Umar: Pahlawan Hijrah

0
42 views

Untuk menulis esai, editorial, atau bahkan sebuah buku tentang seseorang bukanlah hal yang mustahil. Cukup dibutuhkan beberapa informasi dasar tentang orang itu, hidupnya, perbuatannya, ideologinya, dan pendapat orang lain kepadanya. Hal itu berlaku bagi sebagian besar orang-orang yang biasa kita jumpai setiap hari di mana pun. Tapi hal itu tidak berlaku untuk menulis kepribadian seperti `Umar bin Al-Khattab.

Anda mungkin tidak percaya jika saya mengatakan bahwa untuk menulis tentang `Umar bagi saya adalah mimpi seumur hidup. Bahkan sebuah harapan jika Allah memberi saya seorang anak laki-laki, saya pasti akan menamainya: `Umar. Saya merasa seperti ada semacam keintiman antara saya dan dia (sebagian diri saya, tentu saja!). Kadang-kadang saya membayangkan diri hidup pada zaman Nabi saw. bersama para sahabat yang mulia. Siapa di antara para sahabat yang akan saya ingin menjadi dirinya? `Umar adalah pilihan pertama saya. Ini bukan untuk meremehkan sahabat-sahabat terhormat lain. Namun, seperti yang baru saja saya sebutkan, saya merasa bahwa saya ingin menjadi seperti dia dalam keberanian, kekuatan, keteguhan, keadilan, kemurahan hati, kesopanan, dll.

Ketika saya membaca tentang kekuatannya, maka seolah-olah saya menyaksikannya melatih anak-anak muda Mekah binaraga dengan mengangkat batu-batu dan karang di pegunungan. Ketika saya mendengar tentang keteguhan dan ketetapan hatinya, seolah-olah saya menyaksikannya meminta Nabi untuk mengutus `Abbad bin Bisyr untuk membunuh seseorang yang pernah menyinggung Allah dan Rasul-Nya. Ketika saya diberitahu tentang keberaniannya, seolah-olah saya menyaksikan dia menantang seluruh suku Quraisy ketika ia memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Ketika saya membaca tentang kematiannya, saya merasa seolah-olah saya sendiri berdarah; seolah-olah saya orang yang ditikam belati lewat tangan kotor Abu Lu’lu’ah.

Ada banyak riwayat yang berbicara tentang pujian tinggi Nabi saw. terhadap `Umar. Berhubungan dengan visi yang dilihatnya, Nabi berkata bahwa ia belum pernah melihat seorang jenius seperti `Umar. Ini berarti bahwa `Umar dianggap oleh Nabi seorang yang unik yang bisa melakukan hal-hal yang tidak dapat ditiru oleh orang lain tidak peduli seberapa keras mereka mencoba.

Sejarah membuktikan perbuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan oleh `Umar, baik segera setelah memeluk Islam atau melalui karirnya sebagai Amirul Mukminin. Hanya Nabi saw. yang mampu menggali secara mendalam hati orang-orangnya untuk mengetahui dengan intuisi kesetiaan dan inspirasi, serta kualitas orang-orang di sekelilingnya dan karakteristik inheren mereka. Melalui kemampuan itu, Nabi tahu orang-orang yang pas untuk situasi tertentu, pekerjaan yang cocok untuk masing-masing orang, orang-orang yang diingat untuk sebuah kejadian, dan kapan harus mengabaikan dan tidak mengacuhkan seseorang.

Dalam kerangka yang seperti itu, sejumlah riwayat sampai kepada kita yang berbicara tentang penilaian Nabi terhadap `Umar.

Sebelum masuk Islamnya `Umar, Nabi tercatat pernah berdoa: “Ya Allah! Memuliakan agama-Mu dengan (masuk Islamnya) `Umar.”

Ada juga banyak hadis yang berbicara tentang penghargaan tinggi para sahabat Nabi untuk `Umar. `Abdullah bin Mas` ud berkata, “Masuk Islamnya `Umar merupakan kemenangan, hijrahnya adalah kemenangan, kekhalifahannya adalah berkah, dan saya telah menyaksikan kita tidak pernah dapat berdoa di Ka`bah sampai `Umar masuk Islam.”

Selain itu, komentar `Ali bin Abi Thalib tentang hijrahnya `Umar tertulis dalam tinta emas sejarah:

Aku tidak pernah tahu siapa pun, kecuali hijrah diam-diam selain `Umar, karena ia, ketika memutuskan untuk hijrah, di bahunya tersandang pedang dan di tangannya tergenggam busur dan anak panah, pergi ke Ka`bah, di mana ada empat serangkai kepala suku Quraisy, mengelilinginya tujuh kali, lalu shalat dua rak`at di Maqam Ibrahim, kemudian mendatangi para pemimpin Quraisy itu satu demi satu dan berkata,”Semoga wajah-wajah kalian membusuk! Jika ada yang ingin agar ibunya berduka atas kematiannya dan anaknya dibiarkan yatim piatu serta istrinya menjadi janda, biarkan dia temui aku di belakang lembah ini.” Tetapi tak seorang pun mengikutinya.

Sementara hampir semua umat Islam lainnya meninggalkan Mekah secara diam-diam, `Umar secara terbuka menyatakan bahwa akan hijrah ke Madinah. Dia bahkan menantang suku Quraisy bahwa jika ada salah satu dari mereka punya keberanian untuk menghentikannya, ia boleh saja mengadu kekuatan dengan dia. Tidak ada satu pun anggota Quraisy memiliki keberanian untuk mencegah dia dari apa yang hendak dia lakukan, dan tidak ada yang menerima tantangan untuk dual pedang dengannya.

Sesungguhnya, kematian adalah lebih menyenangkan daripada hidup dalam keadaan pengecut dan kehinaan! Keberanian apa jika tidak berani mati ketika panggilan untuk itu datang? Dan siapakah yang lebih berani daripada mereka yang percaya bahwa dia berada di pihak yang benar? Bahkan sekarang Anda dapat mendengarkan `Umar seolah-olah ia berkata “Mati dalam kebenaran adalah lebih baik daripada hidup dalam kepalsuan. Keberanian dianjurkan, sikap pengecut menjijikkan, dan kepalsuan rentan menghilang!”

`Umar tetap hidup sederhana sampai ia bertemu dengan kematiannya. Salah satu teman-temannya mengenang suatu hari tentang `Umar, “Ketika ia berjalan, ia melakukannya dengan cepat seperti sedang merebut tempat; ketika ia berbicara, ia cukup keras untuk didengar, dan ketika dia memukul, itu akan menyakitkan.” Dia adalah seorang pria yang hidup dalam misi dan tindakan. Dia meninggalkan warisan yang layak ditiru, tapi pada saat yang sama, tidak mudah diikuti.

(Ditulis oleh Ali Al-Halawani. Ia adalah Managing Editor of the Syari’ah Department (Eng.). Dia lulus dari Universitas Al-Azhar dan mendapatkan gelar MA dari Fakultas Bahasa Universitas Al-Minia. Kadang-kadang dia menulis untuk www.islamOnline.net. Anda dapat menghubunginya di ali.halawani@iolteam.com)

Sumber: http://www.islamonline.net/English/NewHijriYear/HijrahHeroes/01a.shtml