Ummatan Wasaţan

0
86 views

Oleh Dr. Muhiddin Bakry, Lc., M. Fil. I (Alumni Ponpes DDI Mangkoso)

Islam adalah ajaran yang mengajarkan tentang wasaţiah (moderat). Hal ini telah tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]:143. Pada ayat tersebut terdapat kata ummatan wasaţan artinya umat pertengahan (yang adil dan pilihan). Adapun maksud dari ayat ini, bahwa umat Rasulullah Saw akan menjadi saksi pada hari kiamat tentang penyangkalan umat nabi Nuh As yang mengatakan bahwa: tidak ada seorang pun yang datang menyeru kepada kami. Kemudian Allah Swt mengatakan kepada nabi Nuh As, siapa yang bersaksi untukmu? Nuh menjawab: Muhammad dan umatnya. Demikianlah maksud dari ayat wa kaźālika ja’alnākum ummatan waşaţan li takūnū syuhadā ala nnāsi. Maksud dari ayat tersebut dapat dilihat dalam śahih Bukhāri oleh Muhammad bin Ismail al-Bukhāri (W. 256 H) (hadis 3113).

Dr. Yusuf al-Qarđāwī mengatakan bahwa pengertian wasaţiah (moderat) juga sinonim dengan kata tawāzun (keseimbangan) atau i’tidāl (moderasi). Kesemuanya berarti menyeimbangkan antara dua sisi yang sama atau yang berbeda, sehingga tidak memberi kesan berat sebelah dan mengucilkan yang lainnya. Kedua sisi tersebut, haknya harus sama. Dua sisi itu dalam ajaran Islam tampak terjadi keseimbangan antara sisi ketuhanan (rabbāniyah) dan kemanusiaan (insāniyah), antara spiritual (rūhiyah) dan material (maddiyah), antara ukhrāwiyah dan dunyawiyah, antara wahyu dan akal, antara realitas dan idealis, antara individual dan masyarakat, dan seterusnya. (Qarđāwī, al-khaşāiş al-ammah lil Islām).

Posisi Islam sebagai poros tengah pada hakikatnya berada pada dua sisi dari umat-umat terdahulu dalam masalah agama dan keyakinan, yaitu antara umat yang berlebihan (gulūw) seperti umat Nasrani yang berlebihan kepada nabi mereka sampai menuhankannya, dan umat yang meremehkan (tasāhul) seperti umat Yahudi yang bersikap kasar kepada nabi mereka. Umat Islam sebagai ummatan wasaţan (umat yang moderat) senantiasa menyeimbangkan dua posisi dan berpegang teguh pada prinsip baina al-ifrāţ wa al-tafrīţ (tidak melampaui batas dan tidak kurang dari batas) dalam segala hal. Sehingga pada akhirnya Rasulullah pun akan menyaksikan persaksian umatnya bahwa mereka benar-benar mendapatkan risalah dari Rasulullah Saw. Sebagaimana lanjutan dari ayat di atas wa yakūna Rasūlu alaikum syahīdan (dan Rasulullah menjadi saksi atas perbuatan kalian yaitu umatnya).

Akhirnya, pada kata ummatan wasaţan dari ayat di atas, dapat kita tarik benang merah bahwa sikap keberagamaan di Indonesia dalam hal ini sudah menjalankan sistem moderasi Islam yang dicita-citakan dalam al-Qur’an dalam berbagai lini kehidupan, seperti keseimbangan antara rabbāniyah (ketuhanan) dan insāniyah (kemanusiaan). Dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara pada sila pertama dalam pancasila menjelaskan sisi moderasi Islam yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”. Pada hakikatnya, semua bangsa yang berkecimpung dalam NKRI meski berbeda keyakinan tidak ada yang merasa dirugikan dengan sila tersebut. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan satu bangsa yang sarat dengan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu). Salah satu faktor penting terbentuknya bangsa Indonesia yaitu, adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangsa.  Sebagaimana Rasulullah Saw membuat perjanjian (waśiqah) atau yang dikenal dengan Piagam Madinah (şahifah Madinah) sebagai wujud persatuan masyarakat Madinah. Baik sesama muslim, maupun non muslim. Semoga NKRI menjadi baldatun ţayyibatun wa rabbun gafūr []

(Artikel di atas dimuat dalam harianamanah.id tanggal Selasa 16 Mei 2017)

BAGI
Artikel SebelumnyaSaran untuk Pengurus Masjid (2)
Artikel BerikutnyaModerasi