan jalan kaki, bagaimana pula bila jamaah yang jaraknya 500 m hingga 2 km?. Kalau boleh saya bayangkan, bila kita menyalakan api unggun yang membesar, terasa panasnya karena jarak kita yang cuma 1 m dari api, maka kitapun mundur meski berada di daerah yang dingin. Di Makkah, rasa api unggun itu terus saja saat berada di luar ruangan, ketika sudah sampai masjid, baru terasa sejuknya dari AC dan kipas angin. Panas terik yang istilah orang Betawi bilang pleng-plengan itu akan terus sampai Ramadhan karena memang masih musim panas. Udara yang panas masih ditambah dengan debu yang beterbangan dari renovasi masjid dan hotel-hotel di sekitarnya. Meski begitu, tetap tidak menyurutkan jamaah untuk memadati Masjid Al Haram, bahkan ada yang shalat di halaman luar meski panas dan berdebu. Semangat shalat jamaah di masjid ini seharusnya terus terbawa sampai kampung halaman, inilah syiarnya masjid.

4.  Ternyata Ada Yang Sejuk.

Yang tidak kami sangka dalam undangan Umrah dari Raja Saudi adalah diajak berkunjung ke Daerah Thaif. Masih ingat kan sejarah Nabi dakwah ke Thaif bukan disambut tapi malah disambit dengan batu. Gunung-gunungbatu dan krikilnya yang tajam begitu banyak. Meski tidak persis di lokasi dimana Nabi disambit itu, tapi kunjungan ke Thaif ini sangat berkesan. Lokasinya namanya Thaif Sama (Thaif Yang Tinggi). Ini adalah lokasi wisata kolam renang yang semuanya lelaki. Pengunjung para pemuda, remaja dan anak-anak Arab nampak begitu senang bermain air, begitu juga dengan Gokard yang naik ke gunung dan turun lagi. Banyak juga diantara kami yang mencobanya.

Hal yang berkesan adalah naik kereta gantung selama 35 menit dengan posisi naik melewati sejumlah gunung sehingga kami bisa melihat-lihat gunung bebatuan dari atasnya yang hanya sedikit sekali mengalirkan air dengan sedikit pohon-pohon kecil yang sudah kering. Jalan raya yang berkelok-kelok dengan kendaraan yang ramai nampak menjadi pemandangan yang indah dari ketinggian, bahkan ada jamaah yang takut kalau jatuh. Setelah kereta tiba di puncak, kami dipersilahkan turun untuk melihat pemandangan yang indah dari ketinggian. Ada beberapa gedung yang indah dan pemandangan yang menarik. Ternyata di tempat ini udaranya sejuk bagai di Cisarua Puncak Bogor. Bisa jadi tidak ada travel haji/umroh yang ziarah ke Thaif ini. Perjalananbus ditempuh sekitar 1,5 jam melewati Mina, Muzdalifah dan Arafah dengan kondisi jalan tol gratis yang lancar. Di lokasi ini terdapat juga Teater terbuka (tanpa atap) dan panitia melangsungkan acara seremonial perpisahan untuk tamu raja dari Asia Tenggara. Selain sambutan ada juga game dan penampilan dari masing-masing  utusan negara. Acara diakhiri dengan makan malam dan kembali ke Makkah.

5.  Wudhu Pakai Zamzam.

Setiap jamaah haji/umrah merasa tidak afdhal bila tidak bawa pulang air zamzam meski sedikit. Di halaman masjid Nabawi saya saksikan ada jamaah Indonesia ditegur oleh petugas kebersihan yang berseragam biru, dari wajahnya nampak ia asal Banglades. Kenapa ditegur, karena jamaah kita itu berwudhu dengan menggunakan air zamzam. Memang banyak disediakan zamzam itu, tapi buat minum, bukan buat wudhu. “Kalau wudhu di toilet sana” katanya.

6.  HARTONO DAN KRIS MUHAMMAD

Saya berjumpa Hartono di Masjid Al Haram menjelang shalat Isya senin 8 Juni.  Siapa dia?. Asalnya dari Yogya, tapi tinggal di daerah transmigrasi di Kayu Agung Sumatera Selatan. Orang tuanya memang bertransmigrasi sekian puluh tahun lalu. Saya duga ia jamaah umrah, makanya saya tanya: “sudah berapa hari di sini?.” Jawabnya: “Baru 5 bulan.”

Saya tanya lagi: “Kerja?.”

Jawabnya: “Ya.”

“Kerja apa,” tanya saya lagi.

Jawabnya: “Kerja bangunan di masjid ini, terutama pasang marmer.”

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa targetnya sebenarnya tidak semata-mata dapat kerja dan uang, tapi mau ibadah umrah dan haji. Kalau daftar haji kan lama dapat gilirannya, tapi dengan cara ini insya Allah saya bisa haji tahun ini. Ia memperoleh upah kerja sebesar 1.500 real/bulan sudah termasuk uang makan. Tapi iapun mengatakan bisa mencapai 3.000 real dengan lemburannya. Bila 1 real Rp 3.500, maka ia mendapat minimal Rp 10 jt. Selamat kepada Hartono, kerja bisa, uang dapat, pahala ibadah di masjid al Haram sangat banyak. Di Anjum Hotel, saya juga berjumpa dengan Kris Muhammad, pemuda asal Bandung yang bekerja di Hotel Bintang 5 ini, saat merapikan kamar, saya tanya apakah dia kuliah di perhotelan, dia bilang kursus saja setahun lalu kerja disini dengan gaji lumayan 2.500 real bersih. Dia bandingkan dengan hotel lain, pekerja disini digaji lebih bagus, dia bilang ada 60 orang Indonesia yang bekerja di hotel ini.

Ketika dalam penerbangan pulang ke Jakarta sayapun duduk disamping seorang bapak yang juga bekerja di Saudi Arabia sebagai sopir di Perusahaan Minyak.  Ketika saya tanya gajinya berapa dia bilang 3.000, ditambah lembur bisa sampai 5.000 real. Sedangkan selama Ramadhan dan Idul Fitri ia mengambil cuti, tiket pesawat ditanggung perusahaannya.

Pembangunan masjid Al Haram dan hotel-hotel sekitarnya yang masih terus berlangsung membuat kita harus maklum terhadap pengurangan kuota haji, karena memang daya tampungnya tidak memungkinkan untuk sekitar 3 juta orang. Sekarang saja dengan jamaah umrah yang datang silih berganti masjid Nabawi dan Al Haram sudah terasa sesak.

Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaSahur
Artikel BerikutnyaBersegera Dalam Empat Kebaikan